Simbolisasi atas hakekat makna, sering digunakan manusia untuk berkomunikasi. Dan biasanya yang digunakan adalah lambing huruf, benda, atau logo, dan lain-lainnya. Kesulitan dalam mengungkapkan apa yang ingin disampaikan menjadi sebab mengapa manusia memilih bahasa symbol atau logo dalam mengungkapkan apa yang diinginkannya. Hal ini dikarenakan, sebab apa-apa yang ingin disampaikan dan diungkapkan tidak di wadahi oleh tata bahasa manusia atau juga perlu banyak sekali interprestasi dan penjelasan yang harus dituliskan untuk menggambarkan yang dimaksudkan.
Ungkapan rahsa, ungkapan makna filosofi, bahkan ungkapan dalam ‘science’ sendiri memerlukan ‘lambang’, atau ‘logo’ atau ‘simbol-simbol’, agar mampu dikomunikasikan kepada manusia lainnya. Sebuah symbol dianggap akan mampu mewakili apa yang ingin disampaikan, sehingga para ilmuwan, para filsus, para ahli komunikasi, dan lain-lainnya sering menggunakan ‘model’ bahasa simbolisasi seperti ini.
Bahasa yang simple, sederhana namun kaya makna. Inilah yang diinginkansimbolisasi dalam tata bahasa manusia sangat diperlukan. Kesulitan dalam ber tata bahasa sepertinya mampu di urai dengan menggunakan bahasa ini. Selanjutnya, lambang atau logo atau symbol inilah yang menjadi alat komunikasi antar manusia, antar bangsa, suku, agama, bahkan melintas generasi. Seluruh tata bahasa manusia, apapun itu suku, agama atau keilmuannya pasti menggunakan bahasa ini, yang akan diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya.
Keunikan bahasa symbol adalah dalam sifat universal-nya. Bahasa yang akan mampu ditangkap siapa saja. Meski makna mungkin akan sangat tergantung kepada masing-masing yang mencoba memahaminya. Keluasan dan kedalaman bahasa symbol sangat tergantung kepada ‘kedewasaan’ kesadaran para pembacanya. Satu bahasa symbol jika diterjemahkan mungkin saja akan menjadi sebuah buku yang tebal sekali. Itupun masih sangat tergantung siapakah yang menjelaskan bahasa symbol.
Jika seseorang mampu membaca bahasa symbol sebagaimana yang dimaksud dalam interprestasinya, maka kadang pembaca tersebut sudah mampu membaca isi keseluruhan dari buku tersebut, tanpa harus membaca keseluruhan isi buku tersebut. Inilah keunikan bahasa symbol dalam tata bahasa manusia.
Einstein menggunakan bahasa symbol ;
‘E’ untuk memvisualisaikan hakekat Energy ,
‘m’ untuk menggambarkan masa (materi), dan
‘c’ untuk menggambarkan suatu ‘gerak’benada yang memiliki ‘kecepatan’ yang setara dengan kecepatan cahaya.
Dituliskannya ; E = mc2
Orang-orang yang tidak memiliki referensi atas apa yang disimbolkan Einsten, tidak akan mampu membaca apa yang ingin disampaikan oleh Einsten.
Sehingga jika pembaca belum memiliki referensi atas apa yang dimaksudkan dengan ‘Energy’, jika dia belum memiliki referensi perihal ‘masa’ , jika dia belum memiliki referensi akan ‘kecepatan’ yang dimaksudkan itu. Maka bagi dirinya simbolisasi ini tidak memiliki makna apa-apa. Kosong saja. Dan khabar yang ingin disampaikan Einsten menjadi sebuah ke ‘sia-sia’ an saja. Namun Ketika ketemu dengan orang yang tepat maka bahasa symbol ini akan menjadi sangat ‘luar biasa’ sekali. Bahasa symbol akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang ber-ilmu dan memiliki ketertarikan yang sama.
Oleh karenanya bahasa symbol hanya akan mampu dibaca oleh orang-orang yang memiliki kapasitas untuk membaca symbol-symbol. Dalam hal ini adalah para ilmuan yang berkecimpung dalam fisika nuklir.
Maka kita dapati, dari bahasa symbol yang di sampaikan Einsten~kemudian di baca oleh ahli fisika nuklir, terciptalah bom atom. Bahkan saat sekarang ini, energy listrik pun memanfaatkan hasil dari ‘membaca’ bahasa symbol yang dilakukan oleh para ahli fisika nuklir.
Sekarang ini dunia di kuasai oleh ‘kekuatan’ yang berhasil di implementasi dari sebuah bahasa symbol E = mc2. Siapa yang menguasai ‘energy’ maka akan menguasai dunia. Maka orang-orang yang memiliki kemampuan ‘membaca’ bahasa symbol ini, menjadi sangat mahal harga nya. Karena demikian langka-nya orang-orang seperti ini.
Maka dari itu Islam sangat berkepetingan sekali dalam hal ini. Islam menginginkan umatnya untuk mampu membaca bahasa symbol. Islam memahami bahwa betapa pentingnya bahasa symbol dalam perkembangan peradaban tekhnology manusia. Dalam pendewasaan kesadaran manusia. Dalam penyempurnaan jiwa manusia. Maka banyak surah di dalam Al qrur an di mulai dengan bahasa symbol ini.
~ A(alif) la (lam) ma (mim) ~
Inilah salah satu bahasa symbol dalam Al qur an, (dimana) yang di gunakan adalah huruf-huruf Al qur an itu sendiri (arab).
Bahasa symbol Einsten menjelaskan bagaimana mekanisme Energy yang berlaku di alam semesta. Suatu ‘masa’ yang di berikan ‘percepatan’ sedemikian rupa sehingga dirinya ‘bergerak’ dengan kecepatan kudrat dari kecepatan cahaya, maka masa itu akan membelah. Ketika membelah akan melepaskan energy yang maha dahsyat mampu menghancurkan apa saja. Maka ‘proses’ ini harus berada dalam tempat yang benar-benar ‘tertutup’. Inilah hakekat makna postulat Eisnten.
Energy yang tercipta dari ‘proses’ ini adalah energy yang bersifat sebagaimana pisau yang bermata dua. Bisa bermanfaat atau malahan akan menghancurkan dunia. Dan hingga saat ini mansuia masih dilanda kekhawatiran atas ‘efek’ yang dapat di timbulkan atas ‘nuklir’ ini. Inilah sifat ‘energy’ yang ditemukan manusia dari hasil membaca tanpa menggunakan nash Al qur an. Ketika manusia ‘membaca’ tidak atas nama Tuhan maka apa-apa yang dihasilkan akan menjadi pedang bermata dua.
Maka umat muslim diingatkan berkali-kali, agar mampu membaca dari Al qur an saja, agar manusia terhindar dari problematika ‘teknology’ yang di ciptakannya sendiri. Ketika manusia ‘membaca’ tidak atas nama Allah maka apa-apa yang dihasilkan akan menjadi pedang bermata dua. Membaca dengan niat yang tidak di tujukan karena Allah. Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Akan menghasilkan dualitas kembali. Kebaikan dan keburukan atas hasil tekhnology yang diciptakan. Inilah problematikanya
Kebutuhan manusia akan filosofi yang menjadi pijakan perkembangan tekhnolgy bagi peradaban manusia sebenarnya sudah difasilitasi oleh Al qur an dengan bahasa symbol yang dimaksudkan~ bahasa tersebut haruslah dimaknai oleh umat muslim yang (memang) memiliki kapasitas untuk ‘membaca’. Sebagaimana para ilmuwan fisika nuklir membaca symbolisasi dalam postulat Einsten. Nanti kita kan melihat, setelah kita sandingkan kembali postulat Alif lam mim dengan postulat E = mc2 bahwa postulat Alif lam mim, memiliki kedalaman makna yang lebih sangat luar biasa dalam menjelaskan kaitan Energy dan seluruh alam semesta. Hukum-hukum yang bekerja di alam semesta ini mampu di dijelaskan hanya dari symbol yang sedrhana tersebut.
