Minggu, 16 Juni 2013

Junior Producer English talk show program on Metro TV

URGENTLY NEEDED:

A Junior Producer level to help in the production of a running English talk show program on Metro TV. The show interviews globally-known and important public figures from all walks of life, to inform and inspire our discerning and quality audience.

We're looking for someone with:

1. Great passion to work for broadcast industry,
2. Excellent communication skill in English,
3. Minimum of 2 years of experience in broadcast or media/communication-related industry,
4. Minimum S1 or Bachelor Degree of any majors,
5. Design-graphic and/or video editing skill is an additional point,
6. A team player person, posses high motivation and positive attitude.


If you think you meet these criteria, please email us your CV directly to: lisamerie@gmail.com.



Lisa Parantean
Producer
Metro TV - Indonesia -

Kalau dunia berubah, mengapa kita masih tetap stagnan?

Hari minggu bagi sebagian orang adalah hari bersih-bersih. Termasuk saya mungkin. Sembari mengantar dan menunggu istri ada acara, saya keliling cari cucian mobil. Maksud hati sekalian menyelam, minum air.

Dan seperti di duga, antrian di cucian mobil panjang-panjang sekali. Kalau sekali nyuci saja bisa 30-45 menit dan antriannya 6 mobil, kapan selesainya. Akhirnya saya coba-coba muter-muter, kali aja ada cucian mobil yang lagi sepi. Dan alhamdulillah, ada! Sepi, saking sepinya, hampir nggak ada "tanda-tanda kehidupan".

Setelah tanya-tanya, ada orang (yang mungkin ownernya) bilang, "ada/bisa" cuci mobil disini (memang ada spanduknya sih). Agak mencurigakan juga, kenapa yang lain sedang di antriin orang, yang ini nggak.

Akhirnya satu persatu "rahasia"-nya terkuak... Yang nyuci disini cuma satu orang, sudah begitu terlihat kurang cekatan melayani saat saya datang, fasilitas menunggu kurang nyaman dan secara umum tampilan cucian mobil ini agak "kumuh", lebih mirip bengkel daripada cucian mobil.

Sahabat, ada kalanya usaha kita masih kecil. Tetapi alhamdulillah mungkin ia sedang dalam proses menjadi besar. Namun ada juga yang sudah bertahun-tahun, ya segitu-gitu aja. Enggak ada perkembangan.

Banyak faktor mungkin yang mempengaruhi, salah satunya adalah "improvement". Bagaimana kita bisa berubah, berinovasi untuk terus menjadi jauh lebih baik. Dan untuk bisa seperti ini kita harus banyak belajar, tidak pernah malu untuk mencari ilmu-ilmu baru demi memajukan usaha kita.

Berpuas diri dengan kemajuan masa lalu (betapa pun besarnya kita saat itu), adalah bahaya laten. Berpuas diri yang membuat kita terlena dan tidak aware, bahwa dunia berubah, konsumen berubah, kompetitor berubah adalah berbahaya.

Dalam salah satu buku lamanya Hermawan Kertajaya pernah menulis 4 faktor perubahan yaitu : teknologi, budaya, politik dan ekonomi. Kita harus selalu aware dengan 4 hal ini dan bersiap-siap beradaptasi dengan perubahannya.

Dalam konteks bidang yang sedang saya geluti, saya kadang menemukan ada beberapa pengusaha yang sulit diberi "enlightment" tentang pentingnya memperhatikan masalah desain tampilan marketing tools mereka. Bahasa yang digunakan masih sama : "menurut saya"... Pada masa lalu, apa yang "menurut saya" mungkin masih bisa diterima pasar. Tetapi sekarang, atau di masa depan, "menurut saya" bisa jadi tidak relevan lagi dengan "menurut konsumen".

Ada seorang pengusaha yang istrinya "keukeuh" mempertahankan desain kartu namanya yang sudah bertahun-tahun dia gunakan (dan dia desain sendiri), padahal desainnya agak kurang komunikatif. Bukan saja kurang menjual, tetapi bahkan orang lain sulit membacanya. (Bayangkan sebuah kata dengan font hitam di atas tulisan biru gelap).

Sementara ada pengusaha lain yang setelah 15 tahun berbisnis dan menggunakan logo lamanya, berkenan minta tolong ke kami dan mengubah logonya menjadi lebih "elegan".

Apa efek masing-masingnya? Mungkin tidak langsung terlihat. Yang jelas, sampai sekarang, perusahaan pertama terlihat masih sangat mengandalkan ownernya dalam pengembangan perusahaan. Sementara pengusaha kedua, dengan logo baru tersebut, ada spirit baru di kalangan karyawannya, sehingga mereka lebih "pride". Dan hal ini terasa pada klien-kliennya. Ujung-ujungnya tentu omset, dan pengusaha kedua itu terbantu semangat tim. Klien-kliennya juga menjadi semakin yakin pada perubahan semangat tersebut, sehingga mereka order lebih banyak (begitu pengakuan pengusaha kedua ini kepada saya).

Jangan biarkan ego pribadi kita membuat usaha kita tetap menjadi bonsai. Terkesan indah di mata, tetapi tak pernah besar. Mari lebih terbuka, menerima hal baru, metode baru, ide baru dari orang lain. Kalau dunia berubah, mengapa kita masih tetap stagnan?

Jika pun kita sekarang masih kecil, jangan minder. Sebab tentu berbeda, antara yang masih kecil dan yang "tetap kecil"...

