Sabtu, 04 Februari 2012

Tentang Cinta (Mahabbah), Kerinduan sang Pencinta sejati


Sekali lagi tentang cinta. Keyakinan para pecinta jelas berbeda dengan seluruh keyakinan yang lain. Jalan cinta tidaklah seperti jalan-jalan lainnya. Bendunglah dengan seribu cara, maka aliran cinta  akan mencari muaranya, mereka akan   tetap jatuh cinta. “….Dan mereka yang beriman memiliki cinta yang sungguh-sungguh kepada Allah. …". (QS. 2 : 165). Semua tentang cinta. "Aku (Allah) adalah khazanah yang tersembunyi, lalu Aku ingin diketahui, maka Aku ciptakan alam semesta". (Hadist Qudsi).    "Dia mencintai mereka dan mereka juga mencintai-Nya…". (QS. Al Maidah: 54). Begitulah keadaannya, bagaimana menetapinya ?. Mampukah menguraikannya. Mengurai  rahsa  yang membuncah, yang menggelora dalam dada-dada mereka  ? Inilah kajian  tentang cinta. Cintanya para kekasih Allah. 
 
Semua tentang rahsa
Maka pertanyaan di lontarkan sekali lagi. Apakah akan sama hati  para pecinta Allah dengan hati  para pecinta tandingan-tandingan Allah (yang di buat-buat sendiri oleh  manusia).  Tandingan yang mereka anggap sebagai Tuhan,  yang nyatanya  hanyalah  serupa Hantu-hantu yang senang  menyaru sebagai Tuhan. Adalah Tuhan-tuhan dalam gagasan manusia ?. Coba katakan,  apakah akan sama rahsanya , antara pecinta Allah  dan lainnya ,  yaitu pecinta selain Allah ?.  Siapakah yang mengerti perbedaan,  diantara keduanya itu?.
 
Jika suatu umat telah kehilangan rahsa cinta kepada-Nya maka suatu saat Allah akan mendatangkan suatu kaum lainnya lagi, dimana firman Allah :
 
"Wahai orang beriman !. Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka juga mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yangdi berikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha mengetahui. (QS. Al Maidah ; 54)
 
Namun selalu kita dibingungkan dengan diri kita sendiri, kita tak pernah mampu mengenali cinta yang sesungguhnya, bagaimana rahsanya cinta kepada-Nya. Apakah sama rahsanya dengan jenis-jenis cinta lainnya. Bagaimana jiwa mengenali dan menetapinya, jikalau kita sendiri tidak pernah tahu bagaimana rahsanya itu ?.
 
"Diantara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat besar (sungguh-sungguh) cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka menyaksikan azab, bahwa kekuatan itu semua milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (pasti mereka menyesal) " (QS. Al baqoroh ; 165)
 
Semua tentang rahsa. Sudahkahkita melihat perbedaaan  rahsa cinta antara kedua golongan, yang dimaksudkan dalam ayat  tersebut ?. Bagaimanakah menyelami rahsa-rahsa mereka itu ?. Sedikit perumpamaan, apakah sama rahsanya  berdiri di pegunungan sejuk dengan berdiri di padang pasir di bawah terik matahari ?. Siapakah yang mampu merasakan bedanya ?.  Bagaimanakah merahsakan, dan tahu bedanya antara kedua rahsa  tersebut ?.
 
Dua orang berbeda. Salah satunya kesehariannya hidup di padang pasir, yang panas dan terik. Sementara yang satunya lagi keseharainnya  hidup dipegunungan, yang dingin berselimut salju. Cobalah tanyakan kepada masing-masingnya, apakah yang dapat mereka  maknai atas rahsa  panas dan dingin. Sejauh manakah interval nilai atas hal tersebut yang mereka maknai. Coba bagaimanakah cara pandang  mereka atas nikmat air putih ?. Seberapa besarkah nilai air putih yang  dingin bagi keduanya ?. Apakah arti semua itu ?.
 
