Rabu, 04 Juli 2012

Gerakan Matikan BB di Depan Anak

Buat yg punya anak:
Curhat seorang anak kecil tentang BB

Aku dan adik sayang mama
Tapi maaf ma.

Mengapa saat adik menangis kehausan,
Mama masih asyik BerBBM
Mengapa saat aku tidak bisa mengerjakan PR
Mama selalu bilang coba dulu pikir sendiri, sambil mata melotot ke BB
Mengapa saat aku tidak bisa memasang tali sepatu. Mama selalu menyuruh mbak untuk membantunya, sambil tangan mama lincah menyentuh BB

Aku dan adik sayang Papa
Tetapi, maaf Pa

Mengapa saat mama minta tolong ambilkan pampers untuk adik. Papa selalu bilang ambil sendiri, sambil tertawa di depan layar BB
Mengapa saat aku mengajak main bola. Papa selalu bilang papa lagi capek, tapi tanpa lelah balas BBM
Mengapa papa sekarang jarang sekali menyanyikan lagu saat membobokkan adik. Tapi papa asyik terus pegang BB
Mengapa papa sekarang jarang sekali baca cerita saat sebelum tidur. Tapi papa selalu pegang BB saat membobokkan aku

Aku dan adik sayang Papa Mama
Tapi, maaf pa ma

Aku dan adik jadi benci BB, padahal papa mama menyayanginya
Karena sejak ada BB, papa jarang cium aku
Karena bila pegang BB, mama kalau ditanya PR selalu marah-marah
Karena bila ada bunyi BB, papa selalu melepaskan gendongan adik
Karena sejak ada BB, mama hanya bisa tertawa dengan BB
Karena sejak kerajingan BB, papa jarang maen perang-perangan lagi denganku

Aku dan adik sayang Papa Mama
Tapi, maaf pa ma
Aku pernah ajak adik berdoa, semoga BB papa mama selalu low bat.
Aku pernah ajak adik berdoa, mudah-mudah wajahku berubah jadi BB. Biar papa mama selalu pandangi aku terus
Aku pernah Ajak adik berdoa, supaya BB papa mama ketinggalan di kantor. Biar Aku dan adik bisa bersenang-senang seperti dulu lagi

Aku pernah ajak adik berdoa, supaya semua orang di rumah ini tidak beli BB kayak papa mama. Agar kalau papa mama mengacuhkan aku, aku bisa main dengan mereka

Papa dan Mama
Maafin aku dan adik

sumber
Dr Widodo Judarwanto SpA
Save Our Children
(Gerakan Matikan BB di Depan Anak)
"Ayo kita selalu saling ingatkan satu sama lain"

Sumber dari BBG Pengurus TDA 
Mas Agung
Bungahati.com

YANG MENYAKSIKAN DAN YANG DI SAKSIKAN

Aku bukanlah Aku sebagaimana kau tahu, sebab Aku sendiri tidak pernah bertemu dengan diriku. Aku menjadi ada setelah bertemu dengan Engkau. Engkau yang memberitahuku tentang bagaimana keberadaanku. Kemudian Aku menjadi yakin atas keberadaanku.

Semua saling menunggu, menunggu Engkau mengenali AKU, dan begitu juga sebaliknya. Jika tiada yang mengenali, maka Aku juga akan hilang di telan masa. Sebab tiada sesuatu yang mengenali Aku.

Apakah menjadi berarti jika tiada yang mengenali Aku, ataukah sebaliknya untuk apakah Aku mesti dikenali. Atau perlukah Aku mengenali Engkau ?.

Saling mengenal dan saling menunggu menyatakan keber-artian dan keterikatan, agar keberadaan dalam kesadaran tetap terjaga. Maka Aku dan Engkau saling menjadi saksi atas satu sama lainnya. 

Jika mengerti keberadaan adalah dalam bentuk berpasangan maka kesadaran pun demikian juga. 

Keberadaan adalah sebuah pernyataan adanya kesaksian. Kesadaran yang menyaksikan, akan menyebabkan (hakekat) suatu keberadaan bermakna. 

