Minggu, 21 Oktober 2012

Apa yang terjadi dengan Gaya Hidup Remaja Kita


Cah-cah saiki jan aneh-aneh tenan..” ujar ibuku pada suatu sore. “Kenapa Bu..” tanyaku. “Anak tetangga yang baru kelas 2 SMP menghamili dua temannya. Kemarin, sepasang anak siswa kelas 6 SD juga ditemukan ML di pematang sawah dekat sekolahnya. Semuanya akhirnya dikeluarkan dari sekolah..” jawab ibuku sambil mengurut dada. “Wis, pokoke aneh-aneh tenan zaman saiki.. Kalau dihitung berapa remaja sekitar kita yang terpaksa putus sekolah karena hamil atau menghamili, wis jan, akeeh tenaaan.. Berapa pasangan yang terpaksa menikah karena perempuannya hamil duluan, weiss, luwih ra keitung lagi.. Berapa orang yang akhirnya bercerai karena pasangannya tertangkap basah berselingkuh dengan orang lain juga jumlahnya ndak karu-karuan..”
Dan aku pun terdiam. Yah, mau ndak mau, diakui ataupun tidak, free seks yang konon katanya bukan adat kita, yang konon katanya ndak sesuai norma ketimuran yang kita anut, yang melanggar semua ajaran agama yang berlaku di Indonesia, sekarang sudah umum terjadi di masyarakat kita. Tak hanya di kota-kota besar, namun juga di desa-desa. Globalisasi yang didukung pesatnya perkembangan media, membuat orang mudah mengakses tayangan esek-esek. Adegan yang belum sepantasnya ditonton oleh pemirsa belum dewasa hilir mudik dengan leluasanya di media elektronik. Kesan yang tercipta: orang luar itu mudah sekali untuk bercinta. Sekali bertemu, bisa langsung ML, langsung lipkiss, dst. Karena seringnya ditayang, maka kita pun jadi permisif dan merasa itulah gaya hidup masa sekarang. Gaya hidup modern. Jika ndak begitu, anda ndak gaul.
Aku hanya ingin berpendapat  :  free seks makin marak dan nyata, maka orang tua wajib memberikan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Sudah ndak zamannya lagi orang tua sungkan dan enggan untuk berbincang mengenai masalah seks dan kesehatan reproduksi karena menganggap hal itu tabu untuk dibicarakan.
Mengapa ini perlu dilakukan ? Biar jadi panduan dan dasar pertimbangan anak-anak kita sebelum mereka memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan free seks. Sehingga mereka sadar dan tahu benar dengan apa yang akan dilakukannya. Bukan sekedar dorongan nafsu belaka apalagi hanya untuk mengikuti tren saja.
Lalu kapan itu perlu dilakukan ? Menurutku si sejak dari SD. Lhah, kan ntar di SMP ada pelajaran biologi yang memberikan materi reproduksi. Iya sih, tapi menurutku itu udah telat. Lha wong dari SD aja udah ada yang mule main-main (merujuk kasus di atas). Lagian kalo pas pelajaran di sekolah kan biasanya berujung pada hafalan dan nilai di raport saja, ndak menekankan pada apa pentingnya materi itu untuk kehidupan sehari-hari. Nah, kalo antar ortu-anak, sebisa mungkin pendekatannya adalah ” ini untuk kepentingan si anak..”
Lalu apa saja yang harus diobrolkan antar ortu-anak terkait seks ? Menurutku, anak-anak perlu dikenalkan apa itu seks, apa itu free seks, apa itu seks yang sehat, apa itu organ reproduksi, apa fungsinya, bagaimana perawatannya, mengapa organ tersebut perlu dirawat, dst. Mereka juga perlu dikenalkan kebiasaan dan mitos-mitos seputar seks.
Selain itu, menurut pengalaman pribadiku, jika orang tua ingin melakukan pendidikan seks dengan pendekatan agamis, maka berikanlah keterangan yang logis, ndak sekedar dogmatis : free seks adalah dosa. titik. Orang tua harus berusaha menjelaskan mengapa hal tersebut dilarang dan mengapa menurut agama seks hanya bisa dilakukan pasangan setelah menikah. Berikan penjelasan apa pentingnya pentingnya lembaga pernikahan sebelum seks dilakukan. Berikan pula penjelasan mengapa free-seks itu beresiko, berikan pertimbangan kesehatan di dalamnya, misalnya saja kemungkinan penularan penyakit kelamin dan degeneratif semacam HIV/AIDS.
Jika tidak memberikan pendidikan ini secara dini, maka jangan salahkan anak anda yang karena penasaran atau karena tekanan pergaulan teman sebayanya* akhirnya melakukan seks bebas pra nikahyang berujung pada pernikahan dini. Jangan kaget juga jika kemudian makin banyak praktek aborsi ilegal terjadi, penularan penyakit kelamin makin tinggi. Ini bukan semata-mata salah dia dan pasangan free seks-nya, namun juga salah Anda.
Last, tulisan ini bukan sok mengajari. Hanya untuk pengingat bagi diri sendiri, jika aku sudah menikah dan punya anak nanti.. :)
*Misalnya malu dikatakan masih perawan oleh teman-teman sebayanya.. Ini betul terjadi pada lingkungan yang pernah kudiami. Seorang remaja putri yang masih pelajar SMP akhirnya menyetujui  ML dengan pacarnya karena takut dikata-katai “the virgin” oleh teman-temannya)

sumber : http://deeadewie.wordpress.com/2012/03/01/free-esek-esek/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.