Minggu, 21 Oktober 2012

Mengenal Kota Pati, Kota Kelahiranku

Kamu pernah denger kota Pati ? Pernahmakan nasi gandul? pernah denger cerita Syech Jangkung? Mungkin deskripsi berikut ini bisa sedikit menggambarkan bagaimana Pati itu. Deskripsi ini disusun berdasarkan pengetahuan, pengamatan dan pengalaman pribadi. Jadi, mungkin sifatnya kualitatif dan subjektif banget.. bagi yang pengen mengetahui profil normatifnya Pati mungkin bisa menguliknya di www.pati.go.id atau di wikipedia. Okeh..
Sumber Tulisan dari : http://deeadewie.wordpress.com/my-hometown/
Batas geografis
Barat : Kabupaten Kudus dan Jepara
Timur : Kabupaten Rembang
Selatan: Kabupaten Grobogan dan Kudus
Utara : Jepara dan laut Jawa

Sebelah barat berbatasan dengan Kudus dan Jepara, terpisahkan oleh Gunung (Pegunungan Muria) dan pegunungan Patiayam (Kudus). Bagi yang belum tahu, Patiayam merupakan situs yang cukup penting, semacam Sangiran begitu.. di sini banyak ditemukan fosil hewan-hewan purba seperti gajah dan lainnya.
Sementara sebelah selatannya berbatasan dengan Kabupaten Grobogan, yang secara fisik dibatasi oleh pegunungan Kendeng Utara, atau yang dikenal dengan pegunungan kapur utara. Saat ini daerah ini menjadi pusat perhatian, terkait dengan rencana pemda yang bekerjasama dengan Semen Gresik untuk mendirikan pabrik baru, mengingat kandungan fosfat daerah ini yang cukup tinggi.
Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan laut Jawa. Bagian utara kabupaten Pati merupakan semenanjung, bagian daratan yang menjorok ke laut. Oleh karenanya, pelabuhan di Tayu dan Juana banyak disinggahi kapal/perahu dari daerah lain, karena saat wilayah lain mengalami badai, perairan di daerah ini cukup tenang. Secara fisik, daerah Pati dan Jepara dipisahkan oleh hutan karet Balongan. Di daerah yang telah masuk Jepara, terdapat Pegunungan Celering, pegunungan yang terdiri atas bukit-bukit kapur. Bukit ini banyak ditambang. Penduduk di Pati, Jepara dan Kudus beberapa waktu lalu sempat heboh, karena pemerintah pusat berencana mendirikan pusat pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah ini, tepatnya ya di pegunungan ini.
Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Rembang, yang dihubungkan oleh jalan utama pantura. Jalan pantura ini adalah jalan pos yang dirintis oleh Daendels, dengan melakukan kerja paksa. Jalan Panglima Sudirman adalah warisan fisik dari proyek ini.
Secara administratif, kabupaten ini terdiri atas 21 kecamatan dan 405 desa. Kecamatan yang terakhir berdiri adalah kecamatan Trangkil yang merupakan pemekaran dari kecamatan Wedarijaksa.
Kota Pati juga mendapat julukan kota pensiunan. Karena sebagian besar penduduknya adalah usia non produktif, kehidupannya adem ayem, gejolak jarang terjadi. Riak sosial biasanya terjadi terkait dengan kegiatan politik lokal, misalnya pemilihan kepala desa. Sejak reformasi berjalan, sering terjadi pembakaran dan perusakan fasilitas umum karena tidak puas dengan hasil pemilihan. Selain itu, kadang terjadi pula perkelahian pemuda antar desa. Pemicunya bermacam-macam, mulai dari saling senggol saat nonton pertunjukan, perilaku yang dinilai kurang sopan saat berkunjung ke kampung tetangga atau pertandingan persahabatan antar desa/kampung. Terakhir, nama Pati dipopulerkan oleh ulah sebuah peer group yang dikenal dengan nama “genk Nero” serta berbagai kasus freeseks pelajar yang disebarkan lewat telepon genggam. Selain itu, Pati juga populer karena banjir yang melanda Juana tahun lalu. Banjir ini berakibat cukup signifikan, karena kemacetan yang ditimbulkannya membuat suply barang dari Jawa bagian barat Jawa bagian timur dan sebaliknya sempat tersendat hingga 1 bulan lamanya. Banjir tahun lalu juga masih menyisakan kerusakan jalan, yang masih terus diperbaiki hingga detik ini.
Penduduk usia produktif Pati lebih memilih bekerja di kota lain, terutama Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Banyak pula yang merantau hingga luar Jawa atau bahkan di luar negeri, seperti Malaysia, Arab dan Hongkong. Bagi yang bertahan di Pati, mereka menekuni pertanian, menjadi PNS atau wiraswasta.