Aku dan Engkau adalah sebutan atas entitas kesadaran, yang mampu menjadi penyaksi kebesaran Tuhan. Menjadi saksi atas satu sama lainnya. Dalam menembus batas kesadaran dua dunia. Realitas dan ghaib. Allah telah menyiapkan semuanya dalam berpasangan. Maka tiada Aku jika tiada Engkau. Adanya Engkau menjadikan keberadaan adanya Aku.


Apakah mimpi dan nyata bisa dibedakan ?. 
Ataukah kenyataan adalah sebuah mimpi juga ?
Ataukah mimpi itu sesungguhnya sesuatu yang nyata ?
Manakah yang lebih nyata hari ini ataukah hari akhir ?
Manakah yang lebih nyata dunia ini ataukah akherat ?

maka hanya skala prioritas kita saja yang membedakan dua pernyataan tersebut.

Ketika kita sudah masuk ke dalam dimensi kesadaran maka, kedatangan kita akan disambut. Karena jika tidak maka kita menjadi tidak ada juga. Itulah kebesaran sang Pencipta. Dimanapun kita berada ada yang menyaksikan dan yang di saksikan. Engkau yang menyaksikan kedatang Aku. Ataukah Aku yang menunggu kedatangan Engkau.

Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan. Maka Allah bersumpah atas ke dua penyaksi ini. 


Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,
Demi hari yang dijanjikan
Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan. (QS. Al Buruj, 1-3)

Maka manusia senantiasa dalam upayanya kearah makom (suasana) ini.  Aku menjadi saksi atas Engkau. Dan engkau menjadi saksi atas apa yang Aku saksikan.  Aku dan Engkau bersama sama menjadi saksi atas hari yang di janjikan. Menjadi saksi atas yang realitas dan yang ghaib.

Aku dan Engkau bersama menjadi saksi atas yang realitas (yaitu) adalah alam semesta, sebagaimana adanya gugusan bintang-bintang.

Aku dan Engkau juga menjadi saksi bahwasanya hari akhir adalah realitas sebagaimana adanya alam semsta ini, sebagimana tampak nyatanya gugusan bintang-bintang itu. Demi hari yang akan di nampakan (hari akhir) kepada kita sebagaimana kenampakanya gugusan bintang sekarang ini. Keyakinan hari akhir (ghaib) sebegitu kuat, sebagaimana nampaknya gugusan bintang.


Maka, Aku dan Engkau menjadi saksi atas keberadaan (realitas)  hari akhir, adalah sebagaimana keberadaan (realitas) gugusan bintang. Keberadaan gugusan bintang dan keberadaan hari akhir adalah realitas keberadaan yang harus di persaksikan ke ada annya. Persaksian atas realitas dan ghaib, menjadi sebuah kesatuan pemahaman.


Sekali lagi,  Agar keber ada an menjadi ada maknanya. Maka setiap keberadaaan di butuhkan penyaksi, kemudian di kuatkan dengan satu orang saksi lagi yang menyaksikan atas apa yang disaksikan oleh  penyaksi pertama. Karenanya  itulah butuh dua penyaksian, yang menyaksikan dan yang disaksikan. Untuk saling menguatkan kesaksian diantara mereka itu.  Kesaksian yang berpasanganlah yang akan mampu menguatkan keberadaan itu. Sehingga keberadaan menjadi benar-benar bermakna. Maka setiap diri di ciptakan ada pasangannya.



Kita bersama-sama saling menyaksikan, bersama-sama mengakui, bahwa Engkau telah menyaksikan yang Aku saksikan, dan begitu juga sebaliknya. Maka tiada keraguan lagi sebab kita saling menguatkan keyakinan ini.


Maka karenanya kita semua (dalam makom) menjadi saksi atas apa-apa yang telah dipersaksikan Rosululloh. Bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kita ber-dua bersama-sama saling menguatkan keyakinan ini.

