Kamis, 11 April 2013

David Marsudi, presiden direktur jaringan restoran D’Cost

Pendekar Bodoh
by Yuswohady

Hari Jumat (15/2) lalu saya ketemu Pak David Marsudi, presiden direktur
jaringan restoran D’Cost. Orang satu ini luar biasa nyentrik-nya. Dia
misalnya, menyebut dirinya sebagai “pendekar bodoh” (nama perseroan
D’Cost adalah PT. Pendekar Bodoh). Kenapa? Karena, menurut dia, menjadi
pengusaha itu harus terus-terusan merasa bodoh. “Karena merasa bodoh,
maka kemudian kita harus terus belajar. Kalau kita sudah pintar, kita
berhenti belajar,” ujarnya.

Pada saat mau ketemu pak David, kebetulan saya melewati meja resepsionis
dengan latar belakang logo D’Cost Academy, training center jaringan
resto bersemboyan: “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima” ini. Yang
mengusik saya adalah tagline D’Cost Academy yang bunyinya menggelitik,
“Stupid Guys Keep Learning”; orang bodoh selalu belajar. Intinya,
tagline itu ingin mengatakan, semua karyawan D’Cost adalah orang bodoh,
dan karena itu akan selalu belajar. “Kami adalah orang-orang bodoh
berjiwa pendekar,” tukasnya.
Ruarrr
biasa!!! Terus terang, setelah hampir dua jam saya ngobrol dengan pak
David, saya jadi malu abis karena selama ini saya merasa pinter dan sok
keminter. Padahal sesungguhnya nggak ada apa-apanya dibanding pak David… hehehe.

Giving

Yang membuat saya salut luar biasa ke pak David adalah prinsip bisnisnya
yang meneduhkan. Begini bunyi falsafah bisnisnya: “Hanya konsentrasi
pada apa yang dapat Anda berikan, jangan kawatir atas apa yang akan Anda dapatkan.” Intinya, D’Cost harus memberi, memberi, dan memberi. Semakin banyak memberi, maka ujung-ujungya akan semakin banyak mendapatkan. The more you give, the more you get!!!

Pak David memberi perumpamaan pendulum: “Ketika dilempar, maka pada
akhirnya pendulum pasti akan kembali.” Saya kemudian iseng menimpali,
“Tapi masalahnya, kapan pendulum itu akan balik pak?” Dengan tangkas ia
menjawab, “mungkin saat itu juga, mungkin sebulan kemudian, mungkin
setahun kemudian, bisa juga bertahun-tahun kemudian. Nggak masalah, itu
semua Tuhan yang atur, kita manusia tak usah repot-repot mikirin,”
jawabnya enteng.

Prinsip memberi inilah yang melandasi kenapa pak David memilih restoran sebagai bidang usahanya. “Karena restoran itu menampung banyak pegawai,”
ujarnya. Kalau bisnis D’Cost sukses, maka makin banyak karyawan yang
ditampung, semakin banyak berkah diberikan kepada karyawan. Karena itu
pak David punya spirit bahwa D’Cost harus menjadi “distributor rezeki”
bagi bagi para karyawan dan siapapun yang berbisnis dengan D’Cost. Wow…
betapa indahnya.

Memerdekakan Berkah yang diberikan D’Cost, kata pak David, tak hanya kepada karyawan dan partner bisnis. Yang terutama justru kepada konsumen. Apa itu? Pak
David bercerita bahwa model bisnis D’Cost sesungguhnya simpel, yaitu:
menjadikan makanan-makanan yang dulunya nggak terjangkau oleh kantong
rakyat kecil, kini menjadi terjangkau. “Mimpi saya adalah menjadikan
rakyat kecil bisa makan masakan hotel berbintang tapi dengan harga yang
terjangkau oleh kantong mereka,” papar pak David mengenai falsafah di
balik tagline “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima”.

Contohnya seafood. Selama ini kita mengenal seafood sebagai masakan mahal, tapi
oleh D’Cost kini dibikin murah sehingga terjangkau rakyat jelata. Pak
David kini juga sedang merintis restoran susi Jepang yang bakal buka
sebentar lagi.

Prinsipnya sama, kalau selama ini masakan susi mahal dan hanya ada di hotel
berbintang, maka kini harus menjadi murah dan terjangkau rakyat kecil.
“Nanti kita akan bikin restoran Italia, restoran Amerika, restoran Eropa dengan harga rakyat jelata,” tambahnya.

Jadi prinsip giving di sini diterjemahkan sebagai “memerdekakan” rakyat
kecil yang ingin merasakan dan menikmati masakan mahal, masakan hotel,
atau masakan luar negeri, yang selama ini tak terjangkau oleh isi kocek
mereka.

Pengusaha Bodoh

Ada lagi
konsep bisnis nyleneh pak David yang membuat saya berpikir tujuh
keliling. Yaitu argumentasi pak David yang menyebut dirinya sebagai
“pengusaha bodoh”. Dia bilang bahwa, kini pasar dipenuhi oleh “konsumen
pintar” dan “pengusaha pintar”.