DEEP DOWN INSIDE OF PATI

Gembong
Gembong merupakan kecamatan yang berbatasan dengan kabupaten Kudus (Colo). Wilayah ini berada di lereng timur G.Muria. Wilayah ini terkenal dengan produk tape singkong. Meskipun tidak seterkenal peuyeum Bogor atau tape Situbondo, namun lumayan kok. Teksturnya memang lebih lembek dan rasanya pun lebih kecut, tidak sekeras/sekenyal dan selegit peuyeum. Gembong menjadi sentra tape, karena lahan pertanian di wilayah ini memang didominasi oleh kebun singkong.
imag00302Hutan di wilayah ini juga masih luas, didominasi hutan randu. Hal ini mendukung mendukung berkembangnya usaha kapuk di wilayah Pati (Karaban). Selain untuk diambil kapuk dan kayunya, maka hutan randu juga memiliki produk sekunder, yaitu madu alam. Banyak petani madu dari daerah lain yang angon , menggembala tawonnya di daerah ini saat randu sedang berbunga. Hal ini kemudian diadop oleh petani setempat, yang kemudian mengusahakan peternakan tawon di sekitar lahan/rumahnya. Tak hanya madu dari randu, mereka juga mengusahakan madu rambutan/kelengkeng. Di sepanjang jalan Gembong, banyak kita temui rumah yang berjualan madu. Jangan takut, keaslian madu dari daerah ini dijamin ko.. Madu dihargai 20-40 ribu per botol sirup. Emm..murah..
Selain itu, dalam beberapa waktu terakhir ini, Gembong juga berkembang menjadi sentra jeruk Bali. Produk agro ini banyak dijual ke kota lain, dan bisa pula kita temui dijual di pinggir-pinggir jalan, saat sedang musim. Ukuran jeruk Bali cukup besar, hampir sebesar bola. Kulitnya cukup tebal, seperti ada gabusnya. Zaman kecil dulu, kulit jeruk ini sering kita gunakan sebagai bahan pembuat mobil-mobilan atau kapal. Dalam satu buah terdapat beberapa lapis buah, dagingnya buahnya berwarna kuning kemerahan, kurang berair. Potensi agrobisnis jeruk Bali ini banyak mendapat liputan dari media cetak, seperti Trubus, Suara Merdeka, Jawa Pos, dll.
Dari segi wisata, di kecamatan ini terdapat sebuah waduk buatan yang diberi nama Seloromo. Meskipun ukurannya kecil, namun debit airnya terus berkurang. Tak heran, mengingat jumlah vegetasi di lereng Muria yang menjadi penangkap air di wilayah ini juga semakin berkurang. Kilauan waduk Seloromo ini bisa terlihat dari daerah Jolong, terutama saat cuaca sedang cerah. Cool..! Jika dibandingkan dengan daerah lain, suhu di daerah Gembong cukup sejuk, layaklah untuk tempat rehat dari kesibukan. Masih tergolong sepi.. jalan untuk menuju ke sana juga bagus. Jarak dari kota juga cukup dekat, tak sampai 0,5 jam perjalanan dengan motor. Angkutan umum ada, namun jumlahnya terbatas, hanya sampai sore, sekitar jam 3, itupun sudah jarang sekali.
Selain Seloromo, ada pula waduk Gn.Rowo. Lingkungan di sekitar waduk  dijadikan bumi perkemahan, sama seperti Seloromo. Pada tahun 90-an, waduk ini pernah menjadi lokasi Jamda (Jambore Daerah) Jateng. Tak heran, kalo kita akan menjumpai patung tunas kelapa sepanjang perjalanan menuju waduk.