Sayang bahasa symbol dalam Al qur an ini telah ter ‘bonsai’ oleh pemahaman yang mengawali semenjak dahulu kala. Bahwasanya bahasa symbol tersebut (Alif lam mim) hanya Allah-lah yang tahu arti dan makna nya. Kesadaran kolektif ini , telah mengesampingkan upaya manusia dalam ikhtiarnya mencoba membaca hukum-hukum sunatulloh di alam semesta ini, melalui Al qur an. Sehingga siapapun ilmuan yang bermaksud untuk membaca bahasa symbol dari Al qur an akan mengalami ‘kegamangan’ tersendiri. Sebab adanya ke-khawatiran akan menabrak batasan-batasan yang sudah dibuat oleh para musafirin ber abad-abad yang lalu.
Sehingga dapat kita saksikan, umat Islam dalam hal tekhnology hanya jalan di tempat. Pemahaman Islam dalam hal technology tidak bergerak sejak abad ke 7 Masehi. Meski Islam memiliki ilmuwan-ilmuwan hebat di setiap jamannya. Dalam hal perklembangan tekhnology Islam dan infrastruktur pendukungnya, Islam sangat tertinggal di bandingkan dengan bangsa Yahudi yang dengan berani meng-eksplorasi bahasa-bahasa symbol.
Anggapan bahwasanya symbol ini (Alif lam mim) tidak lazim untuk diuraikan karena sifat ‘kesakralan’ Al qur an menjadi ‘pembatas’ yang menyebabkan ‘kegamangan’ ilmuwan ataupun kaum musafirin dalam menguraikan symbol-symbol tersebut. Stigma ‘bid ah’ dan kafir yang dengan mudah akan disematkan kepada orang yang berusaha untuk ‘membaca’ Al qur an. Menjadi ‘ketakutan’ tersendiri bagi orang yang ingin ‘membaca’ symbol yang digunakan Al qur an dan ingin berkomunikasi dengan Al qur an.
Demikianlah nasib umat Islam, diantara klenik, mitos dan kepercayaan yang membebani umat. Kita umat Islam awam, senantiasa gamang diantara dua dunia yaitu dunia-akherat. Dunia tidak kita raih dan akherat belum tentu dapat. Selalu setengah-setengah. Maka ketertinggalan dan keterbelakangan adalah sebuah kepastian adanya.
Bahasa simbolisasi ternyata telah menjadi bahasa yang merubah tatanan dunia. Maka orang-orang yang mampu membaca bahasa ini, adalah orang-orang yang akan mampu menguasai peradaban manusia. Inilah yang disiyaratkan Al qur an.
Kompromi dalam menarik analogy
Symbol hakekatnya adalah (untuk) meng-komunikasikan apa yang tersirat yang tidak mampu di ungkapkan dengan kata-kata. Maka menjadi ‘aneh’ jika symbol-symbol yang digunakan Al qur an menjadi barang ‘tabu’ untuk kita uraikan maknanya. Hal inilah yang ‘merangsang’ penulis untuk mencoba mengkhabarkan ‘pemikiran’ yang mungkin tak sama dalam memaknai symbol yang digunakan Al qur an.
Dan kajian ini berusaha menyampaikan dari sisi ‘kompromis’ atas analogy yang digunakan untuk menjelaskan satu sama lainnya.
Jika kita lepaskan atribut yang melekat pada symbol-symbol tersebut dan kita susun linear saja, sebagai sebuah rangkaian kata. Sebagaimana sebuah tulisan biasa. Maka akan di dapat persamaan sebagaimana tersebut di bawah ini. Marilah kita sandingkan.
~ A (alif), la (lam), ma (mim) ~
Inilah bahasa symbol dari Al qur an
~ E (energy), m (materi/masa), c(kecepatan/gerak) ~
Inilah bahasa symbol yang diusung Einstein
Bagaimana membaca Postulat Einstein ?
Symbol E memiliki makna Energy. Semua manusia paham apa itu energy. Sebab energy bisa di indrai oleh manusia. Maka symbol ini kemudian mudah dipahami. Namun jika kita uraikan hakekat sebenarnya atas energy. Seluruh materi memiliki energy baik Energi Potensial maupun Energi Kinetik. Dan juga Energi-energi turunannya. Dan kita akan membutuhkan ribuan buku untuk menuliskannya. Sementara pemahaman atas energy pun bertingkat-tingkat tergantung kepada kecerdasan dan kedewasaan pembacanya. Penjelasan energy bagi TK tentunya akan berbeda bagi S3.
Ternyata E (energy) meliputi m (materi/masa) yang diam berada dalam konstanta c (kecepatan). Selama dalam keadaan lembamnya suatu benda akan tetap dalam keadaan diam atau bergerak lurus, selama tidak ada gaya (energy lain) yang bekerja padanya.
Maka dapat kita simpulkan E (energy) adalah sumber adanya m (masa) dan c (kecepatan). Jika tidak ada E (energy) maka symbol-symbol lainnya tidak akan pernah ada di dunia ini. Inilah hakekat dari postulat Einstein.
Jika pemahaman ini di balik, m (masa) akan melepaskan E (energy) yang dikandungnya, (yang selama ini meliputi dan mengikat materi tersebut tetap dalam keadaan lembam) ~jika kepadanya diberikan gaya (energy) lain. (Yaitu) E (energy) yang mampu merubah arah kecepatan m (materi/masa) tersebut sedemikian rupa sehingga membuka ruang ikatan yang ada di dalamnya. Keterbukaan ruangan inilah yang menyebabkan E (energy) yang berada dalam ikatan m (materi/masa) tersebut terlepas keluar. Reaksi ini di kenal sebagai reaksi fisi nuklir.
Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.
Berapa c (kecepatan) yang di butuhkan untuk m (materi/masa) tersebut bergerak sehingga, ikatannya terlepas ?. Inilah yang ingin di teliti manusia. Dan Einsten sudah menemukan kecepatan minimal agar ikatan energy suatu m (materi/masa) terlepas keluar dari ikatannya ?. (Yaitu) kecepatan cahaya di kalikan dengan kecepatannya sendiri (kuadrat).
Postulat Einsten mampu menjelaskan bahwasanya setiap m (materi/masa) diliputi oleh E (energy). Dan juga sebaliknya bahwa Energi berada di dalam m (masa/materi). Liputan Energi inilah inilah yang menyebabkan m (materi/masa) mampu bergerak dengan c (kecepatan) yang tertentu.
Maka secara filosofi bahwasanya antara E (energy), m (materi/masa), dan c (kecepatan) adalah sebuah satu kesatuan yang saling meliputi. Energy meliputi m (materi/masa), dan c (kecepatan) dan begitu juga sebaliknya m (materi/masa) meliputi E (energy) dan c (kecepatan).
Jika konsepsi ini kita gunakan dalam memaknai hakekat ketuhanan. Ternyata konsepsi tersebut berkesuaian dengan pemahaman para ‘spiritualis’. Kita mengenal adanya pemahaman ‘manunggaling kawula gusti’. Adalah hakekat dalam memahami realitas Energy yang diusung oleh kaum matrialis. Energy yang meliputi materi. Cahaya Allah yang meliputi seluruh alam semesta. Hal ini merupakan analogy pemahaman la haula wala kuawat illa billah.
Bagaimana menjelaskan konsepsi Al qur an perihal ini ?
Symbol adalah tanda, sebuah lambang yang tak berarti apa-apa sampai manusia tersebut mampu memaknai ‘hakekat’ atas symbol tersebut.
Maka bagaimana dengan symbol A (alif) la (lam) ma (mim) ?.