Ciri konsumen pintar adalah ia minta mutu tinggi tapi dengan harga semurah
mungkin. Sementara ciri pengusaha pintar adalah ia memberikan mutu
tinggi tapi dengan harga berlipat-lipat lebih tinggi. “Kalau konsumen
dan pengusaha sama-sama pintar, maka ini nggak akan ketemu-ketemu,”
jelas pak David.

Karena itu, pak David memosisikan diri sebagai “pengusaha bodoh”. Apa cirinya
pengusaha bodoh? Yaitu ketika dia memberikan mutu setinggi mungkin, tapi memasang harga semurah mungkin (yup, ini namanya “ngajak bangkrut”
hehehe). “Saya bisa pastikan, konsumen pintar lebih suka pada pengusaha
bodoh dibanding pengusaha pintar. Itu sebabnya saya memilih menjadi
pengusaha bodoh,” seloroh pak David berargumen.

Secara logika model bisnis yang diambil pak David selintas nggak masuk akal.
Bagaimana bisa memberikan mutu tinggi, tapi harga murah? Tapi justru
inilah indahnya prinsip bisnis pak David. Intinya kalau niatnya ikhlas
untuk memberikan yang terbaik untuk konsumen, maka Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Pendulum yang dilempar pasti pada waktunya
akan kembali. Inilah indahnya prinsip memberi. It’s the power of giving.

Nyentrik

Untuk memberikan gambaran bagaimana prinsip giving ini dijalankan pak David,
coba kita simak program-program promosi nyleneh dan melawan arus (yup,
paradoks) yang dijalankan D’Cost. Ambil contoh program “Diskon Umur”.
Program ini memberikan diskon ke konsumen sesuai umur yang tertera di
KTP. Kalau umur Anda 30 tahun maka Anda dapat diskon 30%. Kalau umur
Anda 80 tahun Anda dapat diskon 80%. Lalu bagaimana kalau umur Anda 104
tahun? “Anda malah dapat cash back, habis makan malah dapat duit,” ujar  pak David. Kwkwkwwkkw!!!

Contoh program nyleneh lain adalah program “Hamil Baru Bayar”. Program ini
memberikan kesempatan para pasangan untuk merayakan pernikahan di D’Cost gratis untuk 300 kursi plus dekorasi pelaminan. Bayarnya kapan?
Bayarnya setelah si istri hamil. Begini bunyi iklannya: “Pesta
Pernikahan Sekarang… Hamil Baru Bayar.. (Tidak Hamil, Gratis)”.

Ada juga program “Uang dan Doa” dimana konsumen membayar makanan di D’Cost
dengan “Separo Uang, Separo Doa”. Syaratnya, si konsumen wajib mendoakan orang lain dalam secarik kertas, doa inilah yang dipakai untuk membayar separo harga makanan yang dipesan. Kwkwwkwkw!!!

Seperti halnya saya, Anda para pembaca pasti bertanya-tanya: “Konsumen usia 104 tahun makan di D’Cost nggak bayar malah dapat duit, apa itu nggak bikin bangkrut?” Atau, “Pasangan menggelar resepsi gratis di D’Cost tapi
setelah hamil menghilang nggak bayar, apa itu nggak bikin bangkrut?”
Inilah sekali lagi keindahan dari spirit of giving.

Barangkali memang banyak pasangan yang tidak balik ke D’Cost saat istrinya hamil,
tapi bagi pak David itu tidak jadi masalah. “Dari program-progran yang
unik itu kita mendapatkan simpati dari konsumen dan ini bisa memicu
promosi dari mulut ke mulut yang nilai rupiahnya bisa miliaran,” ujar
pak David tangkas, “pokoknya nggak usah kawatir, itu semua Tuhan yang
atur.”

Kini bahkan pak David sedang mempersiapkan gerai bakery-nya  dengan merek D’ Stupid Baker. Yang menarik adalah tagline-nya yang berbunyi: “5 Star
Quality, Stupid Price“. Yang lebih menarik adalah nama perusahaan yang
menaungi D’ Stupid Baker, yaitu PT Bocuan Gapapa. Mau tahu apa
maksudnya? Bocuan Gapapa maksudnya “nggak profit nggak papa“… yang
penting memberi… kwkwkkwkwkwkk…

Mengikuti pengalaman saya ngobrol dengan pak David, mungkin Anda kini mulai
terbuka lebar hatinya. Barangkali Anda mulai sepakat dengan saya bahwa,
setelah membaca kolom ini kita harus menjadi orang bodoh. Orang bodoh
yang berjiwa pendekar. Orang bodoh yang bersenjatakan spirit memberi.

Sekali lagi: It’s the power of giving.

Pak David memang T-O-P.. B-G-T!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.