Jumat, 04 November 2011

Kisah Kejujuran

Sumber : TDA

Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.

Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.


Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit Jakarta.


“Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.


“Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.


“Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.


Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !”


Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”

“Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu … sebentar.”

“Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan … jangan oom, itu uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat.


Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak.


Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!”..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”.


Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue.


Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.

sumber : TDA


Kamis, 03 November 2011

Tips Membuat CV yang benar dan Menarik

CV = Kesuksesan Anda
(Jika anda mengelolanya dengan benar)

Curiculum Vitae (CV) anda ibarat cermin bagi perekrut di perusahaan yang anda
lamar. Dengan membacanya, seorang rekruiter akan segera bisa membayangkan
seperti apa anda, bahkan sebelum mereka melihat anda. Profesionalkah, lamban
atau tukang mengeluh?. Karenanya,berhati-hatilah dalam membuat Curiculum Vitae
(CV) atau daftar riwayat hidup anda.Kalau salah memasukkan informasi, bukan
tak mungkin kesempatan anda melayang.

1. Wajah CV.

Siapa yang tidak menyukai wajah cantik atau penampilan menarik? perumpamaan
itupun berlaku ketika anda membuat CV. Sekalipun anda pintar dan profesional,
perekrut tak akan tertarik membaca CV anda jika terlihat tidak menarik.
Karenanya, kertas dan huruf adalah hal yang perlu diperhatikan dengan seksama
untuk memastikan CV anda dibaca sampai selesai.

a. Kertas :

Jangan menggunakan kertas bergaris, berwarna atau yang desainnya meriah.Kesan
yang timbul dengan menggunakan kertas jenis ini adalah : tidak profesional dan
kuno.Sebaiknya gunakan kertas HVS putih polos dan ketik lamaran anda
menggunakan komputer. Jangan pernah mengirimkan fotokopi CV, karena anda
akan dianggap tidak menghargai perusahaan yang anda lamar. Biasakan
mengeprint beberapa set CV anda sekaligus, sehingga anda tak akan kerepotan
ketika tiba-tiba harus mengirim lamaran.

b. Huruf :


Usahakan mengetik CV anda dengan komputer, karena akan lebih terjamin
kerapihannya dibanding kalau anda menggunakan mesin tik manual.Untuk jenis
huruf yang pantas dalam pengetikan CV, gunakan pilihan huruf yang sederhana
tapi jelas terbaca, misalnya : Arial atau Times New Roman. Jangan memilih
huruf yang membuat efek ukiran, karena akan memusingkan orang yang membacanya
dan mengesankan anda seorang amatiran. Gunakan tinta hitam.

2. Isi CV

Untuk 'menjual' diri anda pada perusahaan yang anda lamar, sebaiknya kemukakan
hal-hal yang pantas diketahui. Adalah hal yang mutlak untuk menampakkan
kejujuran dalam CV anda, tetapi bukan berarti anda mengobral diri anda dengan
menuliskan hal-hal yang tidak perlu, misalnya tinggi dan berat badan, kondisi
kesehatan atau jumlah anak.

a. Data diri :

Pada bagian ini jelaskanlah hal-hal yang secara prinsip harus diketahui
perusahaan tempat anda melamar, yaitu: nama lengkap, tempat/tanggal lahir,
alamat dan nomor telephone.

b. Pendidikan:

Pada bagian ini yang perlu disebutkan adalah sertifikat yang berkaitan dengan
pendidikan formal anda, nama lembaga pendidikan tempat anda pernah menimba
ilmu, bidang studi, prestasi, penghargaan atau kursus yang signifikan dengan
pendidikan anda. Kalau anda pernah mendapatkan beasiswa, penghargaan sebagai
pemenang lomba karya tulis atau pernah kursus bahasa asing atau komputer, maka
tuliskanlah dengan singkat dan jelas.

c. Pengalaman Kerja :

Sebutkan dengan singkat dan jelas di perusahaan mana saja anda pernah bekerja.
Jika anda pernah bekerja kurang dari enam bulan di suatu perusahaan, sebaiknya
jangan ditulis kecuali ada hal khusus yang anda yakini baik untuk perkembangan
karir anda.Tuliskan dengan singkat apakah anda pernah mempunyai prestasi di
tempat kerja anda yang lama. Hindari untuk menyebutkan nama bos anda yang lama
atau nomor telephone perusahaan anda yang lama.

