Rabu, 02 Februari 2011

Media Criticism: Tumpulnya Internet Bagi Tokoh Reformasi ...

oleh: Ismayanti, Bestarivi, Pratiwi A Ditya dan Kemal

Pendahuluan
Pemilu Indonesia tahun 2004 adalah sebuah kelanjutan dari progres reformasi yang berjalan sejak 1998. Jika pada masa Orde Baru kekuasaan berpusat pada dinasti Cendana, maka pasca Orde Baru yang disebut era Reformasi, kekuasaan terpecah dan diperebutkan banyak aktor politik yang telah menunggu runtuhnya Orde Baru. Setelah berjalan hingga masuk pada tahun 2004, tokoh-tokoh yang erat kaitannya dengan konflik politik sebelumnya muncul. Sebut saja Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Megawati dan sang tokoh reformasi Amien Rais. Semuanya berkompetisi dalam pemilu pilpres 2004 untuk menduduki kursi nomor satu di Indonesia. Entah mengintip perkembangan media baru ataukah hanya coba-coba, hampir kesemua calon menggunakan media baru yang berbasis digial sebagai alat kampanye mereka. Namun sejauh mana alat yang dinilai efektif dalam kampanye ini berguna untuk kesuskesan mereka?
Indonesia sebagai negara yang digolongkan dunia dengan negara dunia ketiga (The 3rd World Country), memang terbilang masih belum akrab dengan media baru. Sejak kemunculannya pada sekitar tahun 2000, media baru yang akrab dikenal masyarakat dengan internet, masih menjadi suatu teknologi yang asing. Pengaruhnya dalam pemilu mungkin dapat diprediksi dengan melihat penetrasi masyarakat terhadap “mainan” baru ini. Kendati kesuksesan besar diraih Barack Husein Obama melalui media interaktif ini, namun ternyata perbedaan pola penggunaan dan tingkat pengenalan masyarakatnya terhadap teknologi, berpengaruh pada proses persuasi masyarakat itu sendiri.
Dalam makalah ini, penulis memfokuskan pembahasan pada tokoh reformasi, Amien Rais, dalam kampanyenya melalui website miliknya. Bukan karena kesuksesan yang besar, namun Amien Rais tergolong tidak sukses dalam prosesnya. Ia hanya menempati posisi keempat dalam pemilu 2004 lalu dan hal tersebut memunculkan opini bahwa dalam memanfaatkan internet untuk berkampanye, ada baiknya seseorang harus juga memerhatikan aspek brainware yang nantinya akan mengelola konten website tersebut. Selain itu faktor interaktifitas juga harus menjadi perhatian sang aktor, karena dari proses tersebutlah beberapa kandidat di luar negeri (khususnya AS) mendulang sukses.
Kekuatan Dunia World Wide Web
Internet sebagaimana sejarahnya, merupakan produk yang dikembangkan tentara Amerika untuk kepentingan peperangan. Namun seiring berjalannya waktu dan melihat aspek kegunaan untuk masyarakat dalam proses komunikasi, maka internet berkembang menjadi suatu alat digital yang digunakan hampir seluruh manusia di dunia. Kekuatan internet secara umum terbagi menjadi dua, yakni interaktivitas dan personalisasi.
Interaktivitas memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah (interaktif). Melalui internet, seseorang tidak lagi hanya berposisi sebagai komunikator atau komunikan saja, tetapi keduanya. Interaktivitas juga terjadi karena proses yang realtime, atau alam artian user dapat langsung mengakses atau mendapat respon dari proses komunikasi yang dijalaninya secara langsung. Real time terjadi bukan lagi dalam hitungan jam ataupun menit, tetapi sangat dimungkinkan dalam hitungan detik.
Kekuatan kedua dari internet adalah personalisasi dimana user bisa mendapatkan kenyamanan secara personal. Personalisasi adalah suatu proses dimana pesan tidak lagi bersifat masal, akan tetapi disesuaikan dengan minat, keinginan dan kebutuhan dari masing-masing individu. Melalui proses personalisasi yang terjadi dalam internet, user atau pengunjung suatu situs dapat menerima tampilan layar yang sesuai dengan keinginan, minat dan kebutuhannya.
Melalui dua kekuatan utama internet inilah, proses marketing dan advertising dapat berjalan efektif dan cenderung menguntungkan. Efektif karena prosesnya real time dan menguntungkan karena low cost serta bertempat di dunia maya yang tidak mengharuskan ada bentuk fisik (toko dsb). Political marketing yang dewasa ini berkembang juga mengupayakan proses tersebut. Memanfaatkan efek yang global sekaligus menyasar langsung individu secara personal, kampanye politik diharapkan dapat berjalan mulus. Namun, dengan demikian kesuksesan aktor politik dalam berkampanye melalui internet, tidak serta merta dapat diterapkan pada area yang sama. Kondisi masyarakat dan kegandrungannya terhadap teknologi juga harus diperhatikan. Dengan demikian, aspek konten yang dibuat sebagai agenda kampanye melalui media menjadi salah satu faktor penentu. Dan sayangnya, hal tersebutlah yang luput dari perhatian para politikus di Indonesia yang salah satunya adalah Amien Rais.