Tlogowungu
Tlogowunguberbatasan langsung dengan Gembong, masih di lereng Gn. Muria. Potensi alamnya juga hampir sama. Bahkan luas hutannya lebih besar, namun lebih didominasi hutan karet dan jati. Hutan ini juga sempat menjadi sasaran perambahan liar di masa awal reformasi tahun 1997-1998 dulu. Pemukiman masih sangat sedikit di sini. Banyak pula penduduknya yangmengusahakan madu alami. Selain itu, ada pula daerah yang mengusahakan peternakan ulat sutera, tepatnya di Regaloh. Hasil akhirnya masih berupa benang pintal, belum sampai pada kain ataupun produk siap konsumsi.
Terakhir ke wilayah ini adalah beberapa waktu lalu, saat masih kuliah. Jadi sudah tak tahu lagi bagaimana perkembangan kehutanan dan usaha ternak tersebut. Bagi yang ingin tahu lebih lanjut, mungkin bisa menghubungi Dinas Kehutanan setempat.
Selain itu, daerah ini juga menghasilkan kopi, terutama jenis Robusta. Usaha ini dikelola oleh PTPN, pusatnya adalah di desa Jolong. Perkebunannya tak terlalu luas, sebagian tanamannya pun warisan Belanda. Jadi bisa dipastikan bahwa produksinya pun makin menurun. Cerita mengenai Jolong ini bisa disimak pula pada halaman arsip perjalananku.
Tempatnya yang sejuk menjadikan Jolong sebagai tempat perkemahan bagi anak sekolah. Tempat ini juga menjadi tempat keberangkatan para pendaki gn.Muria. Banyak shelter milik PTPN yang bisa menjadi tempat beristirahat malam para pendaki. Namun, jangan berharap shelter ini eksklusif..Banyak yang kondisinya memprihatinkan, terutama bagian MCK-nya.
Menyebut kopi Jolong, aku jadi teringat perjalananku saat Survival PMR di SMU, yang menjadi perkenalan pertamaku dengan tanaman kopi. Kami memulai perjalanan sehabis maghrib, karenanya tak bisa mengenali daerah sekeliling kami. Keadaan gelap gulita dan listrik hanya kami temui ketika memasuki perkampungan. Dalam perjalanan, kami diliputi ketakutan karena selalu mencium wewangian. Kami merasa wewangian ini terus mengikuti perjalanan kami dari awal hingga tempat menginap. Beberapa panitia juga sengaja “menakut-nakuti” kami. Untuk mengurangi ketakutan, akhirnya kami pun shalawatan dengan suara yang sangat kencang. Berharap tak ada penampakan maupun hal tak diinginkan lain akan muncul. Banyak panitia yang telah mengingatkan kami, jangan teriak kencang-kencang, namun peringatan itu tak kami gubris. Namanya juga takut.. Keesokan harinya, barulah kami sadar.. ternyata wewangian yang terus mengikuti kami itu adalah wangi bunga kopi. Yap, saat itu kopi sedang memasuki musim berbunga. Uhhhh, dasar.. dasar.. tahu gitu, kami tidak akan berteriak-teriak kencang sepanjang malam. Sungguh konyol.. Dasar panitia, pinter bener memanfaatkan ketidaktahuan kami.. tapi kalau tidak begitu, mungkin tak ada yang bisa kami kenang dari perjalanan itu. Huehe2…buat teman-temanku saat itu: Aang, Dina, Ima dll… masih ingatkah kalian dengan momen itu..?
Saat perjalananku beberapa waktu lalu ke Jolong, mengamati potensi vegetasi di wilayah tersebut, aku jadi berpikir, sebenarnya wilayah ini cukup potensial untuk pengembangan tanaman hortikultura, khususnya tanaman hias (bunga potong) dan sayur mayur. Suhu dan ketinggiannya tampak sesuai. Namun entah dengan tanahnya, apakah mendukung pengembangan potensi ini atau tidak. Apalagi, kondisi jalan menuju ke daerah ini alamak parahnya.. Seandainya 2 hal ini bisa diatasi, mungkin Jolong akan mengurangi ketergantungan warga Pati akan pasokan sayur mayur dan bunga potong dari Ungaran.