d. Aktivitas dan keterampilan khusus:

Point ini sifatnya tidak harus. Jika anda memang mempunyai kegiatan atau
keterampilan yang memang mendukung, tuliskanlah. Misalnya: mengikuti
perkumpulan filateli, sekretaris atau punya keterampilan menulis steno,
manajemen dll.

e. Minat :

Sebutkan dengan singkat minat anda yang anda yakin positif dan signifikan
untuk peningkatan karir anda.
Sumber :.HRD-Forum

Indonesia: Salah Satu Negara dengan Tindak Suap Terbanyak di Dunia

Praktik suap di Indonesia sepertinya sudah semakin memprihatinkan. Dalam Bribe Payer Index (BPI) atau indeks pembayaran suap pada 2011 yang dilakukan Transparency International, Indonesia menempati empat negara yang melakukan tindak suap terbanyak di dunia.

"Indonesia pada 2011 memiliki BPI sebesar 7,1 (dari rata-rata 7,8). Indeks ini menempatkan Indonesia pada peringkat 25 dari 28 negara," kata Frenky Simanjuntak, Kepala Departement Economic Government Transparency International Indonesia (TII) dalam jumpa pers di kantor TII, Kamis (3/11).

Frenky menjelaskan indeks dengan nilai kecil menunjukkan negara tersebut selalu melakukan suap dan sebaliknya nilai tinggi menunjukkan negara dengan tidak pernah melakukan suap. Pada BPI 2011 ini, Indonesia memiliki indeks sebesar 7,1. Posisi ini masih lebih baik dari Meksiko dengan nilai 7,0, lalu Cina dengan 6,5 dan Rusia menempati posisi paling bawah dengan indeks 6,1.

Survei ini dilakukan terhadap 3.016 responden yang berasal dari kelompok bisnis yang tersebar di 30 negara di seluruh dunia. Responden akan ditanyakan bagaimana frekuensi atau kecenderungan dalam melakukan praktik suap di 28 negara yang dilakukan survei.

Hasil survei tersebut, lanjutnya, mengindikasikan praktik suap di Indonesia relatif berpotensi biaya yang tinggi akibat seringnya pengusaha melakukan suap. Hal ini diperparah dengan lemahnya UU tindak pidana korupsi di Indonesia.
 
Sumber : REPUBLIKA, JAKARTA
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Bilal Ramadha

Dahlan Iskan Pantas jadi Presiden RI 2014

Catatan Sholihin Hidayat
Jacob Oetama dan Kompas Grup Siap Kawal Dahlan Iskan
GAYA bicara dan style kepemimpinan Dahlan Iskan, sama sekali tak berubah. Hampir sama saat dia menjadi CEO Jawa Pos Grup atau Dirut PLN. Padahal, kini dia menduduki jabatan yang sangat strategis di negeri ini, yakni Meneg BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Kemeneg BUMN adalah gudangnya duit dan aset. Karena itu, seringkali jadi rebutan dan sapi perah.

Memimpin seperti Dahlan memang sesuatu yang baru di jajaran kabinet. Terbuka dengan siapa saja, termasuk soal kiat-kiat dan langkah-langkah strategis yang akan dilakukan di BUMN. Apalagi, Dahlan juga menyatakan tidak mau terima gaji sebagai menteri,  tidak menempati rumah dinas, tidak menggunakan mobil dinas, dan fasilitas-fasilitas lain.

Yang luar biasa, menurut saya, Dahlan tidak mau mengenakan pakaian dinas dan pin menteri. Kenapa luar biasa. Umumnya, kita ini amat bangga dengan pakaian kebesaran. Apa itu pakaian safari, jas, batik, atau bahkan pakaian sebagai identitas seorang agamawan, semisal kopyah puytih dan serban. Pakaian dinas atau pakaian kebesaran melambangkan status seseorang. Apalagi, kalau itu dilengkapi dengan pin Garuda atau bintang-bintang lainnya di pundak dan bahu.