Agenda Setting, Media Dependency dan Upaya Memperoleh Kekuatan Publik
Amien Rais sebagaimana disebutkan sebelumnya, juga mempunyai website pribadi yang ditujukan sebagai media kampanye. Berharap efek yang ditimbulkan adalah secara individu, Tim Amien tidak pernah bosan (selama kampanye) meng-update berita-berita di www.m-amienrais.com seputar kegiatan Amien Rais guna memasukkan agenda kampanye mereka. Praktek agenda setting dapat dikatakan terjadi disini. Melalui konten-konten yang selalu berkaitan dengan Amien Rais, merupakan pemilihan isu oleh tim sukses untuk menyerang aspek kognitif pengujung situsnya. Berita-berita yang dihadirkan juga telah disesuaikan (framing) dengan kepentingan mereka dan diharapkan setiap kalangan yang mengaksesnya memberikan suara kepada tokoh politik ini.
Kekuatan aktor politik yang terus diupayakan antara lain kekuatan modal, networking dan kekuatan publik. Melalui internet inilah Tim Amien Rais mengupayakan kekuatan publik. Keberadaan fitur interaktif yakni dimana user dapat berkomunikasi dengan Amien Rais serta kotak dialog yang memungkinkan user membentuk komunitas, menjadi strategi yang baik. Namun sejauh mana kebaikan itu berdampak pada pemilu 2004 bagi Amien Rais. Sebelum membahas mengenai kegagalan Amien Rais dalam pembangunan konten (praktik agenda setting), akan dibahas sejauh mana masyarakat Indonesia mengenal internet saat itu dan sejauh mana kegandrungan mereka terhadap internet.
Bercermin dari kesuksesan Barack Obama pada pilpres 2008, satu hal yang dilupakan Amien Rais tentang internet, yakni kondisi masyarakat Indonesia yang belum gandrung terhadap teknologi. Walaupun internet bersifat global dan sekaligus personal, tetapi internet tetap harus diakses dengan menggunakan perangkat teknologi (device). Jika di Amerika kegandrungan masyarakatnya karena akses mereka terhadap perangkat teknologi tersebut mudah, dalam artian mereka menguasai teknologi tersebut, tidak demikian di Indonesia. Mayoritas penduduk Indonesia masih belum mampu menguasai internet, kendati warnet saat itu menjamur, namun kemampuan mengakses setiap hari dan setiap waktu masih sangat kecil.
Bedasarkan teori media dependency, setidaknya terdapat dua variabel utama yang harus diperhatikan agar efeknya dapat bekerja terhadap masyarakat. Dua kondisi tersebut adalah, in the first condition, as societies become more complex, mass media perform specialized and unique functions—especially gathering and disseminating news. Masyarakat Indonesia masih abu-abu jika dikatakan sebagai masyarakat modern karena kesenjangan terjadi di berbagai aspek dan mayoritas masih sulit mengakses berbagai media untuk menghimpun dan menyebarkan berita.
Sedangkan yang kedua ialah a second condition that heightens audience dependence on the mass media is crisis, conflict and change, which creates uncertainty in society and, in turn, increases the audience’s needs for information, tension reduction, and solidarity. Atau dengan kata lain ketika khalayak mendapat banyak terpaan informasi dan penggunaan media dalam krisis dalam artian banyak sekali informasi yang ditawarkan melalui berbagai media. Indonesia kecenderungan medianya masih rendah dan penggunaan media mayoritas masih menitikberatkan pada aspek hiburan. Bagi negara pekerja seperti ini, isu-isu politik mungkin terlalu melelahkan bagi mereka. Kesempatan untuk mendapat terpaan media massa khususnya digital juga tergolong sedikit. Terpaan disini diartikan sebagai informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka secara pribadi. Masyarakat Indonesia masih melirik televisi sebagai sumber informasi mereka, namun aspek hiburan juga masih sangat tinggi. Hal ini terlihat dari tren program TV saat ini yang masih gandrung terhadap sinetron dan acara hiburan.
Dengan demikian, efek personal yang diharapkan Amien Rais melalui internet masih tergolong jauh dari harapan dan terbukti dengan banyaknya kritik terhadap situs khususnya konten yang dibuat oleh tim suksesnya. Bahkan sekarang kita tidak akan bisa mengakses situs tersebut karena telah beralih, selain itu untuk sekedar mencari gambarnya saja melalui google, sudah tidak bisa. Situs kampanye Amien Rais seakan hilang ditelan informasi-informasi lain dalam dunia maya.
www.m-amienrais.com dan Kekakuan Konten