Insya Allah dengan sikap-sikap positif, seperti keterbukaan, kreatif, pantang menyerah, sabar dan yakin, usaha kita akan besar suatu saat. (Dan bisa jadi pada sebagiannya, hal itu tinggal menghitung hari)...

Salam sukses sahabat-sahabat...


Hendro Tri Rachmadi

Tips Mengubah Strategi menjadi action

Dalam konteks manajemen stratejik, seringkali orang bilang bahwa strategi banyaknya dipegang oleh para top manajemen dalam suatu perusahaan yang hanya menurunkannya dalam bentuk buku atau tulisan yang dibuat dan kemudian diserahkan kepada manajemen di bawahnya sampai level staff.

Selanjutnya adalah menjalankannya dan para top manajemen mengawasi action dari rencana stratejik tersebut.

Memang seperti itulah peran seorang top manajemen dalam suatu perusahaan yang memegang peranan stratejik dan tidak turun ke lapangan dalam arti menjalankan day to day operation dalam perusahaan.

Akan tetapi, apa yang harus dilakukan agar bawahan menjadi mengerti dan mampu mengukur capaian atas target pekerjaan yang harus dicapai. Salah satu tools yang bisa digunakan adalah Balanced Score Card yang sudah biasa digunakan oleh banyak perusahaan besar dalam sistem manajemen mereka selain sebagai alat ukur kinerja perusahaan dan manajemen tersebut.

Balanced Score Card ini memberikan penilaian atas kinerja keuangan dan kinerja non keuangan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan mereka setiap tahun. Kinerja non keuangan tersebut terdiri dari pemasaran, operasi dan SDM dan IT dalam melihat kinerja perusahaan yang selama ini hanya menekankan pada aspek keuangan.

Dalam kerangka bagaimana membuat strategi tersebut menjadi action, dalam setiap perspektif keuangan, pemasaran, operasi dan SDM dan IT dapat dilihat bagaimana tujuan (objective), alat ukur (measurement), target yang hendak dicapai (target) dan program (initiative) untuk mencapai target tersebut.

Jadi, dengan pemahaman dan aplikasi Balanced Score Card ini akan membantu top manajemen dan level manajemen untuk bekerja dan mengukur kinerja mereka.

Semoga Bermanfaat...

Silahkan dapatkan tips2 manajemen bisnis lainnya di : http://gimbfoundation.org/
*Update setiap hari....

Salam Bipoz!


Agus Santoso

Business Proses

Business Proses adalah bahasan para profesor, baik itu formal ataupun informal, diperlukan keilmuan dan pengalaman yang tinggi untuk membuat strategi Business Proses Management. Oleh karena itu, saya hanya akan mencoba  meng-copy lalu mengkorelasikan dengan kegiatan bisnis yang sering saya alami dan teman-teman para pebisnis pemula.

Prinsip pertama yang akan kita pelajari bersama  adalah Mindset/ Pola Pikir Efektif-Efisien
Kata-kata ini begitu populer. Namun bagaimana dengan pelaksanaannya?

Efektif-efisien terhadap cost seringkali  kurang difahami.  Kerangka berfikir efektif efisien dalam membuka usaha baru seringkali diabaikan.
“ Our business is technology, yes! But also operation and costumer relationship”
Padahal perusahaan besar sangat peduli mengenai hal ini, karena akumulasi dari kecerobohan cost akan menjadi kerugian luar biasa dan menjadi bom waktu yang mematikan.

Berikut hal yang sering dijumpai dalam proses business :
1. Membeli bahan baku di supermarket atau minimarket, mengabaikan harga yang lebih murah dari pasar tradisional.
2. Melakukan pembelian retail sehingga harga menjadi mahal. Padahal dengan pembelian banyak akan lebih murah.
3. Tidak memiliki dana untuk membeli bahan secara massal (agar lebih murah) dikarenakan banyak dana dikeluarkan untuk set-up hal yang “mewah”.
4. Mendahulukan gengsi dibandingkan kesehatan usaha.
5. Tidak mau lelah, sehingga hambur merekrut pegawai.
6. Keuangan yang tidak tercatat rapih.
7. Ditandai omzet bagus tapi keuntungan tidak jelas lari ke mana.
8. Penghitungan penentuan harga yang tidak aman, sehingga rawan bila terjadi kenaikan bahan baku.
9. Mental menghamburkan uang yang tidak berhubungan langsung dengan proses usaha.
10. Merubah gaya hidup menjadi  boros ketika merasa ada peningkatan keuntungan walau sedikit.
11. Dan banyak lagi.
Sudah ada yang angguk-angguk ?

Efisien-efektif terhadap cost merupakan hal  penting. Ketika kita memahami kerangka berfikir efisien-efektif, beberapa bagian dari proses bisnis akan membaik.

Berikut beberapa hal yang saya pelajari dan berdasarkan pengalaman, yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kefahaman kita terhadap efektif-efisien cost terhadap business proses :
1. Perketat pengeluaran uang terhadap sesuatu yang tidak menghasilkan uang.
2. Menahan diri dari sikap boros dan gaya hidup berlebihan.
3. Tentukan output yang jelas, jaga ketat proses, perencanaan yang baik untuk mengurut list input yang dibutuhkan.
Siap untuk mencoba ?

Dapatkan tips2 bisnis lainnya; entrepreneurship, management strategic, manajemen, dll... rutin tiap hari update.. di website kami : http://gimbfoundation.org/