Siapapun manusia dari pendidikan, dari golongan apapun tentunya dapat membaca symbol tersebut. Meskipun penjelasannya mungkin akan berbeda kualitasnya. Anak TK akan mampu menjelaskan cahaya, dan membicarakannya, tentunya sah-sah saja. Itulah pemahaman mereka anak-anak TK. Begitu juga orang yang berpendidikan S3. Dalam kapasitas mereka masing-masing, tentu saja ‘pemahaman’ keduanya itu, menjadi benar dalam makom mereka masing-masing. Meskipun S3 memeliki pengetahuan lebih mendalam, namun dia tidak berarti dia bisa menyalahkan pemahaman anak TK tentang cahaya. Inilah perumpamaan yang ingin saya sampaikan dalam upaya memahami symbol-symbol dari Al qur an !.
Symbol tersebut adalah alat komunikasi Al qur an kepada manusia. Maka saya mencoba untuk ber komunikasi. Meskipun mungkin dalam memaknainya sebagaimana anak TK yang menjadi ilustrasi dimuka.
Kerenanya saya cuplikan serat Pepali Ki Ageng Selo, seorang filsuf Jawa yang juga menggunakan bahasa symbol untuk menjelaskan makna hakekat.
Melalui uraian serat Pepali inilah saya mencoba melakukan pendekatan atas makna hakekat symbol A (alif) la (lam) ma (mim).
Serat pepali ini mencoba menjelaskan makna dan hakekat Tuhan dan ketuhanan dalam agama Tauhid (Islam). Yang menarik dari Serat Pepali ini adalah penulisnya sendiri menjelaskan tafsirannya dengan bahasa simbolisme lagi. Jadi, setiap pembaca karyanya dapat meng-eksplorasi kembali makna-makna symbol-simbol yang di maksud, menjadi tak berbatas ruang dan waktu. Ki Ageng Selo menjelaskan hakekat Tuhan dengan banyak macam simbolisme sbb :
* Samudera Besar
* Tempat tak Bertulisan
* Teratai tak Berkelopak
* Lampu Menyala tanpa Sumbu
* Daun Hijau tak Berpohon
* Muazzin tanpa Bedug
* Buku, Bulan Purnama, dan Gerhana Bintang
* Angka Satu
Keseluruh rangkaian pemahaman melalui simbolisasi tersebut merupakan satu rangkaian yang tali temali, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Inilah pemahaman hakekat Allah menurut Ki Ageng Selo. Pemahaman yang di hantarkan oleh Ki Ageng Selo tersebut, ternyata dapat di simbolkan (di akomodasi) dengan hanya satu huruf oleh Al qur an yaitu dengan huruf ~ A (alif) ~ ; Inilah yang saya ingin sampaikan.
Saya cuplikan sebagian serat tersebut ;
Damar murup tanpa sumbu nenggih/Semunira urup aneng Karsa./Dat mutlak iku jatine!/Anglir tirta kamanu,/Kadi pulung sarasa jati./Puniku wujud tunggal,/Aranira iku.
(Lampu menyala tanpa sumbunya/Itu lambang nyala pada Kehendak./Dat Mutlak itu sebenarnya!/Sebagai air yang bercahaya,/Wahyu kesatuan dengan rasa sejati./Itulah bentuk tunggal,/Yang disebut itu.)
Lampu menyala tanpa sumbu. Adalah asal atas E (energy) yang meliputi seluruh alam semesta.. Meskipun nyala api di dalam lampu (terkurung) namun cahayanya mampu menembus (meliputi) sang lampu tersebut.
Dalam Surat Al-Nur 35 terdapat simbolisme. Disitu dikatakan: Cahaya-Nya dianalogikan sebagai sebuah miskat yang di dalamnya ada lampu besar. Lampu besar itu sendiri ada di dalam kaca, sedangkan kaca itu dianalogikan dengan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur dan tidak pula di sebelah Barat. Minyak tersebut bisa menerangi sekelilingnya, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Tuhan membimbing orang yang Ia kehendaki menuju cahaya-Nya itu.. Simbol ‘minyak menerangi tanpa api’ ini amat analog dengan simbol ‘lampu menyala tanpa sumbu’ di atas.
Pada awal penjelasan di dalam surah Al ba qoroh, Al qur an sudah memberikan penjelasannya dengan suatu symbol universal yaitu huruf ~Alif. Mengapa huruf Alif ?. Sebab inilah huruf pertama yang mengawali semua huruf. Sebagai symbol asal muasal semua ‘gerak’ di alam semesta ini. Sehingga sangat relevan jika semua pemahaman yang menyangkut E (energy) atau cahaya kemudian diberikan simbol dengan huruf Alif. Symbol Alif adalah symbol untuk Ruh alam semesta. Sedangkan dalam ajaran Hindu entitas ini di kenal sebagai Atman. Inilah pemahaman yang saya usung dan saya coba komunikasikan.
“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan tentang pertemuan dengan tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi segala sesuatu.” (Qs Fushilat, 41:54)
"Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah maha luas lagi maha mengetahui" (Qs Al baqarah, 2: 115)
Setelah memahami ini maka postulat selanjutnya menjadi mudah saja. La (lam) merupakan symbol keberadaan alam semesta ini. . (Postulat Einstein di symbolkan m). Dan ma (mim) adalah symbol untuk entitas yang menyadari adanya rangkaian kejadian di alam semesta, yang dikenal sebagai Manusia.
Maka dengan menggunakan analogy postulat Einstein, dan kita simbiosiskan dengan pemahaman yang kita dapat dari serat Pepali Ki Ageng Selo, maka dengan itu, kita mencoba ‘membaca’ apa yang ingin di komunikasikan Al qur an kepada kita bahwa;
Cahaya Allah (Alif) meliputi seluruh alam semesta, dan menjadi E (energy) gerak awal mula dari seluruh gerak yang ada di alam semesta ini. Gerak ini meliputi seluruh materi yang ada di alam semesta. Meliputi manusia, meliputi m (materi/masa). Aristoteles menyebutnya sebagai The Unmoved Mover, yang bergerak sendiri tanpa bantuan pribadi lain dan merupakan gerak tunggal yang paling pertama dan yang absolut.
Rangkaian seluruh kejadian yang terjadi di alam semesta ini dan di dalam diri manusia itu sendiri. Dijelaskan dalam bahasa symbol yang lugas, namun tidak akan bermakna apa-apa jika tidak ada yang ‘tahu’, jika tidak ada ‘pengamat’. Sehingga rangkaian symbol A (alif) la (lam) dan ma (mim), haruslah menjadi satu rangkaian dimana akan di baca oleh ma (mim/manusia). Maka rangkaian huruf ma (mim) selanjutnya di sertakan (analogy c pada postulat Einstein). Sehingga karenanya~ selanjutnya manusia dapat memetik hikmah atas postulat ini.
Karenanya di butuhkan ‘kecepatan’ ~ yaitu kecerdasan ma (mim) minimal agar seorang ‘pengamat’ (agar) mampu memahami hakekat ‘gerak’ yang terjadi yang meliputi seluruh m (materi/masa) yaitu alam semesta (lam) dan dirinya sendiri (mim). Jika ‘pengamat’ terlalu lambat atau terlalu cepat maka ‘pengamat’ tidak akan mampu ‘menyadari ‘proses’ datangnya ‘cahaya’ atau E (energy).
Maka karenanya seorang manusia yang memiliki ma (mim) akan dapat memahami hakekat ketuhanan, melalui (dengan) membaca symbol-symbol ini. Dengan bahasa inilah Al qur an ingin ber komunikasi dengan kita. Orang berilmu sudah mampu membaca dan menguraikan makna symbol-symbol ini. Tentunya merekapun sudah memiliki prasyarat dan memiliki referensi cukup atas semua itu. Sebagaimana membaca postult E = mc2. Tentunya tidak sembarang orang mampu merealisasikan dan mengimplementasikan postulat ini dari hasil membaca-nya.
Ahli fisika mampu menghasilkan Energi dari postulat Einstein (E = mc2). Memanipulasi agar m (materi/masa) melepaskan E (energy). Maka ahli hikmah pun memiliki kemampuan yang sama dengan menggunakan postulat Alif lam mim.