Kita semua menjadi saksi bahwa apa-apa yang di khabarkan dan diberitakan Rasululloh semuanya adalah benar adanya. Maka kita mengakui bahwa Rosululloh adalah Rosul (utusan) Allah.

Kemudian Rosululloh akan menjadi saksi kita semua, apakah yang kita persaksikan adalah sebagaimana yang Rosululloh maksudkan. Apakah kita semua telah ‘melihat’ sebagaimana Rosululloh ‘melihat’ . Bagaimanakah kita ‘melihat’ hakekat atas realitas dan ghaib ?.

Apakah kita telah ber-Iman sebagaimana Rosululloh ber-Iman ?
Apakah kita telah ber-Islam sebagaimana Rosululloh Ber-Islam ?
Apakah kita ber-Ihsan sebagaimana Rosululloh ber-Ihsan ?

Maka Rosululloh yang akan menjadi saksi atas umat-umat-nya itu, (yaitu) bagaimanakah sebenarnya per saksian yang  mereka-mereka ungkapkan itu (?). Apakah sebenarnya yang mereka saksikan itu sebagaimana yang di maksudkan Rosululloh atau malahan tidak ?. Dengan kata lain; sudahkan manusia mampu  ‘melihat’ (kekuasaan) Allah, kebesaran Allah, menjadi saksi sifat-sifat Allah, dan seterusnya , dan seterusnya ?. Ataukah masih sebatas dalam angan-angan mereka saja ?. Masih tersimpan dalam akal dan logika mereka saja ?. Dan Rosululloh menjadi saksi atas kesaksian mereka-mereka tersebut. Rosululloh menjadi saksi atas Iman, Islam, dan Ihsan umat-umatnya.

Selanjutnya Rosululloh yang akan menjadi saksi atas umat manusia yang menyebut dirinya ber-Islam,  ber-Iman,  ber-Ihsan. Benarkah begitu keadaan diri mereka tersebut.


Maka kejadiannya, Aku menjadi saksi atas apa-apa yang telah Engkau persaksikan. Engkau menjadi saksi atas Aku yang juga menyaksikan atas  apa yang Engkau saksikan. Kita berdua bersama-sama saling menguatkan persaksian ini. Kita bersama-sama bersaksi “Ashadu ala ila ha’ilallah waa ashadu ana muhammadarosululloh”. Dan saling menguatkan persaksian ini. Maka  Rosululloh akan menjadi saksi atas apa yang telah kita per saksi kan  ini..

Maha Besar Allah, yang telah menciptakan setiap diri dalam keadaan yang berpasangan (dualitas),  Aku dan Engkau, yang menyaksikan dan yang di saksikan.

Maha Suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang di tumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yassin, 36)



Maka memasuki dimensi kesadaran, kita akan di bawa kepada pemahaman ini. Sebuah dimensi kesaksian (yaitu) yang menyaksikan dan yang disaksikan. Kesaksian pembeda yang akan memberitahukan kepada kita bagaimana keadaan (sesungguhnya) kesaksian kita ini. Kesaksian yang (kemudian) menguatkan lagi atas kesaksian kita sekarang ini (sebab) karena ‘dia’ telah juga menyaksikan apa yang menjadi kesaksian kita itu. Oleh karena sebab kesaksianitulah,   sehingga karenanya (membuat)  kita memiliki keyakinan yang utuh. Keyakinan yang tidak akan menyisakan ruang sedikitpun untuk keraguan lagi. (Adalah) Keyakinan atas  “Ashadu ala ila ha’ilallah waa ashadu ana muhammadarosululloh”. Sebab kita telah menyaksikan (melihat) semua itu, dalam kesadaran yang utuh, tidak ada dualitas lagi. Walaohualam