Bagi Dahlan, formalitas dan pakaian adalah semu. Pakaian bisa terdiri dari apa saja dan bisa dikenakan oleh siapa saja. Bagi dia, kehebatan seseorang tidak dilihat dari baju. Baju atau pakaian hanya sebuah alat atau upaya untuk menutupi badan. Lantas, kenapa harus diistimewakan atau diagungkan? Dahlan memilih biasa-biasa saja, meski dia orang yang luar biasa. Itu pilihan dia, yang tidak semua orang setuju atau bisa enjoy.

Mengenakan hem panjang polos dan sepatu kets. Itu kebiasaan Dahlan yang juga tak berubah. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, terbuka, dan mau diwancarai wartawan di mana saja. Bisa di ruang kerja, lift kantor Kemeneg BUMN, bahkan di jalan saat dia berolahraga atau berangkat kerja dengan jalan kaki.

Kemarin pagi, sekitar pukul 10.00, Dahlan menelepon saya setelah saya SMS. Dia minta saya untuk meluncur ke kantor Kompas-Gramedia Jl Palmerah, sekaligus menemani Dahlan untuk menemui Jacob Oetama, CEO Kompas-Gramedia Grup. Saya pun bergegas menuju kantor Kompas I. Ternyata Jacob berada di kantor Kompas tahap II. Segera saja saya berjalan menuju kantor II yang letaknya di belakang Kompas tahap I.

Baru beberapa langkah berjalan, Dahlan menelepon, ‘’Anda di mana Hin,’’ tanya sang menteri. Saya bilang sudah sampai di kantor Kompas. Dia bilang juga sudah sampai. Ternyata Dahlan dan saya sama-sama keliru.

Nah, di sinilah keaslian Dahlan kian tampak. Dia jalan dari Kompas I ke Kompas II, yang jaraknya sekitar 600 meter. Berarti dia berada di belakang saya. Benar, Dahlan berjalan kaki diiringi Budi, wartawan Indo Pos Jakarta, yang dijadikan ajudan.

Saya melihat penampilan Dahlan yang sangat sederhana, untuk ukuran seorang menteri. Apalagi, itu menteri BUMN, yang omzet per tahunnya mencapai Rp 2000 triliun. Jumlah itu di atas APBN, yang ’’hanya’’ Rp 1500 triliun. Tetap baju polos dipadu celana gelap dan sepatu kets. Tangannya dibiarkan kosong tanpa mengenakan arloji.

Tentu saja pertamuan dua bos grup media terbesar di Indonesia itu sangat menarik dan gayeng. Saya pun diperkenalkan oleh Dahlan kepada Jacob. ’’Ini Sholihin Hidayat, mantan pemimpin redaksi Jawa Pos, pengganti saya,’’ jelas Dahlan. Jacob mengulurkan tangan menjabat hangat.

Pertemuan di lantai 6 itu juga diikuti jajaran elite Kompas dan para redaktur. Tanpa basa-basi, Dahlan langsung menyatakan bahwa dirinya sengaja datang menemui Jacob, yang dianggap sebagai sesepuh wartawan Indonesia. ’’Sudah seharusnya saya datang ke Pak Jacob, setelah sebelumnya saya menemui Goenawan Mohamad (pendiri majalah TEMPO dan mantan Pemred TEMPO) dan Fikri Jufri (juga mantan Pemred TEMPO,’’ ujarnya.

Jacob dengan antusias memuji Dahlan. ’’Luas biasa Pak Dahlan. Saya bangga dia jadi menteri BUMN. Gaya wartawan Pak Dahlan juga tetap dipertahankan,’’ ujar Jacob. Ketika Jacob memanggil Dahlan dengan Pak Menteri, Dahlan menyahut, ’’Saya Dahlan, pak. Nama saya memang Dahlan. Jabatan menteri BUMN ini kan hanya tiga tahun, sedangkan nama Dahlan akan saya bawa sampai mati. Jadi, tetap panggil saya dengan Dahlan,’’ jawabnya.