Jika postulat Einsten menghasilkan materi yang irreversible dan bersifat radioaktif dan akan mampu merusak apa saja, bahkan mampu menghancurkan dunia. Maka postulat Alif lam mim di tangan ahli hikmah akan menghasilkan energy yang harmoni dengan alam semesta. Sebagaimana hikayat ahli hikmah dalam kisah nabi Sulaiman as.
Karenanya (harapannya) jika ahli hikmah dan ahli fisika bekerjasama maka akan dapat menghasilkan E (energy) yang aman dan harmoni bagi manusia dan alam semesta ini. Adakah ahli hikmah yang ahli fisika ?. Maka (harapannya) kemungkinan tersebut hanya ada di agama Islam.
Maka Al qur an mengisyaratkan agar umatnya senantiasa berfikir dan berfikir. Membaca dan membaca !. Sekali lagi MEMBACA !. Dan selalu berkomunikasi dengan Al qur an. Wolohualam
salam
arif
Info Hiburan, Selebritis, TV Production, Jasa, Property, Business, Film, Music, ekonomi, Politik, Kajian Islam
Minggu, 26 Agustus 2012
Lailatul Qadar dan Cara Mendapatkannya (bagian pertama)
Mendengarkan ceramah buka puasa bersama dari salah seorang
pakar al Quran ternama di Indonesia dan adanya pertanyaan seorang teman
mengenai hakikat sebenarnya dari Lailatul Qadar membuat saya ingin untuk
membahas topik ini kembali. Pakar al Quran yang mengarang buku tafsir terkenal
ini berkata bahwa Lailatul Qadar adalah malam di dalam bulan Ramadhan dimana
Allah memberikan keistimewaan kepada seluruh manusia yang antara lain terlihat
dari tanda-tanda fisik dan kedamaian pada alam semesta seperti yang disebutkan
dalam lirik lagu Bimbo yang berjudul Lailatul Qadar.
Menurutnya malam ini dapat dilihat dari teori relativitas
dimana meskipun waktunya sangat singkat namun memiliki nilai yang luar biasa,
bahkan lebih baik dari 1000 bulan atau 83 tahun. Ciri-ciri manusia yang
mendapatkan Lailatul Qadar adalah kedamaian di dalam hatinya.
Lailatul Qadar dijelaskannya dengan sangat rumit sehingga
jika saya orang awam, maka boro-boro hendak mendapatkan Lailatul Qadar,
memahami maknanya saja sudah teramat sulit. Padahal tujuan Allah menurunkan al
Quran adalah tidak membuat manusia menjadi susah, sebagaimana disebutkan dalam
Surat 20:2, Kami tidak menurunkan Al
Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.
Marilah kita membahas mengenai apa makna dan hakikat dari
Lailatul Qadar ini dengan membuka Surat 97 al Qadar.
Sesungguhnya Kami
telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah
malam kemuliaan itu? (Surat 97:1-2)
Al Quran diturunkan pada waktu malam bukan berarti al Quran
diturunkan ketika malam hari. Malam disini adalah perumpamaan kegelapan manusia
yang belum mendapatkan cahaya Allah melalui wahyu-Nya, sebagaimana disebutkan
dalam Surat 14:1, Alif, laam raa. (Ini
adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari
gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu)
menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Al Quran yang diturunkan kepada manusia yang dalam kondisi
gelap. Pada titik Lailatul Qadar itulah kita mulai mendapatkan cahaya Allah
dengan mulai memahami al Quran, sebagaimana disebutkan dalam Surat 42:52, Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami.
Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang
Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.
Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Jadi, kesimpulan pertama, malam Lailatul Qadar bukan berarti
terjadi pada malam hari, namun dapat terjadi kapan saja ketika seseorang yang
sedang dalam kondisi gelap gulita (perumpamaannya sebagai malam) mulai
diberikan hidayah dari Allah melalui al Quran. Lailatul Qadar dapat terjadi
kapan saja selama seseorang manusia tersebut memenuhi persyaratan sebagai
manusia yang paling bertakwa.
Disebutkan sebagai malam kemuliaan, karena terdapat tiga
macam kemuliaan pada titik gelap tersebut.
Kemuliaan pertama adalah pada malam tersebut, seseorang yang
memenuhi persyaratan mendapatkan hidayah dari Allah adalah seseorang yang mulia
yaitu yang paling bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam Surat 49:13, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa
- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Kemudian manusia yang mulia ini dipertemukan oleh kemuliaan
yang kedua yaitu al Quran yang mulia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 56:77,
Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan
yang sangat mulia.
Di dalam memberikan hidayah dalam bentuk kepahaman al Quran
ini, Allah mengutus kemuliaan yang ketiga yaitu utusan-Nya yang mulia yang
bernama Malaikat Jibril, sebagaimana disebutkan dalam Surat 81:19, sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar
firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),
Jadi, kesimpulan kedua, malam Lailatul Qadar tidak berlaku
untuk semua manusia, tetapi berlaku hanya kepada manusia yang paling bertakwa,
dimana pada malam tersebut Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan al
Quran kepadanya.
Adapun kesimpulan ketiga, malaikat Jibril mendatangi manusia
yang bertakwa sehingga konsep bahwa malaikat Jibril hanya mendatangi para Nabi
dan sudah menjadi pensiunan setelah Nabi Muhammad wafat perlu dipertanyakan.
Malam kemuliaan
itu lebih baik dari seribu bulan. (Surat 97:3)
Makna dari bulan bukanlah berarti bulan kalender. Bulan
dimaksudkan sebagai bercahaya sebagai lawan dari matahari yang bersinar,
sebagaimana disebutkan dalam Surat 10:5, Dia-lah
yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang
demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya)
kepada orang-orang yang mengetahui.
Bulan adalah perumpamaan dari al Quran sebagai wujud dari
cahaya Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 42:52, Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah
Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak
pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya,
yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba
Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus.
Seribu bulan adalah perumpamaan dan bukan berarti seribu
dibagi dengan dua belas atau delapan puluh tiga tahun. Kesalahan pemaknaan ini
mengakibatkan adanya konsep bahwa kalau pada hari itu kita shalat, hitungannya
seperti shalat selama 83 tahun.
Jika satu bulan purnama sudah menerangi malam yang gelap,
maka seribu bulan adalah perumpamaan al Quran yang merupakan cahaya Allah yang
terang benderang, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:174, Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah
Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).
Jadi, kesimpulan keempat, seribu bulan bukanlah bermakna
seribu bulan kalender atau 83 tahun, tetapi bermakna al Quran yang memberikan
cahaya hidayah yang terang benderang kepada manusia yang dalam keadaan gelap
gulita.
Pada malam itu
turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. (Surat 97:4)
Ketika dikatakan malaikat dan ruhu fiha (Jibril) turun,
jangan dibayangkan bahwa malaikat dan Jibril seperti bidadara atau bidadari
yang turun dari kahyangan. Makna dari turunnya malaikat dan ruhu fiha adalah
turun untuk menjelaskan mengenai cahaya hidayah Allah melalui al Quran.
Malaikat dan ruhu fiha (Jibril) bukanlah turun ke bumi dari kahyangan, tetapi
turun ke qalbu atau jiwa manusia untuk menguraikan (Jabarul) segala sesuatu
yang belum dipahaminya untuk menjadi paham, sebagaimana disebutkan dalam Surat
26:192-194, Dan sesungguhnya Al Quran ini
benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh
Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara
orang-orang yang memberi peringatan.
Jadi, kesimpulan kelima, malaikat dan Jibril tidak turun ke
bumi tetapi ke dalam jiwa atau qalbu manusia untuk menjadi utusan dalam
memberikan hidayah dari Allah dalam bentuk kepahaman yang mendalam akan
petunjuk Allah dalam al Quran. Melalui kesimpulan ini, maka konsep bahwa
terdapat ciri-ciri alam semesta sebagaimana yang digambarkan oleh pakar al
Quran tersebut dan lagu Bimbo adalah suatu konsepsi yang kurang tepat.
Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar. (Surat 97:5)
Ketika dikatakan bahwa malam itu penuh kesejahteraan sampai
terbit fajar, pakar al Quran tersebut mengatakan bahwa fajar adalah bagian dari
siklus hidup manusia yang dimulai sejak fajar hingga maghrib. Hakikat yang
sesungguhnya dari fajar adalah batas antara gelap dan terang. Ketika manusia
yang mulia dipertemukan Allah dengan al Quran yang mulia melalui utusan Allah
yang mulia (Jibril), maka manusia tersebut mulai menghadapi masa dari gelap
menuju terang dimana berangsur-angsur hidupnya akan menjadi terang benderang
karena dibimbing dan dilindungi oleh Allah melalui para malaikat dan Jibril,
sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:257, Allah
Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
(kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir,
pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya
kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya.
(bersambung)
Catatan:
1. Angka diatas berarti
rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca
langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.
2. Mohon dicek kalau
ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk
kesempurnaan.
Sony wicaksono
Senin, 06 Agustus 2012
Kasus Rhoma Irama " SARA PILKADA Jakarta "
Rhoma
Irama hanyalah satu dari ribuan pemuka agama, apapun agamanya, yang
berbicara seperti itu -berdakwah berdasarkan ayat kitab suci yang
diyakininya benar- di ruang tertutup, di komunitas homogen dan terbatas.
Bukan di depan publik dan tidak untuk disiarkan di media massa.
Saya
percaya banyak ulama dan pendeta juga kalau berdakwah lebih tendensius
daripada itu, dan itu tidak apa-apa, bukankah kita seharusnya tidak
tahu?
Yang amat salah
adalah pihak yang sengaja merekam, sengaja melapor, dan sengaja
menyebarluaskan. Ada maksud apa? Ini harus juga diselidiki. Dialah yang
tengah dan telah berhasil menimbulkan keresahan
antar umat beragama dan berpotensi konflik di ranah pilkada Jakarta
yang amat panas itu.
Saya
mengerti mengapa Rhoma menangis. Bayangkan kalau berdakwah saja sudah
dimata-matai, lalu dilarang. Jadi ingat jaman Sudomo dan Benny Murdani.
Kitab
suci, kalau mau jujur, juga penuh dengan SARA. Bayangkan: "halal
darahnya", "jihad atas nama agama", "tanah yang dijanjikan", "bangsa
pilihan", "bangsa terkutuk selamanya", dll, dst .... . Itu sebabnya,
tidak baik mendiskusikan agama di ranah publik. Dakwah untuk mengajak
umat masuk agama tertentu (missionaries) itu sudah lewat masanya -masa
dimana manusia masih primitif dan harus diajari norma-norma. Saat ini
kalau ada yang begitu -pendeta mendakwah di perkampungan yg sudah Islam,
atau kyai mendakwah di perkampungan yang sudah Hindu, dst- justru
menciptakan persoalan bagi kedamaian
dunia.
Semoga kasus
ini tidak membuat dakwah dan ceramah agama di rumah-rumah ibadah
dimata-matai atau dilarang. Semoga ini juga bukan pembungkaman atas
kebebasan berpendapat, sekalipun berpendapat tentang calon-calon
pemimpin kita (malah perlu ya kita dapat perspetif dari yang dianggap
panutan ttg sosok calon-calon pemimpin). Meskipun Rhoma bukan panutan
saya, saya anggap yang dilakukannya tidak salah. Sekali lagi, yang salah
adalah perekam dan penyebarnya. (Bayangkan, kita bicara di pengajian
dan ngomongin Aburizal Bakri, misalnya, lalu pembicaraan kita ada yang
merekam dan melaporkan sebagai penghinaan).
Akan
halnya 7 menit rekaman, yang hanya diizinkan untuk disiarkan menit ke
1-3 di media massa, ada pertanyaan media (Indiarto, TV One tadi malam,
misalnya): "Mengapa menit ke 4-7 tak boleh disiarkan? Berarti lebih seru
muatannya daripada menit 1-3?",
tanggapan saya: Panwaslu yang membocorkan perbedaan muatan antara menit
ke menit itu tidak etis, malah menimbulkan keingintahuan dan
menimbulkan kebencian -sebelum menontonnya (karena prasangka). Menurut
saya juga, jawaban atas pertanyaan itu: "Katakanlah memang menit ke 4-7
itu lebih seru dari yg sudah beredar, itu justru tak seharusnya
ditayangkan, karena tidak semua fakta layak terbit/tayang."
Sumber : Sirikit
Minggu, 05 Agustus 2012
Mengubah Keraguan menjadi keyakinan (iman)
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Mengubah Keraguan menjadi keyakinan (iman).
Selama ini hampir sebagian besar energy kita terbelenggu dalam keraguan.
Keraguan adalah suatu kondisi dimana kita tidak maju dan mundur.
Mari sekarang ini walau kondisi kita seperti apapun, coba meraih keyakinan
keyakinan atas apa yang ada dalam diri kita, keyakinan atau iman adalah mutlak,
yakin kita sedang berada di jalanNya dengan segala keterbatasan yang kita miliki.
Ketika keraguan itu muncul maka akan berada di tempat saja.
Keyakinan dan lalu ada kesiapan untuk berubah. Berubah ketika Allah memberi petunjuk.
Ketika Iman sudah ada di hati maka Allah akan memberikan Furqon atau pembeda ke hati kita
untuk membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.
Hati kita yang akan menuntun,
karena nasehat demi nasehat sudah berjuta di dengar namun yang muncul hanyalahketidakyakinan atau keraguan.
Energy kita hanya dipergunakan untuk pertentangan dan perdebatan seperti selama ini yang kebanyakan kita lakukan.
Dalam proses tentu saja ini diperlukan namun bukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keseimbangan dan kemapanan yang ada nantinya.
Yang perlu dilakukan adalah sebuah "harmony" untuk mencapai hasil terbaik.
Masing-masing kita berada pada posisi keseimbangan masing-masing. Yang tengah bergerak maju lebih baik.
Yakinlah bahwa kita akan mencapai hasil lebih baik nantinya.
Ketika harmony itu tercapai dalam sebuah tekad yang kokoh, maka perbaikan adalah sebuah kepastian.
Perubahan hanya masalah waktu. Tidak perlu dikhawatirkan atau diragukan karena itu keyakinan di hati.
Semua tengah berjalan dijalanNya dengan usaha maksimal. Namun hasil akhir ada ditanganNya.
Apakah orang di sekitar akan mengikuti ataukah tetap dalam keadaannya, sungguh petunjuk itu datangnya dari Allah.
Yang harus dilakukan hanya usaha terbaik kita.
Sebuah harmony dari keseimbangan diri lebih dahulu:
akal, ruh jiwa, dan raga
diri dengan Sang Pencipta
sehingga akan menuntun dan mengarahkan
dalam sebuah keseimbangan diri yaitu:
diri dengan keluarga
diri dengan bangsa negara
diri dengan alam semesta
dalam sebuah harmoni, Rahmatan lil alamin.
Mencapai keyakinan: Pertemuan dengan Allah
Kita hanya menapaki perjalaan (journey) untuk mengikuti kehendakNya (perintah dan larangan) dengan sepenuh keyakinan (iman).