Menurut Bambang Haryanto, seorang Konsultan Strategi Komunikasi di Internet, situs Amien Rais saat berkampanye tergolong kaku dan dinilai kurang memerhatikan aspek context media berbasis internet. Menurut beliau, tampilan visual dari situs tersebut tidak elegan karena beragam font yang riuh. Situs yang dikelola The Amien Rais Center (ARC) ini terkesan hanya memindahkan media cetak ke dalam bentuk digital. Dengan kata lain situs tersebut tidak memenuhi kriteria media berbasis internet yang menarik dan menyamankan visual user.
Masih menurut Haryanto, pengelola situs ARC mungkin berasumsi bahwa user yang mengunjungi situs tersebut hanya untuk membaca berita terbaru mengenai Amien Rais, tetapi sayangnya artikel yang dimuat cenderung kaku atau kering. Pengelola sius ARC mungkin melupakan bahwa jika demikian, maka yang berdatangan hanyalah simpatisan Amien Rais dan peluang untuk menambah jumlah partisan dengan menjaring user tertutup. Hal ini adalah satu dari sekian kegagalan pengelolaan kampanye berbasis internet oleh Tim Amien Rais.
Selain itu, yang patut disayangkan adalah tidak adanya link bagi beragam situs lain selain PAN dan tidak ada blog bagi para pendukung. Bahkan seperti yang dikutip dari www.dunia.pelajar-islam.or.id, kolom interaktif justru dibanjiri dengan pertanyaan merangsang yang diajukan pengunjung (termasuk diminta tanggapan ketika seorang ratu dalam acara "Bantal" di RCTI mengatakan bahwa Amien Rais adalah pria yang dia idamkan/idolakan secara seksual imajiner). Hal ini ironis karena harapan munculnya diskusi serius mengenai, baik negara dan permasalahannya, tidak muncul. Terlebih lagi diskusi semacam itu tidak ada balasan dari Amien Rais sendiri. Baik tim maupun Amien Rais pribadi telah melupakan unsur interaktif itu sendiri. Interaktif yang dijalankan dalam kampanye, seharusnya terjadi bukan hanya ketika satu user berhubungan dengan user lain, tetapi ketika masyarakat dapat berkomunikasi langsung dengan calon presiden.
Penutup
Dengan demikian, Amien Rais dan Tim ARC selain menafikan teori efek yang seharusnya bekerja, juga telah melupakan aspek interativitas dan atraktifitas dari sebuah dunia digital. Hal yang dupayakan dengan munculnya politk berbasis internet adalah untuk membuat masyarakat well informed tentang politik dan meningkatkan partisipasi mereka dalam politik. Menarik adalah demi menarik banyak pengunjung situs dan membuat nyaman visual mereka sedangkan interaktivitas adalah demi meningkatkan partisipasi serta kepercayaan mereka terhadap tokoh politik ataupun politik itu sendiri.
Indonesia sebagaimana dijelaskan secara singkat sebelumnya, masih belum bisa mempraktekkan kampanye politik berbasis new media. Selain dari aspek masyarakat itu sendiri yang belum siap, tokoh politik itu sendiri juga masih belum mengenal dunia maya tersebut. Euphoria kampanye Indonesia masih didominasi iklan TV dan panggung-panggung kampanye yang dimeriahkan oleh artis-artis lokal dan Ibukota. Kemudian yang lebih ironis, praktek kampanye melalui uang juga masih marak dilakukan. Masyarakat diposisikan bukan sebagai konstituen yang layak diberikan servis ekstra ataupun didengar pendapatnya, tetapi sebagai angka-angka yang setelah menambah jumlah perolehan suara, maka dilepas begitu saja.
Efek media memang begitu besar terhadap masyarakat, namun adanya konteks dan kecerdasan dalam memilih media yang sesuai juga diperlukan. Sekuat apapun efeknya secara teoritis bagi individu (seperti internet), jika diterapkan dengan asal dan tidak sesuai dengan konteks masyarakaynya, maka akan gagal dan cenderung tidak kuat. Amien Rais dan Tim ARC merupakan salah satu contoh yang berkampanye pada pilpres 2004 menggunakan internet dan terbukti tidak efektif, dalam artian efek mikro yang diharapkan tidak terjadi. Mungkin masih harus menunggu pada pilpres berikutnya?

oooOOooo

REFERENSI BACAAN
Perse, Elizabeth M, 2008, Media Effects and Society, London: Routledge (Taylor & Francis e-Library).]
McQuail, Denis, 1987, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Jakarta: Penerbit Erlangga.
Straubhaar, L. R. (2008). Media Now, Understanding Media, Culture and Teknology, fifth edition. USA: Thomson Wadsworth.
Piliang, Yasraf Amir, 2004, Dunia yang Berlari Mencari Tuhan-Tuhan Digital, Jakarta: Grasindo
http://eprints.ui.ac.id – Tesis Judhie Setiawan, 2004, Pemanfaatan Internet Sebagai -----------------------------Sarana Publikasi Aktor Politik; Studi Kasus Pada Situs Web m----------------------------amienrais.com.
www.dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/tak-berkategori/internet-sebagai-senjata-kampanye-presiden

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.