Juana
Juana was the most developed district in Pati. Bahkan banyak yang menyatakan bahwa daerah ini jauh lebih berkembang daripada pusat kota. Mengapa demikian? Perputaran ekonomi di tempat ini lebih dinamis. Letaknya yang berada di Pesisir membuatnya berkembang jadi pelabuhan yang cukup diperhitungkan. Banyak kapal dan perahu yang mendarat di wilayah, meskipun kini angkanya semakin menurun karena faktor sedimentasi di muara sungai yang menghambat berlabuhnya kapal ke pantai. Yap, berbeda dengan pantai selatannya yang makin terabrasi, pantai utara justru lebarnya makin bertambah karena terjadinya sedimentasi lumpur dalam jumlah yang cukup signifikan. Yap, tak ada satu pantai berpasir satu pun yang bisa kita temui di Pati, semua pantai di sini berlumpur alluvial. Oleh karenanya, tak bisa dikembangkan sebagai daerah wisata bahari.
Setiap hari, terutama pagi dan malam, para perempuan sibuk dengan aktivitas perdagangan ikan. Selain perikanan laut, maka perikanan darat, tambak juga berkembang pesat di daerah ini. Baik tambak garam, udang maupun tambak ikan bandeng. Di sepanjang jalur pantura, banyak kita temui tambak garam yang ditandai kehadiran gudang gedhek yang tertutup rapat. Jika terlihat kerlip lampu neon di malam hari, bisa disimpulkan bahwa yang diusahakan di tambak tersebut adalah udang.
Masih terkait dengan ikan, maka daerah ini juga terkenal dengan bandeng presto dan usaha fillet ikan. Konon, bandeng presto yang dijual di Semarang dipasok dari daerah ini. Sayangnya, justru Semaranglah yang terkenal sebagai penghasil bandeng presto, bukan Pati/Juana. Tak hanya perikanan, maka perindustrian juga cukup berkembang di daerah ini, yaitu kerajinan kuningan, dalam skala industri menengah ataupun rumahtangga. Produk yang dihasilkan adalah keran, kunci, furniture rumah, seperti kap lampu, dst. Banyak produknya yang dikirim ke luar daerah, di antaranya adalah Bali. Perjalananku pulang pergi Bali-Pati dengan bis, pasti disertai dengan berkardus-kardus paket kuningan yang dikirim ke berbagai toko/showroom di Bali.
Sayangnya, menurut penuturan temanku yang mengembangkan bisnis kuningan keluarganya, kini bisnis kuningan Juana menurun tajam. Pasarnya sangat terbatas karena harga jualnya yang cukup mahal, jika dibandingkan dengan produk serupa berbahan aluminium. Ketika kutanya, bagaimana dengan pasar di luar Jawa. Temanku menganggap potensi tersebut ada. Namun masalahnya kuningan tak terlalu dikenal dan dianggap tidak bernilai.
Terkait kuningan ini, aku jadi teringat kejadian di rumahku beberapa waktu lalu. Saat itu, gerendel pintu rumah rusak. Kami memanggil tukang kayu untuk memperbaikinya. Saat kami Tanya apakah perlu diganti atau tidak, tukang kayu menyatakan tidak. Sebaiknya gerendelnya tetap kita pertahankan, mengingat bahannya yang dari kuningan asli. Susah untuk mendapatkan gerendel kuningan asli seperti itu di zaman sekarang, kalaupun ada, pasti sangat mahal, sekitar 400ribu (haa.. hanya untuk gerendel saja..). Jika diganti, sayang.. karena gerendel yang umum di pasaran adalah gerendel aluminium yang mudah rusak, tidak tahan lama seperti kuningan. Akhirnya kamipun memutuskan untuk mengganti lempengannya saja. Huffp, ternyata kuningan memang mahal ya.. meskipun sebanding dengan daya tahannya juga. Bahkan ibuku bercerita, banyak pencuri di pasar yang mengincar anak timbangan kuningan, daripada mengincar barang lain. Ga terlalu kentara, namun nilai jualnya sangat mahal. Oh..oh..oh, ternyata..
Selain karena industrinya, banyak persepsi masyarakat yang menyatakan, bahwa warga Juana itu pinter-pinter, mengingat asupan protein (ikan) yang mereka konsumsi memang lebih banyak daripada penduduk di wilayah lain. Terkait dengan ini, aku juga teringat dengan teman-teman SMU-ku yang berasal dari Juana. Sebagian besar memang mendominasi peringkat teratas di sekolahku. Ya..ya..ya, stereotype yang dapat diterima..
Selain ikan, maka produk perikanan yang lumayan terkenal dari daerah ini adalah terasi. Hmm.. wangi dan kesedapannya memang dasyat !! Banyak perantau asal Pati yang memilih terasi sebagai oleh-oleh untuk dibawanya kembali ke daerah rantau. Aku pun demikian. Jika persediaan terasi di dapur kosan menipis, maka tak ada kata lain selain sms/telpon ke rumah, laporan, “Bu, kirimi terasi lagi yah.. dah abis ni..”
Selain terasi, ada satu lagi oleh-oleh yang wajib dibawa: kecap manis. Ada 3 merk kecap yang cukup digemari warga Pati: kecap Lele, Bukur atau Gentong. Merk terakhir adalah produksi dari Juana. Masing-masing merek memiliki penggemar fanatik. Aku adalah penggemar kecap lele, sementara teman dari Juana sangat menyenangi kecap Gentong. Ketika kami saling bertukar, komentar kami sama, “Ah, kurang sedap.. masih enakan kecapku..”
Selain produk ekonomisnya, maka Juana juga memiliki produk seni dan budaya, yaitu batik Bakaran dan ketoprak. Batik bakaran adalah batik tulis khas Pati yang diproduksi warga desa Bakaran. Dahulu, batik Bakaran identik dengan warna putih dan hitam, namun kini telah dimodif. Warna dasar kain bermacam-macam, ada biru muda/tua, ada kuning kunyit, ada hijau (muda dan tua), ada merah (marun dan pink) dst. Namun motifnya sama, yaitu torehan hitam dan putih, yang dibentuk seperti amuba dan berbagai makhluk bersel satu lainnya. Karena merupakan batik tulis, maka setiap lembar batik Bakaran dihargai cukup mahal, yaitu 90ribu. Untuk sementara ini, batik bakaran masih berwujud kain, belum dalam bentuk pakaian jadi.
Sejak munculnya isu pematenan batik oleh Malaysia, tren batik pun melanda Pati. Batik Bakaran yang sekarat pun dihidupkan kembali. Para PNS di Pati diwajibkan menggunakan batik Bakaran pada hari-hari tertentu. Setiap instansi mengggunakan warna khusus, guru menggunakan merah marun, sementara dinas pertanian menggunakan hijau, dan dinas kesehatan kuning, dst.
Copas dari https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmEu-P3DsW3Q8OlvaZ1ogRg2wlhgqpTSkARfl6_LlqUdV5e2iIHCHKtbg7BcQZWGOxo-hiHevWg2ZgdfIZDM6qD0Snzyn2fhgXJkMjbJqXlcajg-z0DVjib8zsbz1AqwRAH4btE6VhjjE/s320/TJOKRO3.jpg
Copas dari https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIXt60Fo8WeIh8pSyOw9hpwg1tadLczXjf9odlyQZqhzUuf87M4QOvjs1iiG6ebzJ-3WW6zOCK-d1LModCUWscYGGrJn9LysE7anEg6xTvSlapFPdjlVjxYUpSwxztSRpnId-Obj-eQHM/s320/fish+sutera.JPG
Copas dari https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9otL1wM79Pth5CUeIhaAEWt6YsRNV1gkU-c0BtG7tePwyh-gph1TYotwVZHaI26QgJaIaU9vq33lFT0tSOH0bfk-QHU12end6zIb7hh22v8VFvEcJm4PNhhLcsGtb-Vz2L1kcNQ-WU8w/s320/Anggur.JPG
Tren batik ini pun menular padaku. Domisili sementaraku di Bali membuatku wajib mempopulerkan batik Bakaran ini sebagai kain khas kampung halaman. Pati memang belum populer. Kalau bukan warganya, siapa lagi yang akan mengharumkan namanya.. Dan senangnya, saat hari pertama menggunakan batik Bakaran biru tua sebagai kemeja, semua langsung menanyakan.. ah unik, beli di mana tuh.. dan akhirnya, banyak pula yang nitip.. Lumayan, jadi peluang penambahan uang saku juga..huehe2.
Produk seni budaya kedua Juana adalah ketoprak. Hingga saat ini, masih ada kelompok kesenian yang eksis di daerah ini. Bahkan adapula kelompok ketoprak yunior, di mana pemain adalah siswa-siswa sebuah SD. Usaha pelestarian budaya yang patut ditiru, semoga usaha ini tak berhenti di satu generasi saja, namun terus kontinu.. sama seperti pelestarian musik angklung di saung Kang Udjo Bandung. Kan jadi daya tarik tersendiri juga tu..

