Rabu, 16 Maret 2011

Lesson Learn dari Gempa dan tsunami Sendai, Jepang

Tidak ada gambar terkirim karena mengerikan…

Tidak ada gambar terkirim karena menakutkan…

Tidak ada gambar terkirim karena menyayat perasaan….

Tidak ada gambar terkirim karena menyedihkan bagi yang kehilangan…

Tidak ada gambar terkirim karena suatu ironi….

Tidak ada gambar terkirim karena itu tragedi kemanusiaan….

Tidak ada decak kekaguman, keanehan atas ironi dan tragedi….

Yang ada hanyalah kenyataan

Yang ada ternyata “ada” yang lebih “Berkuasa”

Yang tiada adalah kita semua, bersama dengan kesombongan, keserakahan dan rasa congkak,

Akankah kita melupakan semua gambar dalam benak kita semua?

Menangis, meratap tetaplah tidak mengubah semuanya

Aceh, Pangandaran, Sipora-Pagai dan Sendai, lalu?................



Sedikit berbagi di bawah ini untuk kita semua


Di Kashiwa, Chiba di Kampus Atmosphere and Oceanography Research Institute, Univ of Tokyo. Pada hari Rabu, 9 Maret 2011. Pukul 11.45. 13,97, di lantai 7, gempa dirasakan cukup kuat selama 1,5menit. Saya tersadar dan berfikir harus melakukan apa. Akan tetapi tidak ada satupun rekan2 Jepang melakukan pergerakan, panik berteriak atau apapun walau di sekitar ruangan kerja saya banyak ibu-ibu staf kantor, mahasiswi dan staf pengajar perempuan. Kemudian saya tengok ke jendela, di lapangan juga tidak ada orang berkerumun. Gengsi juga ya, akhirnya saya tidak melakukan evakuasi. Sorenya saya tanya pada rekan2 Jepang, kenapa tidak ada evakuasi pada saat gempa kuat dirasakan? Jawabannya sederhana, gedungnya kuat kok dan tidak ada perintah evakuasi. Wah, mereka percaya gedungnya tidak akan runtuh.



Pelajaran 1:

# tetap tenang, tidak panik pada saat terjadi gempa

# sangat percaya bahwa bangunan yang mereka tempati sesuai dengan persyaratan tahan gempa dengan kekuatan tertentu



Malamnya saya menonton televisi yang memperlihatkan kegiatan warga kawasan pantai melakukan evakuasi menuju kearah perbukitan, anak2 SD didampingi guru-gurunya, begitu pula para orangtua dan warga lainnya. Mereka berdiam ditempat penampungan, diberi sedikit makanan. Sementara sirine terdengar dimana-mana



Pelajaran 2:

# evakuasi menjadi kebutuhan dan mudah dilaksanakan bila sering dilatihkan

#tempat penampungan bukan merupakan bangunan khusus, tetapi runagan umum yang lapang dan sudah disiapkan



Hari Kamis, 10 Maret 2011. Sebanyak 20 peneliti gempa dan kelautan berkumpul di Kashiwa, Chiba , Jepang. Peneliti Indonesia antara lain 7 datang dari Bandung dan Jakarta, 1 dari Hokaido dan 2 dari Nagoya dan 1 dari Paris. Peneliti lainnya datang dari USA, Perancis dan Jerman dan sisanya tentu saja dari Jepang. Seminar fokus membicarakan sumber utama gempa dan tsunami Aceh dan kemungkinan terjadinya gempa besar lainnya di kawasan barat Sumatra. Hari pertama seminar lancar, debat dan diskusi sampai sore hari. Hari kedua, 11 Maret seminar dilanjutkan. Pembicara pertama pada sesi setelah makan siang berakhir, pembicara kedua pada 14.45 sedang menyiapkan proyektor dijital. Tiba-tiba, gedung digoyang lemah, semua tersenyum, saling berpandangan, semakin kuat pada setengah menit kedua. Mulai bimbang, dilanjutkan atau lari. Akhirnya, setelah menit kedua, goyangan gempa semakin kuat, semua lari dari lantai dua, meninggalkan semua peralatan kerja, menuruni gedung melalui tangga menju halaman kantor. Lift otomatis tidak difungsikan. Beberapa menit kemudian, semuanya telah berkumpul di lapangan parkir. Tiang-tiang lampu penerangan atau tanaman bergetar keras dan bergoyang sampai sekitar 10-20Cm. Sebagian dari kami duduk di lapangan karena getarannya kuat sekali. Telepon tidak berfungsi pada saat tersebut.



Pelajaran 3:

#Sekalipun tahu pemahaman dasar penyelamatan diri dilakukan setelah gempa reda, untuk ukuran gempa kuat berlangsung lebih dari satu menit dan sedang berada di gedung tinggi, secara psikologi massa semua pemahaman evakuasi tidak berlaku. Tersisa dalam benak adalah: lari

#seperempatjam berikutnya, baru muncul penghuni gedung lainnya yang mungkin menerapkan pemahaman berevakuasi setelah getaran gempa berakhir.