Menunggu pertemuan dengan Allah dalam setiapperjalanan (journey), menikmati perjalanan, menikmati pemandangan yang tersaji
menikmati alam sekitar, menikmati rasa-rasa yang disajikan sepanjang perjalanan ini. Menggunakan panca indera
untuk mengenali setiap tanda. Tanda-tanda yang diberikan bahwa pertemuan itu semakin dekat
Menunggu saat kebahagiaan itu akan tiba dengan sepenuh harapan
namun dengan tetap tersenyum bahagia sepanjang perjalanan itu
tentu saja dengan mempersiapkan bekal terindah yang akan kita persembahkan
mempersiapkan kado terbaik yang akan kita bawa dan persembahkan kepada Sang Kekasih hati
memilih dan menentukan kado yang mana yang akan dibawa
apakah akan membawa sebuah kado yang besar yang kita akan kepayahan membawanya sepanjang perjalanan ini
ataukah memilih benda-benda kecil yang berharga (contoh dalam hidup kita misalkan emas, intan, berlian)
inilah pilihan-pilihan amal ibadah yang akan kita pilih untuk bekal nanti
untuk kita persembahkan sebagai kado terindah bagi pertemuan dengan Tuhan kita
apakah kita akan memilih amal yang besar namun tak berharga, ataukah kecil tapi berharga
idealnya tentu yang besar dan yang paling berharga, tapi mungkinkah?.
semoga Allah, Tuhan kita menerima dan rela, serta ridho dengan kado pilihan kita
saat kita hidup di dunia ini, karena pilihan itu ada di tangan kita
di sini dan di saat ini
Karena hanya kita sendiri yang tahu kesanggupan untuk memilh kado itu
kita tahu kemampuan diri dalam menentukan pilihan kado itu
dan tentu saja Allah lebih mengerti kadar dan ukuran kita
apakah kita "pelit" dengan kado yang kita bawa
ataukah kita terlalu berlebihan sehingga melupakan tugas kemanusiaan kita
yang tentu saja merupakan tugas kita sebagai khalifah di bumi
untuk membawa "peradaban" yang diridhoi Allah di muka bumi ini.
(yang sebetulnya adalah "kado terbaik" hamba kepada Tuhannya)
Maka menunggu pertemuan itu merupakan nikmat dan nikmat diatas nikmat dan bertambah nikmat.
Sebagaima firman-ya. Maka nikmat mana yang kau dustakan.
Sehingga kita mampu bersaksi.
"Sungguh hamba telah merasakan nikmat itu".
Hamba bersaksi atas nikmat itu.
Hidup akan selalu nikmat. Apalagi saat puasa Ramadhan ini.
Puncak nikmat yg tengah dilipat gandakan.
Rasa itu terjadi ketika ada perubahan. Ada referensi. Ada pembanding.
Ada panas maka ada dingin. Ada manis dan pahit.
Bila berada di satu suhu maka kita tidak "merasakan" nikmat atau sakitnya panas atau dingin.
Juga hal sakit yg sama tidak menjadi terlalu menyakitkan.
Namun sakit berganti-ganti yg lebih menyiksa umpama sakit gigi. Sembuh sakit sembuh lagi.
Demam tinggi. Sering tidak menyakitkan. Tapi panas dingin yg menyakitkan. Rasa.... Rasa. Dualitas rasa.
Demikian pula dengan rasa khusyu'. Atau rasa silatun. Atau rasa iman dan rasa takwa.
Perubahan rasa inilah yang sangat menentukan.
Kalau tanpa perubahan. Maka tidak ada rasanya.
Perubahan bisa terjadi di detik ini ketika kita mulai membandingkan.
Melepaskan diri dari posisi rasa dan menentukan arah yaitu lebih khusyu atau kurang kusyu.
Lebih mendekat ke Allah atau lebih menjauh. Inilah prinsip yang saya ambil contohnya dari
prinsip ketidakpastian heisenberg.
Kita tidak bisa menentukan dua-duanya. Hanya salah satu.
Posisi rasa atau arah perubahan jiwa. Kalau berada di rasa maka kita tidak mampu menentukan arah.
Berada di arah maka posisi rasa menjadi tidak bisa diamati dan ditentukan.
Mudahnya tentukan saja arah jiwa. Karena inilah yang akan membawa arah ke arah yg lurus.
Arahnya jelas mendekat kepada Allah. Lalu bagaimana cara mendekatnya?.
Bagaimana kita tahu kita sudah mendekat?.
Maka kita memiliki indera yaitu hati.
Keyakinan yg sangat kuat dalam dan menghujam.
Dan reaksinya yg kita amati. Yaitu rasa. Terima saja rasa apapun.
Kalau belum seperti yg diharapkan kembalikan lagi ke Allah dg jujur.
Begitu terus interaksi berulang. Berputar. Sampai terasa yakin semakin dekat.
Dan semakin dekat.
Semakin mendekat kepada Allah adalah puncak rasa. Bahagia di atas bahagia.
Yang entah apa namanya. Maka inilah yg disebut sebagai hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
Hari ini lbh mendekat kpd Allah dibanding kemarin. Semakin dekat semakin bertambah rasa nikmat itu.
Puncak pertemuan adalah kebahagiaan. Proses menunggu adalah rasa nikmat itu. Maka coba renungkan.
Bisakah meyakini pertemuan sholat tahajud nanti malam (misalnya) akan menjadi puncak kerinduan.
Harapan pertemuan dg kekasih yg paling membahagiakan.
Maka sekarang adalah menunggu saat itu terjadi. Sepenuh harapan dan keyakinan.
Bahwa pertemuan itu akan terjadi. Ulangi dan ulangi. Sehingga merasakan menunggu sholat tahajud terasa nikmat.
Yakin dan semakin yakin. Sampai tidak ada celah sedikitpun akan keraguan.
Akal. Jiwa dan raga.
Bisakah?.
Bahwa sholat itu nanti menjadi saat bertemu.
Insya Allah. Dengan memohon kepada Allah, maka tentu saja bisa dan mudah.
Saat nikmat mulai menyebar dan mengaliri dada.
Rasa mulai nyata dan ada.
Rasa itu selalu baru.
Bukan rasa yg sama dg yg pernah dialami. Karena rasa yg sama pasti sudah tdk berpengaruh.
Kosong. ..........Datar.
Namun rasa yg muncul adalah rasa yg baru dan belum pernah dialami.
Maka perlu mengamati dg sungguh. Membiarkan menguat. Karena kalau diabaikan.
Rasa ini mudah terganti dan terhijab atau tertutup. Kenali rasa asing yg nyaman. Sekilas.
Seperti dada terasa lapang. Dada terasa luas. Terasa lega. Terasa plong dsb....dsb.
Coba perhatikan dan ikuti rasa tersebut.
Sebagai referensi saja.
Rasa itu bisa seperti percikan embun yg menyejukkan di dada.
Lembut dan menyegarkan.
Kadang lembut hangat sepoi-sepoi.
Kadang seperti kabut lembut mengisi dada.
kadang seperti lapisan yang kukuh dan kuat
namun kadang seperti dinding yang memebentengi dada
Bisa juga seperti menjalar semut. Berkedut lembut.
Namun bisa seperti elusan selendang sutera dan lembut.
Bisa juga rongga dada meluas. Meluas seperti mengisi alam semesta.
Seperti kulit menjadi membran tembus hawa. Menyatu dg hawa di luar tubuh.
Masih banyak lagi rasa demi rasa yg sangat bervariasi.
Berbeda-beda namun dampaknya luar biasa.
Seolah kita rela memberikan apapun milik kita asalkan rasa ini ada terus.
Namun rasa ini aneh. Karena bukan milik kita. Ketika silatun lepas. Rasa ini mengendor.
Dan sedikit demi sedikit melemah. bahkan lalu hilang. Kadang bisa sangat mudah tersambung lagi.
namun seringkali sampai mati-matian berusaha namun gagal.
Bagaimana mendapatkan ini sebenarnya?.
Caranya sederhana.
Sejengkal mendekat kpd Allah maka rasa ini muncul.
Tapi dalam bentuk dan wujud rasa yg baru.
Rasa demi rasa ini selalu terbarukan. Selalu muncul rasa yang asing. Aneh.
Yg tdk mampu dijelaskan. Namun sangat dikenal yaitu rasa silatun.
Selalu asing namun seperti kembali ke pelukan yang sangat dikenal.
Yaitu Rasa dekat kpd Allah.
Semakin dekat dan semakin dekat.
Rasa ini ada ketika ada proses mendekat, atau yakin, diri kita leih dekat dibanding sebelumnya.
Jiwa kadang menjadi semakin peka dan sangat sensitif. Mampu merasakan tangisan bumi.
Rintihan pohon. Jeritan binatang. Mampu mendengar bisikan dan bisikan.
Mata seolah melihat keindahan dan kegaiban alam.
Alam menjadi sangat misteri dalam indah yg menakjubkan.