Pertemuan berlangsung hangat dan diwarnai canda ria. Dua-duanya wartawan senior yang amat terkenal, meski punya gaya dan style berbeda. Jacob menceritakan bahwa tuga Meneg BUMN sangatlah berat. Banyak intervensi dari kalangan mana pun, terutama partai politik. Sebab, BUMN gudangnya duit dan layak dijadikan sapi perah.

Karena itu, Jacob dengan tegas menyatakan bahwa dia dan Kompas Grup akan mengawal Dahlan sampai selesai memimpin Kementerian BUMN. ’’Saya siap mengawal Pak Dahlan selama menjalankan tugas sebagai Menteri BUMN. Tugas Pak Dahlan sangat berat. Akan terjadi banyak intervensi dan perebutan jabatan strategis di BUMN. Mudah-mudahan Pak Dahlan kuat dan sukses mengemban amanat,’’ tegas Jacob.

Tentu ini amat luar biasa. Dukungan serta semangat Jacob dan Kompas Grup untuk mem-back-up Dahlan akan sangat berarti bagi kesuksesan dalam memimpin BUMN, yang terdiri dari 141 perusahaan berskala besar-kecil. Ada PLN, Bank BRI, Bank Mandiri, Telkom, Garuda, Semen Gresik, Petrokimia, PT DI Bandung, dan puluhan BUMN perkebunan yang rata-rata merugi.

Dahlan pun kian optimistis memimpin BUMN dengan adanya pengawalan dari Jacob dan Kompas-Gramedia Grup. Karena itu, Dahlan juga menyatakan akan curhat kepada wartawan jika ada persoalan terkait dengan BUMN atau adanya intervensi dan tekanan.

Menurut dia, pers tetap akan menjadi alat social control yang efentif dalam pelaksanaan demokrasi dan penyelenggaraan negara. Karena itu, Dahlan sangat yakin, dengan latar belakang dia sebagai wartawan, tugas-tugas dia sebagai meneteri BUMN akan sukses. Semoga! Selamat bertugas Pak Dahlan!

*penulis adalah mantan pimred Jawa Pos, dewan pakar redaksi Lensaindonesia.com

http://www.lensaindonesia.com/2011/11/01/jacob-oetama-dan-kompas-grup-siap-kawal-dahlan-iskan.html

Dahlan Iskan Layak jadi Capres 2014

LENSAINDONESIA.COM: Dahlan Iskan Pantas kita jagokan bersama menjadi Capres 2014. Pasalnya, Dahlan Iskan tergolong orang yang tak pernah  mengambil gaji sebagai Direktur Utama (Dirut) PLN. Alasannya, sumber  penghidupannya sudah cukup dari Jawa Pos.

Dahlan Iskan  membuktikan dirinya mampu melakukan pekerjaan rumit dalam bidang  kelistrikan. Kuncinya ialah mengandalkan pengalaman, intuisi, dan  feeling.

Dialah wartawan pertama yang mampu mengendalikan  birokrasi PLN mencapai kemajuan pesat, sehingga mampu memuaskan banyak  pelanggan yang sebelumnya banyak diteror gangguan byar-pet atau  pemadaman listrik.

Masalahnya, banyak orang yang menggantungkan  kehidupannya pada energi listrik. Mulai dari kalangan pengusaha, rumah  tangga, hingga masyarakat awam sangat terpukul ketika terjadi insiden  pemadaman listrik yang berujung pada kerugian para konsumen listrik.

Peringatan  Hari Listrik Nasional (HLN) ke-66 yang jatuh pada 27 Oktober 2011 ,seharusnya menjadi momentum bagi kebangkitan pembangunan dunia  kelistrikan nasional.

Semenjak Direktur Utama PT PLN (Persero) dipegang  oleh Dahlan Iskan sejak Desember 2009, BUMN terbesar kedua di negeri ini  mengalami kemajuan luar biasa.

Selama hampir dua tahun PLN  dipegang raja koran dari Surabaya, PLN mengalami kemajuan luar biasa.  Padahal selama puluhan tahun, nasib PLN benar-benar menjadi bahan  hujatan dan kritik akibat mengalami pemadaman  (byar-pet) sehingga banyak  merugikan pelanggan.