 Setiap diri, memerlukan pembanding untuk mampu mengenali perbedaan tersebut. Bagi yang pernah merasakan kesejukan hidup di pegunungan akan merasakan siksaan  hidup di padang pasir.  Dia kemudian sadar bahwa kenikmatan pegunungan akan terasa nikmatnya tatkala dia kehilangan suasana itu, misalnya dia berada di padang pasir. Dia akan meng-angankan kembali, (ketika saat) hidupnya di pegunungan. Dan begitu juga sebaliknya. Itulah efek dualitas dalam diri manusia. Jiwa akan mencari suasana yang lebih baik (menurut anggapannya), ketika dia berhadapan dengan  suasana yang belum di kenalinya.  Akhirnya, kemudian  jiwa mulai bermain di angan, ber andai-andai, mengangankan kenikmatan, dan suasana-suasana yang terlintas dalam angannya. Jika ini, jika itu, jiwa terus meliar, mencari, mengejar sesuatu entah apa, yang entah kapan dia mampu mendapatkannya, bahkan mungkin seumur hidup-pun dia tidak akan pernah mampu memuaskan dahaga jiwa,  yaitu  apa-apa yang dalam angan-angannya. Ketika jiwa di berikan segunung emas, maka dia akan meminta seluruh lautan menjadi emas, jika seluruh lautan menjadi emas, maka jiwa pun akan meminta seluruh isi bumi menjadi emas. Begitulah ironinya, sehingga tanpa sadar jiwanya di hadapkan terus kepada sesuatu yang di angankan tersebut. Berharap seluruh keinginannya satu demi satu terpenuhi, tak pernah usai, tidak akan pernah selesai, sampaipun nyawa habis di badan. Dia terhijab, dia tidak menyadari jika (selama ini) jiwanya telah salah ia hadapkan kepada HANTU. Maka dirinya (jiwanya) di kejar-kejar Hantu-hantu tersebut. Betapa lemah diri manusia. 
 
Ada lagi masalah, meski kita   hidup dalam alam   pegunungan sekalipun, tanpa harus meninggalkan gunung. Tetapi kenapa sama saja,  jiwa tetap kesulitan  untuk   merasakan  nikmatnya hidup di pegunungan.   Bagaimanakah kita ini sebenarnya ?. Ketika kita mendapat pekerjaan, begitu sibuknya kita,  malahan kita sering mengangankan betapa nikmatnya ber santai di rumah (kalau perlu tidak usah bekerja). Namun ketika kita menjadi pengangguran, kita pun gelisah, setiap saat  kita selalu mengangankan betapa nikmatnya jika kita bekerja, menjadi pekerja.  Jiwa terus ber kejaran dengan angan. Hati sekian lama, se umur hidup terus di dera kesempitan demi kesempitan, begitulah keadaan jiwa ketika kita salah dalam menghadapkan diri kita ini. Kita kemudian menjadi sulit sekali menyatakan cinta kita kepada Allah !. Maka kemudian Allah mengabadikan dan mengungkapkannya kepada kita, di dalam Al qur an, bagaimana keadaan dan suasana  dada orang-orang tersebut. Dan juga bagaimana keadaan  dada orang yang telah kembali kepada Allah.  (Lihat tulisan Bpk Deka, Jika Allah merestorasi )
 