Keindahan yg sangat sulit dimengerti dan sulit difahami.
Seolah rumput ingin disapa. Seperti bunga ingin dikenal.
Tanah seperti berbisik. Seperti mendengar dan merasakan.
Namun semua itu hanya ada dlm kesadaran (kita sebut saja sebagai sebuah keyakinan)
Mungkin saja bisa dianggap sebagai khayalan atau lamunan, namun dalam dimensi kesadaran inilah keyakinan.
Dalam dimensi keyakinan maka ini realitas. Aneh bukan?.
Dan anehnya lagi, seolah jiwa terseret dan hanyut dalam rasa yg memabukkan.
Keindahan yg mempesona. Yang membuat tak henti-hentinya bertasbih.
Berterima kasih. Lalu alam seperti mengajari tentang kekuasaan Allah.
Burung, kupu-kupu, pohon dan semua alam menjadi menyatu dalam kesadaran.
Diri menjadi bagian alam. Berubah menjadi gelombang yg menjalar mengikuti cahaya alam.
Demikian sekedar referensi. Salah satu rasa yg aneh.
Dan bertambah aneh dan sulit dijelaskan.
Namun nyata dlm kesadaran.
Dalam keyakinan.
Dalam persaksian.
Syahadat.
Apakah ini benar, apakah ini khayalan,
inilah dimensi "persaksian", yang mungkin juga pernah disaksikan
karena masing-masing diri saling menyaksikan
lalu saling mengabarkan akan persaksian itu
mengabarkan akan "janji pertemuan" dengan Tuhan itu benar
mengabarkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan
mengabarkan akan nikmat-nimat Tuhan yang telah diberikan
mengabarkan sebuah persaksian
Tiada Tuhan selan Allah
Bahwa apa yang diajarakan oleh Muhammad adalah benar
bahwa Muhammad adalah utusan Allah
yang mengabarkan pesan dan janji Allah keada manusia dan seluruh alam semesta ini.
Dan inilah dimensi dalam keyakinan, dimensi persaksian.
Semoga ini kebenaran bukan persangkaan saya.
Sungguh Allah sangat tidak menyukai orang yg mengatakan apa yg tdk dilakukannya.
Wassalam
Imam Sarjono
Mengubah Keraguan menjadi keyakinan (iman).
Selama ini hampir sebagian besar energy kita terbelenggu dalam keraguan.
Keraguan adalah suatu kondisi dimana kita tidak maju dan mundur.
Mari sekarang ini walau kondisi kita seperti apapun, coba meraih keyakinan
keyakinan atas apa yang ada dalam diri kita, keyakinan atau iman adalah mutlak,
yakin kita sedang berada di jalanNya dengan segala keterbatasan yang kita miliki.
Ketika keraguan itu muncul maka akan berada di tempat saja.
Keyakinan dan lalu ada kesiapan untuk berubah. Berubah ketika Allah memberi petunjuk.
Ketika Iman sudah ada di hati maka Allah akan memberikan Furqon atau pembeda ke hati kita
untuk membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.
Hati kita yang akan menuntun,
karena nasehat demi nasehat sudah berjuta di dengar namun yang muncul hanyalahketidakyakinan atau keraguan.
Energy kita hanya dipergunakan untuk pertentangan dan perdebatan seperti selama ini yang kebanyakan kita lakukan.
Dalam proses tentu saja ini diperlukan namun bukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keseimbangan dan kemapanan yang ada nantinya.
Yang perlu dilakukan adalah sebuah "harmony" untuk mencapai hasil terbaik.
Masing-masing kita berada pada posisi keseimbangan masing-masing. Yang tengah bergerak maju lebih baik.
Yakinlah bahwa kita akan mencapai hasil lebih baik nantinya.
Ketika harmony itu tercapai dalam sebuah tekad yang kokoh, maka perbaikan adalah sebuah kepastian.
Perubahan hanya masalah waktu. Tidak perlu dikhawatirkan atau diragukan karena itu keyakinan di hati.
Semua tengah berjalan dijalanNya dengan usaha maksimal. Namun hasil akhir ada ditanganNya.
Apakah orang di sekitar akan mengikuti ataukah tetap dalam keadaannya, sungguh petunjuk itu datangnya dari Allah.
Yang harus dilakukan hanya usaha terbaik kita.
Sebuah harmony dari keseimbangan diri lebih dahulu:
akal, ruh jiwa, dan raga
diri dengan Sang Pencipta
sehingga akan menuntun dan mengarahkan
dalam sebuah keseimbangan diri yaitu:
diri dengan keluarga
diri dengan bangsa negara
diri dengan alam semesta
dalam sebuah harmoni, Rahmatan lil alamin.
Mencapai keyakinan: Pertemuan dengan Allah
Kita hanya menapaki perjalaan (journey) untuk mengikuti kehendakNya (perintah dan larangan) dengan sepenuh keyakinan (iman).
Menunggu pertemuan dengan Allah dalam setiapperjalanan (journey), menikmati perjalanan, menikmati pemandangan yang tersaji
menikmati alam sekitar, menikmati rasa-rasa yang disajikan sepanjang perjalanan ini. Menggunakan panca indera
untuk mengenali setiap tanda. Tanda-tanda yang diberikan bahwa pertemuan itu semakin dekat
Menunggu saat kebahagiaan itu akan tiba dengan sepenuh harapan
namun dengan tetap tersenyum bahagia sepanjang perjalanan itu
tentu saja dengan mempersiapkan bekal terindah yang akan kita persembahkan
mempersiapkan kado terbaik yang akan kita bawa dan persembahkan kepada Sang Kekasih hati
memilih dan menentukan kado yang mana yang akan dibawa
apakah akan membawa sebuah kado yang besar yang kita akan kepayahan membawanya sepanjang perjalanan ini
ataukah memilih benda-benda kecil yang berharga (contoh dalam hidup kita misalkan emas, intan, berlian)
inilah pilihan-pilihan amal ibadah yang akan kita pilih untuk bekal nanti
untuk kita persembahkan sebagai kado terindah bagi pertemuan dengan Tuhan kita
apakah kita akan memilih amal yang besar namun tak berharga, ataukah kecil tapi berharga
idealnya tentu yang besar dan yang paling berharga, tapi mungkinkah?.
semoga Allah, Tuhan kita menerima dan rela, serta ridho dengan kado pilihan kita
saat kita hidup di dunia ini, karena pilihan itu ada di tangan kita
di sini dan di saat ini
Karena hanya kita sendiri yang tahu kesanggupan untuk memilh kado itu
kita tahu kemampuan diri dalam menentukan pilihan kado itu
dan tentu saja Allah lebih mengerti kadar dan ukuran kita
apakah kita "pelit" dengan kado yang kita bawa
ataukah kita terlalu berlebihan sehingga melupakan tugas kemanusiaan kita
yang tentu saja merupakan tugas kita sebagai khalifah di bumi
untuk membawa "peradaban" yang diridhoi Allah di muka bumi ini.
(yang sebetulnya adalah "kado terbaik" hamba kepada Tuhannya)
Maka menunggu pertemuan itu merupakan nikmat dan nikmat diatas nikmat dan bertambah nikmat.
Sebagaima firman-ya. Maka nikmat mana yang kau dustakan.
Sehingga kita mampu bersaksi.
"Sungguh hamba telah merasakan nikmat itu".
Hamba bersaksi atas nikmat itu.
Hidup akan selalu nikmat. Apalagi saat puasa Ramadhan ini.
Puncak nikmat yg tengah dilipat gandakan.
Rasa itu terjadi ketika ada perubahan. Ada referensi. Ada pembanding.
Ada panas maka ada dingin. Ada manis dan pahit.
Bila berada di satu suhu maka kita tidak "merasakan" nikmat atau sakitnya panas atau dingin.
Juga hal sakit yg sama tidak menjadi terlalu menyakitkan.
Namun sakit berganti-ganti yg lebih menyiksa umpama sakit gigi. Sembuh sakit sembuh lagi.