Apalagi, banyak daerah yang belum tersentuh  aliran listrik. Daftar antre calon pelanggan yang menginginkan  sambungan listrik baru menjadi problem berat dalam dunia kelistrikan.

Namun  di tangan Dahlan Iskan, kini PLN menuai banyak pujian dan prestasi.  Program sejuta sambungan dalam sehari menjadi gebrakan baru yang bisa  mengatasi permasalahan listrik selama 65 tahun, yang berhasil dipecahkan  hanya dalam hitungan satu tahun kepemimpinannya.

Padahal ketika  ia ditunjuk menjadi Direktur Utama PLN, banyak orang yang meragukan  kepemimpinannya. Bahkan  ketika dilantik menjadi Dirut PLN, ratusan  pendemo melakukan aksi unjuk rasa menolak pelantikannya menggantikan  Fahmi Mochtar.

Para pendemo itu menilai Dahlan Iskan tidak  berpengalaman dan awam di bidang manajemen kelistrikan. Namun tak  disangka, meski latar belakangnya seorang jurnalis tulen, kemampuan  Dahlan Iskan dalam memanajemeni PLN mencapai banyak prestasi yang sangat  menakjubkan.

Ada  lima masalah pelik menelikung kenapa PLN  mengalami banyak hambatan dalam menyediakan energi listrik. Pertama,  terbatasnya kemampuan PLN melayani sambungan baru, sehingga menyebabkan  daftar tunggu yang panjang. Kedua, kurang sehatnya keuangan PLN karena  regulasi tarif, subsidi, dan marjin pendapatan PLN.

Ketiga, tidak  seimbangnya pertumbuhan sarana pembangkit transmisi dan distribusi  dengan pertumbuhan konsumen dan penjualan listrik. Keempat, PLN terjebak  biaya  tinggi akibat besarnya energi yang dibangkitkan dengan bahan  bakar minyak, yang sebelumnya banyak disubsidi pemerintah. Kelima,  terjadinya  kekurangan daya listrik dan pemadaman bergilir di banyak  kota. Berbagai kendala di atas dijawab Dahlan Iskan dengan solusi  cerdik.

Sangat menarik membaca detail berbagai gagasan yang  diutarakan dalam buku berjudul Indonesia Habis Gelap Terbitlah Terang  (Kisah Inspiratif Dahlan Iskan, Gaya Wartawan Mengelola Kelistrikan)  karena menyajikan berbagai komentar-komentar orisinal yang mengkritisi  mutu dan gaya kepemimpinan Dahlan Iskan.

Terdapat 21 tokoh yang  menorehkan pendapatnya mengenai gaya kepemimpinan Dahlan Iskan dalam  buku eksklusif ini. Mereka ialah Ishadi SK, Sofjan Wanandi, Sabam P  Siagian, Don Kardono, Iwan Darusman M, Muhammad Reza, Murtaqi  Syamsuddin, Alvin  Edison Woisiri, dll.

Menurut pendapat Sofjan  Wanandi, yang dibutuhkan bangsa ini adalah orang yang bisa memanage,  berani melakukan terobosan, dan bertanggung jawab. Dahlah Iskan adalah  orang bertipe demikian. Dia tidak punya gelar doktor atau profesor, tapi  cepat belajar.

Mulai tanggal 20 Oktober 2011 kemarin, Dahlan Iskan resmi diplot menjadi Menteri BUMN, yang membawahi tak kurang 141 perusahaan negara, di mana 18 di antaranya kini tengah terancam kolaps (merugi) sehingga merugikan keuangan negara Rp 1,29 triliun. Apakah Dahlan Iskan akan berhasil menjadi sang arsitektur Kementerian BUMN, sebagaimana ia sukses mempiloti PLN selama hampir 2 tahun yang sudah berlalu? Kita nantikan saja kiprahnya lebih lanjut. Kalau tidak keburu tua, ialah sang kandidat presiden 2014 nanti. Pantas kita jagokan bersama menjadi Capres 2014