Cinta adalah tentang rahsa. Bagaimanakah membahasakan rahsa jika kita sendiri tidak merasa hidup ?.  Bagaimana kita merasa hidup jika hati kita telah mati, tidak merasakan apa-apa lagi. Kemudian bagaimana kita mampu menikmati hidup, bilamana cinta sudah tak berbekas di dada.  Hati yang tidak mengolah rahsa akan menjadi mati, keras membatu.  Apalagi jika berbicara tentang cinta. Sudahkah kita sadari ?. Bagaimana  kita mampu men-cinta jika  hati telah keras membatu, tidak punya rahsa lagi. Dus..kapan terakhir kita merasakan cinta bersemayam di hati ?. Kita telah lupa kapan itu ?. Mungkin dulu sudah lama sekali. Mungkin juga kita sudah lupa bagaimana rahsanya ?.   Layaknya kita bertanya dalam diri kita, “Masihkah ada benih cinta di hati kita ?”.  Jika masih ada, arahkan lah cinta kita  kepada Yang Maha Hidup dan Abadi. Yang ada selamanya. Mohonlah Cinta-Nya, agar kita hidup , dalam hakekat hidup,  dalam hakekat rahsa, memaknai kehidupan dalam realitas yang benar. 
 
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, cinta-Mu dan cinta orang-orang yang Engkau cintai ".
 
Kerinduan sang  Pencinta sejati
 
Mahabbah adalah suasana hati di mana pecinta rindu ingin bertemu Kekasih.  Bagaimanakah rahsanya ?. Tahukah kita seperti apa rahsa itu ?. Cinta adalah bagian dari kekhusukan. Bagaimanakah kita mampu khusuk jika kita tidak mampu merasakan cinta-Nya ?.
 
Begitu dahsyatnya cinta menyusup,  mencengkeram hati dan pikiran, sehingga Hujjatul Islam Al Ghozali pun tersungkur, menghiba, terpapar  dan menjadi sakit. Sakit yang  aneh yang  tidak ada satupun dokter  ketika itu mampu menyembuhkannya.
 
Ular cinta telah menyengat hatiku,
Tidak ada dokter atau pemikat untuk menyembuhkanku,
Kecuali Kekasih yang mengisi hatiku,
Ditangan-Nya terletak kesembuhanku dan daya yang memikatku.
(Imam Al Ghozali)
 
Waduh.., bagaimanakah kejadiannya ?. Seperti apakah  rahsa yang dialaminya  itu. Sepertinya kita mengerti,  sepertinya terngiang begitu dekat, lekat dalam ingatan.  Cuma sepertinya juga sangat jauh. Bahkan hakekatnya, kita sesungguhnya tidak mengerti apa-apa tentang cinta. Bagaimanakah jika orang seumur hidupnya belum pernah merasakan cinta, belum pernah jatuh cinta. Bagaimana menceritakan kepadanya tentang rahsa ini ?. Bagaimanakah menceritakan kerinduan yang membekap jiwa dan raga. Heh..sulit, sungguh sulit sekali. Bahkan orang sering menafikkan cinta. Mereka tidak tahu bahwasanya cinta adalah jalan bagaimana kita mendekatkan diri kita kepada-Nya.
 
Namun meskipun sulit mengungkapkannya. Semua layak di coba untuk menyampaikan bagaimana khabar kerinduan para pecinta Allah. Maka sejauh ini kita hanya mampu melakukan pendekatan dalam kisah-kisah yang mampu kita tangkap dalam realitas kekinian. Mencoba mengajak diri kita menyelami , merahsakan perguliran rahsa diantara kisah-kisah itu. Mari kita angkat kembali kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha.  
 
Di dalam kitabnya Imam Al Ghazali mengkisahkan :
 
Cinta adalah kecenderungan tabiat pada sesuatu yang menyenangkan. Jika kecenderungan itu menjadi teguh dan kuat,  dinamakan ‘Isyq (kerinduan). Tidakkah kita baca kisahnya, bagaimana cinta Zulaikha kepada nabi Yusuf. Setelah nabi Yusuf memilih penjara. Bagaimana nelangsa  Zulaikha,  hidup dalam keadaan ‘Isyq. Begitulah cinta, begitu membutanya dirinya karena cinta. Bagaimana juga setelahnya,  ketika  nabi Yusuf as, sudah di keluarkan dari penjara,  dan ketika   lama dia tidak bersua. Lama nian Nabi  Yusuf as, tidak pernah meghampirinya, ber tegur sapa padanya. Bagaimanakah galaunya jiwa, tak satupun kata mampu mewakilinya.
 