Trangkil
Trangkil adalah kecamatan termuda Pati, yang dimekarkan dari wilayah kecamatan Wedarijaksa. Terletak 10 km dari pusat kota dan 7 km dari Juana. Ini merupakan kampung kelahiranku. Di sini pulalah keluargaku masih berdomisili hingga sekarang. Ada sebuah pabrik gula yang berdiri di sini. Tak heran jika daerah pertanian di sekitar wilayah Pati didominasi oleh tebu, terutama saat musim kemarau. Pabrik gula ini bernama PT. Kebon Agung, merupakan cabang pabrik gula Malang. Tak heran jika sebagian besar staf upper manajement dikirim dari sana. Mereka mendapatkan jatah perumahan di sekitar pabrik.
Dulu, semua staf itu kami anggap sebagai upper class di desa kami karena taraf kesejahteraannya kami anggap beberapa tingkat di atas TK. Tunas Harapanpenduduk kebanyakan. Kehidupan mereka kurang menyatu dengan masyarakat sekitar, jarang yang aktif dalam kegiatan desa. Jadi teringat dengan cerita Andrea Hirata tentang karyawan PT. Timah. Ya kurang lebih samalah. Namun segmentasinya tidak setajam itu. Perumahan staf PG tak dibatasi pagar tinggi, kami masih bisa mengaksesnya. Tak ada sekolah khusus yang didirikan untuk pendidikan anak-anaknya. Mereka bersekolah di tempat yang sama dengan kami. TK yang didirikan PG pun masih bisa diakses penduduk kampung. Demikian pula dengan fasilitas olahraganya.
Meskipun bersekolah di tempat yang sama, penampilan anak staf tetap terlihat beda dari anak kampung kebanyakan. Penampilan mereka lebih terawat, barang yang dimilikinya pun lebih eksklusif. Kami akan senang sekali jika diajak main ke rumah karena mainan yang mereka miliki bagus-bagus. Aku jadi mengenal majalah Ananda dan kaset dongeng anak karena bergaul dengan mereka.
ptkebon-agung-sugar-mill-of-trangkilPabrik gula Trangkil telah berdiri sejak pendudukan kolonial Belanda, entah tahun berapa aku tak ingat.. Tapi yang jelas, nama administratur pabrik dari zaman Belanda sampai sekarang masih terukir di batu depan kantor administrasi pabrik. Jika diruntut dari masa tanam paksa Van den Bosch yang mengenalkan komoditas perkebunan macam tebu, kopi, teh, kina, dll di Jawa, sekitar tahun 1830-an, maka pendirian pabrik ini pasti tak jauh dari masa-masa itu.
Pada masa kecilku, tebu dipanen dan diangkut ke pabrik dengan lori yang ditarik loko bermesin uap dan berbahan bakar kayu atau ampas tebu. java0001Oleh karenanya, ada jalur rel kereta api yang dibangun dari pabrik hingga ke Runting, 3 km dari kota. Tebu yang diambil dari daerah di luar itu akan diangkut dengan truk atau gerobak sapi (zaman jadul). Lori dan loko tersebut adalah warisan dari zaman Belanda, sama seperti kereta kuno yang ada di museum kereta di Ambarawa. Tahun pembuatan dan tulisan Belanda terukir jelas di badan samping loko. Aku lupa, persisnya tahun berapa. Saat musim giling, lori ini hilir mudik keluar masuk pabrik, terutama pada pagi dan sore hari.
Sayangnya, sejak pabrik mengalami krisis karena produktivitas yang makin menurun dan membanjirnya gula impor, pengoperasian loko ini dihentikan. Aku tak tahu apa alasan persisnya. Apakah karena pengoperasiannya yang tak efisien atau alasan yang lain. Padahal terkadang keberadaan loko ini menarik wisatawan juga lho.. aku sering melihat beberapa wisatawan asing yang mengambil gambar loko ini saat sedang beroperasi. Jika pabrik mau, mungkin ini bisa dikembangkan jadi objek wisata tersendiri, seperti yang dikembangkan Museum Kereta Ambarawa. Tak tahulah aku, apakah loko ini masih disimpan pabrik atau telah dijual. Yang jelas, kini relnya telah diambil dan sebagian kayu bantalannya menjadi rebutan banyak orang karena harga jualnya yang tinggi. Wajar, karena kayu jadul warisan Belanda itu terbukti awet dan tahan lama.