#Jepang memiliki jaringan komunikasi telepon modern, akan tetapi tetap saja terjadi gangguan jaringan, bisa karena kerusakan infrastruktur atau terjadi panggilan telepon luar biasa. Artinya, jaringan HP sebagai alat warning justru tidak berfungsi pada 10-20 menit pertama.

#tidak terlihat kepanikan, histeri atau tangisan dari warga Jepang. Semua tenang dan tidak banyak bicara. Pertanyaan: apakah ini karena latihan rutin atau memang sikap dasar? Suasana ini tentu saja membawa penagaruh positif.



Gempa terus bergetar selama lebih dari 30 menit. Datang kemudian instruksi untuk menjauhi gedung serta kami diperintahkan berkumpul berdasarkan kelompok masing-masing dan mendata bilamana masih ada yang belum melakukan evakuasi. Beberapa staf memakai helm dan identitas pada lengan memberikan beberapa petunjuk dalam, tentu saja bahasa jepang. Setelah diterjemahkan, baru dipahami. Suhu dingin di luar serta angin kuat, menggoda banyak diantara kami memaksa masuk gedung untuk mengambil baju dingin. Secara psikologis, banyak yang tergoda untuk melakukan hal yang sama, walaupun beresiko. Ketika getaran agak mereda, beberapa staf memeriksa kondisi gedung, jaringan air dan memeriksa ruangan. Waktu berlalu lebih dari satu jam, jam 16.00 sekarang, tetapi hentakan gempa masih terus datang.



Pelajaran 4:

#pada saat darurat, penanggung jawab kantor atau gedung berubah fungsi secara otomatis menjadi petugas komando evakuasi. Perlengkapan standar adalah helm proyek dan keterangan di lengan serta megafon. Kemudian setiap lantai ada juga petugas yang bertanggungjawab. Di jalanan, mobil petugas lalu lalang memberikan petunjuk pada masyarakat sedang speaker “jambu” yang tersebar dimana-mana, memberikan arahan terus menerus

#sebagai orang asing, juga tidak mengerti bahasa lokal, suasana tanggap darurat cukup menegangkan karena sedikit sekali memahami perintah



#Perintah selanjutnya setelah diketahui tidak ada korban adalah meminta semua pulang ke rumah masing2, bila tidak ada kepentingan karena aliran air juga pemanas ruangan akan diputuskan.



Dalam perjalanan ke hotel, seluruh speaker yang berada dimana-mana terutama di tempat umum, memberikan informasi kondisi terkini dan memberikan pengarahan apa yang harus dilakukan. Sesampainya di hotel, kekhawatiran muncul karena kamar berada di lantai 5. Gempa susulan terus melanda. Pilihan ke luar ruangan terhambat cuaca dingin dibawah 10derajat dan angin kencang. Tiada pilihan memberanikan diri masuk ruang tamu sambil memberanikan diri menyimpan semua barang kecuali kamera, hp, passport dan sedikit uang. Rencana untuk belanja makanan cadangan sirna ketika ada info bahwa supermarket, bis dan kereta juga tidak beroperasi. Kabar menarik dari rekan yang tidak bisa pulang ke Tsukuba, adalah adanya pembagian makanan, minuman dan selimut bagi yang tidak bisa pulang ke rumah. Supermarket yang ditutup menyediakan ruangan bagi yang tidak bisa pulang. Sementara antrian menunggu taksi lebih dari 5 meter, sabar dan tertib walau cuaca dingin sekali. Pertokoan dan parkir berlantai rupanya harus tutup dan menghentikan kegiatan. Sementara pegawai supermarket berubah fungsi menjadi petugas tanggap darurat, dilengkapi seragam dan helm. Karena perlu makan, kami menyempatkan ke daerah pengungsian. Suasana tertib dan tenang. Walaupun di sekitarnya adalah apartemen berlantai tinggi, tidak ada suasana hiruk pikuk dari penghuni yang bervakuasi ke bawah gedung.. Percaya sekali kalau bangunannya kokoh tahan gempa atau sudah terlatih dalam menyikapi gempa yang kami rasa sangat kuat. Selain supermarket, maka food court pun tutup, jadilah antri belanja di mini market beli makanan atau roti. Tertib, tenang, tidak saling dorong. Cerita klasik dan ada dimanapun: ongkos taksi naik karena tidak ada layanan bis umum. Hal luar biasa adalah tidak adanya pemutusan aliran listrik dan air!



Pelajaran 5:



#evakuasi lewat tangga, karena rutin latihan sudah menjadi budaya, bukan hanya diperkantoran, juga di hotel, dan pertokoan

#sabar dan tidak panik pada kondisi darurat bukan hanya diperintahkan tetapi perlu dilatihkan

#Dalam masa tanggap darurat, social responsibility dari seluruh lapisan masyarakat perlu ditumbuhkan, dilatih, dijaga dan diterapkan. Pertolongan dan bantuan darurat utamanya bukan hanya dari pemerintah (Lokal dan pusat), tapi dari kita semua yang mampu.