Dia memiliki banyak kekayaan. Dia mempunyai mutiara, kalung, yang di bawa oleh tujuh puluh unta, semua telah dia habiskan demi kecintaannya kepada Yusuf. Kepada setiap orang yang sudah mengkhabarkan keadaan yusuf, dia memberikan kalung yang membuat orang itu menjadi kaya raya. Hingga akhirnya, (tentunya setelah suaminya meninggal), tiada sedikitpun kekayaannya tersisa. Keadaan dirinya mengenaskan sekali, setiap sesuatu ia namai Yusuf. Begitu seterusnya, dia tak  heran ketika ia mendapati nama Yusuf kekasihnya, telah tertulis di planet-planet, di langit, di mana saja, begitulah keadaannya, saking cintanya ia kepada Yusuf.  
 
Mengapakah Yusuf as, mengabaikannya ?. Bagaimana reaksi  nabi Yusuf as, akan cinta Zulaikha ?. Dalam  Al qur an di kisahkan,  nabi Yusuf as justru malah  berdoa kepada Allah, memohon agar dia di masukan ke dalam penjara saja. Dia mengerti, jika seperti itu keadaan Zulaikha, jika begitu cara mencinta Zulaikha, itu bukanlah suatu kebaikan. Baik bagi dirinya maupun bagi kekasihnya itu. Sang pecinta sejati tahu betul keadaan itu. Sang pecinta sejati, selalu menginginkan kebaikan bagi kekasihnya.  Maka  Yusuf  as, memilih penjara dari pada menerima cinta Zulaikha saat itu. Itulah yang di pilihnya. Dia menjaga dirinya dan kekasihnya, dari fitnah yang keji  yang mungkin akan menimpa dirinya dan kekasihnya nantinya.  Hal yang sulit di mengerti Zulaikha saat itu !.  
 
Zulaikha telah lupa siapa dirinya, (ketika itu) Zulaikha sudah tidak mampu membawa diri, dan menjaga dirinya sendiri, dia telah lupa bahwasannya dirinya adalah wanita yang ber martabat. Dia telah lupa itu semua, dia telah di butakan oleh cintanya,  sungguh berbahaya keadaannya.   Betapa tidak, saat itu,  Zulaikha  masih dalam status istri orang. Jelas tidak mungkin nabi Yusuf akan menerima cinta Zulaikha. Meski bagaimanapun besarnya  cintanya dia kepada Zulaikha. Dia akan tetap menginginkan kebaikan bagi kekasihnya itu. Dia akan tetap menjaga kesucian kekasihnya dan  juga dirinya.  
 
Allah Maha Besar. Setelah  keadaan berbeda,  setelah suami Zulaikha meninggal. Allah mempertemukan cinta mereka.  Yusuf as, selanjutnya menikahi  Zulaikha. Meski saat itu Yusuf as, sudah menjadi Pembesar negri, dan keadaan  Zulaikha sendiri telah habis hartanya, menyendiri dan nelangsa. Namun Yusuf as, tetaplah meminangnya. Begitulah pecinta sejati, tidak melihat bagaimana rupa dan keadaan sang kekasih. Sungguh betapa indah dan agung kisah cinta ini. Bagaimana kita mampu menyelami rahsa yang teraduk-aduk diantara mereka itu ?. Keteguhan dan cinta, kasih sayang dan kesabaran, kekuatan dan keimanan, berpadu dalam gairah cinta anak manusia, teramu dalam rahsa di jiwa, adakah yang mampu menerima susupan rahsa itu, selain mereka ?.  Adakah yang berani mencobanya ?.   
 