Bagi warga sepanjang rel, musim giling adalah masa yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Mereka bisa ikut menikmati manisnya tebu dengan menarik diam-diam ruas tebu dari lori, saat lori ini memasuki wilayah perkampungan. Selain itu, batang bunga tebu, yang biasa kami sebut panah, juga menjadi berkah tersendiri. Kami bisa menyulapnya menjadi berbagai macam mainan (mobil, kandang burung) ataupun pernak-pernik seperti album foto, pigura. Pokoknya asik..!
Musim giling pun diawali dengan Gantingi, yaitu sebuah festival untuk mensyukuri dan berdoa agar proses giling tahun itu berjalan lancar. Selain gantingi-di-lapangan-trangkil1syukuran, Gantingi juga diramaikan dengan pasar malam selama satu-tiga minggu. Banyak stand yang dibangun di sepanjang jalan dari pabrik hingga lapangan desa. Mereka menjual berbagai produk, mulai dari pakaian, barang-barang kebutuhan, pernak-pernik hiasan rumah, makanan dan terutama mainan untuk anak-anak. Berbagai jenis kesenian tradisional juga dipertunjukkan, baik di dalam pabrik maupun lapangan. Pertunjukan di pabrik biasanya hanya bisa dinikmati oleh karyawan dan keluarganya. Biasanya merupakan ajang bagi karyawan ataupun anggota keluarganya untuk menunjukkan bakat seninya. Meskipun bukan karyawan pabrik, namun keluargaku pun pernah menikmati pertunjukan di dalam pabrik ini, seingatku hanya dua kali. Dan saat itu adalah saat pertama kalinya aku melihat bagian dalam pabrik yang dipenuhi oleh mesin-mesin tua yang berukuran raksasa. Pengalaman menakjubkan yang terus terkenang sampai sekarang.
Yap, gantingi adalah masa untuk memanjakan anak-anak. Berbagai mainan, mulai dari dremolen (komidi putar), ombak banyu, tong setan dan rumah hantu bisa kami nikmati. Bagi remaja, Gantingi adalah saat untuk ngeceng mencari jodoh. Mereka akan menggunakan kostum terbaiknya setiap keluar jalan-jalan bersama teman-temannya. Kini, Gantingi tak seramai masa dulu. Hanya berpusat di lapangan, tak lagi di sepanjang jalan dari pabrik-lapangan. Namun bagi anak-anak, efeknya sama. Saatnya dimanjakan!! Dan bagi orang tua, efeknya juga sama. Shopping time !!
Tak hanya oleh pabrik gula, tapi aktivitas ekonomi di Trangkil juga diramaikan oleh perdagangan, karena ada satu pasar yang cukup ramai di pusat kecamatan. Selain pertanian, maka pembuatan batu bata dan genteng juga banyak ditekuni warga. Nama Trangkil cukup terkenal dengan 2 produk ini. Kegiatan ini terutama dilakukan pada musim kemarau. Mereka melakukannya di sekitar rumah. Penjemuran hasilnya dilakukan di halaman rumah atau bahkan di jalanan. Usaha ini padat karya, sebagian besar tahapannya masih dilakukan dengan tenaga manusia, bukan mesin. Bahan baku lempung/tanah liat dibeli dari Pasucen, desa tetangga yang tegalannya banyak mengandung unsur lempung. Pembakaran bata dan genteng biasanya dilakukan dengan bahan bakar kayu atau ampas sisa giling yang biasa di sebut mblothong. Bata dan genteng diselimuti oleh rambut (bahasa lokal untuk sekam) lalu dibakar dengan kayu/mblothong tersebut. Sekam hasil pembakaran ini akan menjadi abu gosok yang akan dijual kepada para pedagang telur asin atau ibu rumahtangga. Selain dua jenis produk tersebut, ada pula industri rumahtangga yang menghasilkan makanan kecil, yang bermerk bawang putih. Produknya cukup variatif, ada sekitar 50 jenis makanan kecil yang dihasilkan, mulai dari kerupuk ikan, ceriping pisang, singkong, gadung, sukun, sangkolu, dan berbagai macam lainnya. Salah satu alternatif oleh-oleh juga. Dan makanan inilah yang kupilih sebagai oleh-oleh tiap kali ke Bali. Tiap habis pulang, pasti teman-temanku menanyakan, “Kerupuknya mana, mau donk..!”
Di beberapa wilayah Trangkil, khususnya di daerah pesisir, berkembang pusat pendidikan Islam yang cukup terkenal, seperti Guyangan dan Sambilawang. Setiap tahun diadakan haul peringatan hari kematian salah seorang ulama di daerah tersebut. Haul biasanya disertai dengan karnaval dan parade marching band dan rebana. Hiburan yang mengayikkan juga. Banyak tambak yang dibangun di sepanjang pesisir.