Malamnya, karena memang harus istirahat, dipaksakan masuk kamar. Semalaman menonton TV, dari NHK utamanya. Luar biasa!!! Semua acara hiburan pada saluran tv tidak bayar berhenti. Semua meliput bencana. Menyimak gempa yang sangat kuat, M8,8 sangat sedikit kerusakan pada bangunan. Gambar dari Tokyo, tidak ada laporan bangunan runtuh kecuali parkiran bertingkat. Kerusakan umum berupa jendela pecah, lapisan tembok terkelupas atau retak2 dan tentu saja barang-barang berserakan di dalam supermarket atau perkantoran. Atap plafon lepas dan pipa air pecah banyak dijumpai. Akan tetapi dihitung dari nilai kerusakan gempa, cukup kecil dibanding dengan banyaknya gedung tinggi yang berdiri megah. Sebaliknya, bencana tsunamilah seperti di Aceh yang melumat semuanya di daerah Sendai. Seperti bisa dilihat dalam semua berita. Berbeda dengan peristiwa yang pernah terjadi, kebakaran terjadi di banyak tempat. Hal ini terkait dengan bencana yang melanda kawasan industry yang terletak di kawasan pantai. Akan tetapi, perlu diacungi jempol, reaktor nuklir tidak terpengaruh, baik oleh gempa maupun tsunami. Luar biasa. Seperti terlihat dalam banyak gambar, warga yang terperangkap tidak bisa pulang dengan tenang beristirahat dimanapun karena semua layanan kereta dan bis dihentikan. Tidak ada sumpah serapah, caci maki karena tidak bisa pulang. Tentu saja bisa terkondisikan karena pemerintah juga sigap memberikan makanan, minuman dan selimut gratis dimanapun di tempat umum difasilitasi oleh perusahaan jasa KA, bus atau pertokoan. Tidak ada rebutan memberitakan gempa dan tsunami. Tidak ada ramalan bencana berikutnya. Yang diulas adalah analisa gempa dan gelombang tsunami dan cara air melumat kawasan pantai. Tidak ada makian pemerintah tidak siap, tidak ada teriakan bantuan terlambat datang. Semua tenang, mengalir ketempat pengungsian. Gambar dari laut jelas, gelombang tsunami tidak datang sedirian tetapi ramai-ramai bergelombang berbaris sampai 7 lapis. Airlaut yang masuk sesaat kemudian menarik semua yang ada dipantai kearah laut lepas. Hening setelah itu.



Pelajaran 6:

#membangun sistim tanggap darurat merupakan komitment yang harus dijalankan bukan hanya di undangkan. Pelakunya bukan hanya pemerintah tapi semua komponen masyarakat

#untuk daerah rawan gempa, membangun gedung tahan gempa suatu keharusan atau dibatasi ketinggiannya

#untuk tsunami: tidak ada yang mampu melawan kekuatan gelombang air beserta dengan seluruh material yang diangkutnya.

#perlu berhitung membangun kawasan industri, apalagi industri kimia di kawasan rawan gempa atau tsunami



Sabtu, 12 Maret 2011

Seluruh kegiatan terfokus pada penyelamatan warga dan evakuasi korban. Seluruh televisi menyiarkan laporan jumlah korban. Setiap saat ada gempa susulan, juga diinformasikan lokasi dan besaran gempanya. Siang sabtu dicoba survey kilat kondisi pertokoan dan juga perumahan di sekitar penginapan. Harapannya dapat gambar bagus, bangunan retak, pagar roboh atau jalan bengkok. Setelah 2 jam jalan, tidak ada hal yang diharapkan. Kembali menonton televisi. Menarik adalah pembagian air bersih, dilakukan tertib mengantri dengan sabar. Setiap keluarga dapat 10lt. Tidak ada anak2 mengantri! Begitu pula ketika sebagian jalur kereta api dan bis dibuka, semua mengantri mengular panjang, sabar dan diam. Tidak ada alasan orang tua, wanita, atau anak2. Dalam acara TV tidak dramatisasi, tidak ada isak tangis panjang atau dan jeritan. Kadang dirasa sangat impersonal hanya mengirim gambar2. Tetapi Jepang adalah negara simbolis, satu gambar bisa menjadi 1000 cerita. Sering banyak cerita tetapi tidak mampu menggambarkan apapun!



Pelajaran ke 7



#Dalam kondisi darurat, perlu dilatihkan bahwa semua dari kita adalah korban, jadi tidak perlu meminta perhatian lebih dari yang lain

#Dalam kondisi darurat, perlu dilatihkan sabar dalam mengantri sehingga bisa mengurangi rasa stress dan menghindarkan dari kekacauan



Membangun gedung tinggi tidak dilarang asal dipahami resikonya

Tahukah kita berapa tinggi tangga pemadam kebakaran kita?

Membangun kawasan pantai, menghabiskan mangrove dan karang tidak bisa dilarang asal diterima konsekuensinya

Memang tidak ada perbuatan tanpa resiko akan tetapi resiko terhitung



Sementara demikian, pelajaran baru untuk seminggu……………..

Haryadi PERMANA
email: permhp@yahoo.com cc to hpharper.permana@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.