Waktu terus berlalu, bagaimana selanjutnya cinta Zulaikah terhadap Yusuf as ?. Diriwayatkan, setelah beriman dan menikah dengan Yusuf as, Zulaikha menyendiri terus, beribadah dan memutuskan hubungan dengan segala sesuatu ,  mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika pada suatu siang Yusuf mengajaknya ke tempat tidur, ia meminta Yusuf menunggu hingga datang malam. Ketika datang malam, ia meminta lagi kepada Yusuf untuk menunggu hingga datang siang lagi. Begitu seterusnya.
 
Ia berkata,  "Yusuf, sebelum aku mengenalmu, aku hanya mencintaimu. Namun, setelah aku mengenalmu, kecintaan kepada-Nya tidak menyisakan kecintaan kepada selain-Nya. Aku tidak ingin ada yang menggantikan-Nya”
Kemudian Yusuf as, menjawab, “Allah ‘Azza wa jalla memerintahkan hal itu kepadaku. Allah mengkhabarkan bahwa akan keluar dua anak darimu, dan Dia akan menjadikan mereka nabi."
Zulaikha akhirnya berkata, "Jika Allah memerintahkan hal itu kepadamu dan menjadikan  sebagai jalan menuju-Nya, niscaya ketaatan kepada-Nya, merupakan hal utama. Dengan itu aku merasa tenteram."
 
Begitulah keadaannya, akhirnya Zulaikha mengerti, meski begitu besarnya cintanya kepada nabi Yusuf as, namun setelah dia menyelami dan merasakan bagaimana sebenarnya  cinta-Nya, dia tidak mau lagi membagi dengan lainnya. Tidak juga kepada Yusuf as. Dalam hatinya hanya ada cinta Allah kepadanya, tidak mau ada yang mengantikannya. Begitu kuat cintanya kepada Allah.  Dia pun akhirnya menjadi pecinta sejati. Inilah akhir cerita yang benar, kisah para pecinta sejati.  Dalam dekapan Cinta-Nya, Zulaikha merasa tenteram, tidak lagi di hantui rasa yang mengharu biru, sebagaimana keadaan (ketika) cintanya dahulu kepada Yusuf as. 
 
Begitu pula Yusuf as, sang pecinta sejati , meski dia harus mengorbankan dirinya, namun demi kebaikan sang kekasih dirinya rela di penjara. Bagaimana kejadiannya jika kisah itu di gantikan oleh orang lainnya, oleh diri kita, siapakah yang tidak tergiur dan tidak tergoda oleh cinta Zulaikha yang cantik, (tercantik di kota nya)  dan kaya raya ?. Heh.. !.  Kita tentu sudah mampu menebak, kemana arah jalan ceritanya, karena  kita sering  melihat alur cerita tersebut di sinetron.  Begitulah, manusia di ciptakan dalam keadaan lemah, selalu menganggap baik perbuatannya yang buruk.  Layaknya kita ber lindung kepada-Allah dari sifat-sifat tercela seperti itu, dan menyegerakan memohon ampunan kepada-Nya.
 
Maka pertanyaannya, mampukah kita men cinta dengan benar, men cintai-Nya, mencintai  apa-apa yang di cintai-Nya, sebagaimana cinta para kekasih Allah ?.  Apakah cinta kita kepada dunia (istri, anak, pacar, jabatan, mobil, karomah, kesaktian, dll) melebihi cinta kita kepada Allah ?. Bagaimanakah kita mengetahui itu ?. Seperti apakah tolak ukurnya ?. Jangan-jangan malahan  begitu ?. Hik…!. Bagaimanakah ini ?.
 
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu,cinta-Mu dan cinta orang-orang yang Engkau cintai ".
 
 
Wolohualam.
 
Masih akan di kaji, kenapakah dan ada apakah dengan cinta ini?. Adakah yang mau mengerti ?.
 
Catatan : Kajian ini masih satu rangkain dalam episode kisah cinta pada kajian terdahulu, yang belum selesai di tuliskan.

Wasalam,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.