Wedarijaksa.
Banyak produk agrobis yang bisa didapatkan di wilayah ini, misalnya jambu bol. Jambu ini berwarna merah tua jika telah matang, lumayan berair dan rasanya kecut-kecut seger. Cocok untuk dirujak. Jika musim, bisa ditemui di sepanjang jalan dari nJontro ke Ngrames. Banyak pedagang yang menjualnya. Selain jambu bol, ada pula matoa. Buah ini banyak dihasilkan di Ngurensiti. Hampir setiap rumah memiliki tanamannya. Bentuknya bulat agak oval, kulitnya tipis, jika matang berwarna hijau kemerahan. Rasanya merupakan kombinasi dari durian, rambutan dan kelengkeng. Hmm.. pokoknya yummy..

Margoyoso
Margoyoso adalah kecamatan yang terkenal dengan pesantren dan sekolah Islamnya. Daerah ini merupakan basis NU. Banyak ulama terkenal dari daerah ini, misalnya Kyai Sahal Mahfud yang pernah menjadi ketua MUI. Selain itu, daerah ini juga banyak dikunjungi warga berbagai daerah yang berziarah ke makam syeh Mutamakkin, ulama perintis penyebaran Islam di wilayah Pati. Selain ramai karena ziarah, maka haul dari berbagai ulama juga silih berganti meramaikan daerah ini. Selain karena aktivitas pendidikannya, maka Margoyoso, terutama daerah Ngemplak terkenal sebagai penghasil pati kanji, atau yang lebih dikenal dengan nama tepung tapioka. Aktivitas pengolahan ini berlangsung terus menerus, terutama musim kemarau. Tak hanya dilakukan skala rumahtangga, namun juga menengah/industri besar. Setiap kali melewati wilayah ini, hamparan putih menghias di mana-mana. Tak hanya itu, bau kecing limbah kanji juga tercium keras. Limbah ini mengalir dengan bebasnya ke sungai. Ga tahu apakah ini membahayakan lingkungan atau tidak. Saat penelitianku di SMP dulu, pemilik usaha tepung mengeluhkan tentang mulai berkurangnya debit air tanah di wilayah ini. Pengolahan tepung ini sangat boros air dan hampir semua usaha menggunakan pasokan air tanah sejak dari dulu. Jika tak segera dipikirkan bagaimana alternatif selanjutnya, kelangsungan usaha ini sangat mungkin terganggu karenanya. Pertambakan udang dan bandeng juga dikembangkan di pesisir kecamatan ini.

Kayen
Di daerah ini berdiri beberapa sekolah Islam. Selain itu, adapula daerah yang mengolah kapuk randu, yaitu di desa Karaban. Kapuk randu ini dijual dalam bentuk kapuk mentah ataupun bahan jadi seperti bantal, guling atau kasur. Usaha ini mulai menurun mengingat makin maraknya kasur, bantal dan guling yang terbuat dari busa.