Demam tinggi. Sering tidak menyakitkan. Tapi panas dingin yg menyakitkan. Rasa.... Rasa. Dualitas rasa.
Demikian pula dengan rasa khusyu'. Atau rasa silatun. Atau rasa iman dan rasa takwa.
Perubahan rasa inilah yang sangat menentukan.
Kalau tanpa perubahan. Maka tidak ada rasanya.
Perubahan bisa terjadi di detik ini ketika kita mulai membandingkan.
Melepaskan diri dari posisi rasa dan menentukan arah yaitu lebih khusyu atau kurang kusyu.
Lebih mendekat ke Allah atau lebih menjauh. Inilah prinsip yang saya ambil contohnya dari
prinsip ketidakpastian heisenberg.
Kita tidak bisa menentukan dua-duanya. Hanya salah satu.
Posisi rasa atau arah perubahan jiwa. Kalau berada di rasa maka kita tidak mampu menentukan arah.
Berada di arah maka posisi rasa menjadi tidak bisa diamati dan ditentukan.
Mudahnya tentukan saja arah jiwa. Karena inilah yang akan membawa arah ke arah yg lurus.
Arahnya jelas mendekat kepada Allah. Lalu bagaimana cara mendekatnya?.
Bagaimana kita tahu kita sudah mendekat?.
Maka kita memiliki indera yaitu hati.
Keyakinan yg sangat kuat dalam dan menghujam.
Dan reaksinya yg kita amati. Yaitu rasa. Terima saja rasa apapun.
Kalau belum seperti yg diharapkan kembalikan lagi ke Allah dg jujur.
Begitu terus interaksi berulang. Berputar. Sampai terasa yakin semakin dekat.
Dan semakin dekat.
Semakin mendekat kepada Allah adalah puncak rasa. Bahagia di atas bahagia.
Yang entah apa namanya. Maka inilah yg disebut sebagai hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
Hari ini lbh mendekat kpd Allah dibanding kemarin. Semakin dekat semakin bertambah rasa nikmat itu.
Puncak pertemuan adalah kebahagiaan. Proses menunggu adalah rasa nikmat itu. Maka coba renungkan.
Bisakah meyakini pertemuan sholat tahajud nanti malam (misalnya) akan menjadi puncak kerinduan.
Harapan pertemuan dg kekasih yg paling membahagiakan.
Maka sekarang adalah menunggu saat itu terjadi. Sepenuh harapan dan keyakinan.
Bahwa pertemuan itu akan terjadi. Ulangi dan ulangi. Sehingga merasakan menunggu sholat tahajud terasa nikmat.
Yakin dan semakin yakin. Sampai tidak ada celah sedikitpun akan keraguan.
Akal. Jiwa dan raga.
Bisakah?.
Bahwa sholat itu nanti menjadi saat bertemu.
Insya Allah. Dengan memohon kepada Allah, maka tentu saja bisa dan mudah.
Saat nikmat mulai menyebar dan mengaliri dada.
Rasa mulai nyata dan ada.
Rasa itu selalu baru.
Bukan rasa yg sama dg yg pernah dialami. Karena rasa yg sama pasti sudah tdk berpengaruh.
Kosong. ..........Datar.
Namun rasa yg muncul adalah rasa yg baru dan belum pernah dialami.
Maka perlu mengamati dg sungguh. Membiarkan menguat. Karena kalau diabaikan.
Rasa ini mudah terganti dan terhijab atau tertutup. Kenali rasa asing yg nyaman. Sekilas.
Seperti dada terasa lapang. Dada terasa luas. Terasa lega. Terasa plong dsb....dsb.
Coba perhatikan dan ikuti rasa tersebut.
Sebagai referensi saja.
Rasa itu bisa seperti percikan embun yg menyejukkan di dada.
Lembut dan menyegarkan.
Kadang lembut hangat sepoi-sepoi.
Kadang seperti kabut lembut mengisi dada.
kadang seperti lapisan yang kukuh dan kuat
namun kadang seperti dinding yang memebentengi dada
Bisa juga seperti menjalar semut. Berkedut lembut.
Namun bisa seperti elusan selendang sutera dan lembut.
Bisa juga rongga dada meluas. Meluas seperti mengisi alam semesta.
Seperti kulit menjadi membran tembus hawa. Menyatu dg hawa di luar tubuh.
Masih banyak lagi rasa demi rasa yg sangat bervariasi.
Berbeda-beda namun dampaknya luar biasa.
Seolah kita rela memberikan apapun milik kita asalkan rasa ini ada terus.
Namun rasa ini aneh. Karena bukan milik kita. Ketika silatun lepas. Rasa ini mengendor.
Dan sedikit demi sedikit melemah. bahkan lalu hilang. Kadang bisa sangat mudah tersambung lagi.
namun seringkali sampai mati-matian berusaha namun gagal.
Bagaimana mendapatkan ini sebenarnya?.
Caranya sederhana.
Sejengkal mendekat kpd Allah maka rasa ini muncul.
Tapi dalam bentuk dan wujud rasa yg baru.
Rasa demi rasa ini selalu terbarukan. Selalu muncul rasa yang asing. Aneh.
Yg tdk mampu dijelaskan. Namun sangat dikenal yaitu rasa silatun.
Selalu asing namun seperti kembali ke pelukan yang sangat dikenal.
Yaitu Rasa dekat kpd Allah.
Semakin dekat dan semakin dekat.
Rasa ini ada ketika ada proses mendekat, atau yakin, diri kita leih dekat dibanding sebelumnya.
Jiwa kadang menjadi semakin peka dan sangat sensitif. Mampu merasakan tangisan bumi.
Rintihan pohon. Jeritan binatang. Mampu mendengar bisikan dan bisikan.
Mata seolah melihat keindahan dan kegaiban alam.
Alam menjadi sangat misteri dalam indah yg menakjubkan.
Keindahan yg sangat sulit dimengerti dan sulit difahami.
Seolah rumput ingin disapa. Seperti bunga ingin dikenal.
Tanah seperti berbisik. Seperti mendengar dan merasakan.
Namun semua itu hanya ada dlm kesadaran (kita sebut saja sebagai sebuah keyakinan)
Mungkin saja bisa dianggap sebagai khayalan atau lamunan, namun dalam dimensi kesadaran inilah keyakinan.
Dalam dimensi keyakinan maka ini realitas. Aneh bukan?.
Dan anehnya lagi, seolah jiwa terseret dan hanyut dalam rasa yg memabukkan.
Keindahan yg mempesona. Yang membuat tak henti-hentinya bertasbih.
Berterima kasih. Lalu alam seperti mengajari tentang kekuasaan Allah.
Burung, kupu-kupu, pohon dan semua alam menjadi menyatu dalam kesadaran.
Diri menjadi bagian alam. Berubah menjadi gelombang yg menjalar mengikuti cahaya alam.
Demikian sekedar referensi. Salah satu rasa yg aneh.
Dan bertambah aneh dan sulit dijelaskan.
Namun nyata dlm kesadaran.
Dalam keyakinan.
Dalam persaksian.
Syahadat.
Apakah ini benar, apakah ini khayalan,
inilah dimensi "persaksian", yang mungkin juga pernah disaksikan
karena masing-masing diri saling menyaksikan
lalu saling mengabarkan akan persaksian itu
mengabarkan akan "janji pertemuan" dengan Tuhan itu benar
mengabarkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan
mengabarkan akan nikmat-nimat Tuhan yang telah diberikan
mengabarkan sebuah persaksian
Tiada Tuhan selan Allah
Bahwa apa yang diajarakan oleh Muhammad adalah benar
bahwa Muhammad adalah utusan Allah
yang mengabarkan pesan dan janji Allah keada manusia dan seluruh alam semesta ini.
Dan inilah dimensi dalam keyakinan, dimensi persaksian.
Semoga ini kebenaran bukan persangkaan saya.
Sungguh Allah sangat tidak menyukai orang yg mengatakan apa yg tdk dilakukannya.
Wassalam
Imam Sarjono
Langganan:
Postingan (Atom)