Sukolilo
Sukolilo adalah kecamatan ujung selatan Pati yang berbatasan dengan Kabupaten Grobogan. Ada beberapa wilayahnya yang didiami suku Samin, yaitu komunitas terasing yang lahir dari petani yang melarikan diri dari kewajiban pajak dan tanam paksa Belanda dan pemerintah lokal saat kolonialisme. Tokoh pemimpinnya bernama Samin. Mereka sangat terkenal dengan pembangkangan ini. Sehingga pada zaman sekarang, anak/warga yang suka membangkang sering disamakan dan diejek, “Dasar Samin..”. Aku juga pernah mendapatkan panggilan Samin dari guruku karena bandel. Huehe2. Orang Samin sering diidentikkan dengan penggunaan iket dan pakaian hitam. Ke mana-mana mereka lebih memilih berjalan kaki, sama seperti orang Baduy luar yang sering kujumpai menjual madu di kampus. Hingga kini, mereka masih mempertahankan kesahajaannya dan enggan menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan formal. Mereka menganggap pendidikan terbaik adalah pendidikan oleh keluarga, internalisasi nilai-nilai dari orang tua. Meskipun demikian, mereka mengakui adanya pemerintahan daerah. Hal ini diwujudkannya dengan melakukan sedekah bumi, yaitu mengirimkan hasil pertaniannya ke pemerintah, yang dianggapnya sebagai persembahan, tanda pengakuannya. Jadi seperti penyerahan upeti kepada raja-raja di zaman dulu ya..
Saat ini masyarakat Saminlah (didukung elemen masyarakat lain) yang berteriak keras terhadap upaya pemda untuk membangun pabrik semen di wilayah ini. Hal ini lahir bukan semata-mata karena mereka terbiasa membangkang, namun lebih pada kesadaran mereka untuk memelihara lingkungan alam yang menjadi tempat bergantung hidupnya selama ini. Kesadaran untuk memelihara sumber air yang mengairi lahan pertanian yang mereka maupun masyarakat luas usahakan di daerah tersebut. Sementara pemda bersikeras bahwa hal ini perlu dilakukan karena mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi penduduk, sehingga mereka tak perlu lagi boro ke luar daerah. Entah siapa yang akan menang.. semoga hasil kompromislah yang tercapai. Hasil yang bisa berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat namun juga tetap mempertahankan kelestarian ekologi pegunungan kapur.
Berbincang tentang potensi Sukolilo, aku jadi teringat pada kunjunganku saat SMP ke rumah salah seorang temanku. Neneknya mengusahakan minyak dari biji jarak yang ditanamnya di tegalan. Menurut beliau, hal ini telah dilakukannnya sejak dulu. Hasil penyulingan minyak jarak ini dijual ke pengusaha batik Solo, yang menggunakannya untuk bahan bakar pembatikan (entah di tahapan yang mana..). Jadi potensi pengembangan biodiesel minyak jarak bisa dikembangkan di wilayah ini, karena mereka telah memiliki akarnya sejak dulu. Yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana menciptakan pasar dan menjaga kestabilan harganya.

Gabus dan Winong
Gabus dan Winong adalah 2 kecamatan di wilayah selatan Pati. 27032009010Identik dengan Sukolilo, Pucakwangi, Jaken, Jakenan dan Kayen, wilayah ini cukup kering, baik secara fisik maupun potensi. Kegiatan perekonomian yang dikembangkan adalah pertanian tadah hujan. Hanya sebagian lahannya yang mampu diolah dengan tebu atau tanaman palawija pada masa kemarau. Saat kemarau, tanah di daerah ini sangat kering, nela, bahasa lokal untuk tanah yang pecah-pecah. Beberapa waktu lalu, Winong sempat menjadi daerah percontohan tambak bandeng tawar. Entah bagaimana perkembangannya sekarang.. Sedangkan Mintorahayu, Gabus adalah sentra perikanan lele. Hampir semua lele yang dijual di pasar-pasar Pati dipasok  dari daerah ini.

Batang
Batang adalah kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Rembang. Daerah ini juga berkembang sebagai sentra garam dan tambak, sama seperti Juana.

Tayu dan Dukuhseti
Tayu dan Dukuhseti berkembang untuk usaha perikanan tangkap dan tambak. Agrobisnis dengan produk Semangka juga berkembang di wilayah ini.

Cluwak
Cluwak dikembangkan untuk perkebunan cengkeh dan pertanian tadah hujan. Usaha batu kali juga berkembang, karena sungai-sungai besarnya menyediakan pasokan yang cukup melimpah.
Gunungwungkal
Terus terang aku pun belum mengunjungi kecamatan ini. Namun yang kudengar dari seorang teman, daerah ini menjadi sentra ternak sapi. Ribuan sapi diternakkan di wilayah ini.

Mungkin itulah sekilas tentang Pati dan potensinya. Sebenarnya masih banyak daerah yang belum terbahas. Namun, terbatasnya pengetahuan dan kesempatan untuk eksplor membuatku belum mampu menuliskannya. Jika suatu saat nanti aku berkesempatan ke Gunungwungkal, Jakenan dan Batangan mungkin tulisan ini akan lebih komprehen..

Seiring waktu, aku berharap page ini akan terus kulengkapi dengan berbagai topik dengan Pati, misalnya wisata kulinernya, logat dan idiom bahasa Pati yang khas serta bangunan-bangunan kuno sepeninggalan Belanda yang masih bisa kita jumpai di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.