Arief Budi utomo

Membalik Kesadaran


Memasuki akhir sebuah perjalanan (sejak 1997), memberikan makna atas apa yang nampak dan apa yang terasa. Mengungkapkan kepada pembaca hasil perjalanan ruhani, membedah sebuah pemahaman spektakuler yang di usung Ustad ABU SANGKAN. Buku BERGURU KEPADA ALLAH. Buku yang setebal beberapa puluh halaman, tidak sampai ratusan halaman. Namun sungguh luar biasa ke dalamannya, jika kita  menulisakan ulang kembali, entah akan berubah menjadi berapa ribu lembar atau  bahkan mungkin  puluhan jilid barangkali. Dimana setiap jilid akan setebal bantal tidur kita.  Sunguh sampai kita mati pun mungkin akan tetap sulit mengungkapkan ke dalaman hakekatnya. Maka hingga saat ini penulis masih terus   menyingkap setiap kata yang tersurat dan tersirat, mencari hakekat dan  maknanya satu halaman demi satu halaman dan telah  di coba hantarkan perlahan dari satu kajian ke kajian berikutnya.

Perjalanan yang panjang lagi melelahkan, tak berhitung hari, sering kepala menjadi kaki, atau bahkan kaki menjadi kepala, karena memang tak mengerti lagi mau melangkah kemanakah (?). Jalan tertatih, tersungkur puluhan kali, bergolaknya rahsa, seumpama keadaan bumi yang megalami pemanasan global, itulah keadaan jiwa. Namun diri terus berusaha untuk menapaki, terus mencari bukti-bukti, terus membuka hati, mencoba memahami uraian setiap kata, merenungi, mentafakuri, bersama dalam kontemplasi mencari jati diri, dalam kesendirian, dalam belitan hidup, dalam kerumunan persepsi, kesemuanya menjadi ilustrasi atau mungkin  saja menjadi kisah tersendiri.  

Maha besar Allah, sedikit demi sedikit dan   pasti, ditunjukan-Nya jalan dimana dan bagaimana harus memulai. Bersiap mengarungi samudra makrifat yang tiada bertepi. Menuju sebuah hakekat.  Menetapi keghaiban itu sendiri. Namun  ketika bukti ditunjukkan betapa jiwa ternganga sendiri. Sebab nyatanya keghaiban yang coba dimaknai tersebut nyatanya adalah realitas itu sendiri. Membalikan kesadaran itulah yang terjadi. Bagaimana harus menjelaskan ini ?.  Terpana, tak percaya. Nyatanya Allah SWT menunjukkan begitu adanya.

Otak kehilangan kalimatnya, dan raga terjaga dalam tidurnya, sementara kesadaran diam dalam pengamatannya. Mengulangi setiap detail kata yang mungkin luput dari jelajah sang jiwa. Setiap keadaan dirasakan, setiap kejadian menjadi fana, ber-tiwikrama amat dalam, menunggu di pahamkan, nyatanya tiada kalimat yang mampu menjelaskannya lagi. Ya, tak ada kata yang mampu menjelaskannya lagi, semua seperti tanpa huruf , tak perlu kalimat apa-apa. Tak ada tanda baca sama sekali. Semua dimengerti dalam bahasa ilham itu sendiri. Bagaimana menyampaikan fakta ini kepada manusia lainnya. Nyatanya untuk berbicara apa adanya tak ada bahasa yang dapat mewakili ungkapannya.

Sebuah pemahaman yang rasanya sering kita dengar namun kita tidak tahu bagaimana itu. Sebuah kesadaran yang biasa saja namun kenapa begitu dahsyatnya terasa di badan. Maka hanya sebuah pengandaian saja yang dapat disampaikan. Bagaimanakah rasanya ketika kesadaran di jungkir balikan. Sungguh buku BERGURU KEPADA ALLAH telah membalikan kesadaran selama ini. Kesadaran yang terhijab persepsi. Kesadaran diri  yang selama ini tak sanggup melihat realitas sejati, kesadaran yang selama ini yang (telah) mengganggap bahwa keghaiban adalah sama halnya dengan ketiadaan.  (Sesuatu yang tak perlu dianggap).

REALITAS NYATANYA ADALAH KEGHAIBAN itu sendiri. Dan KEGHAIBAN SEJATINYA ADALAH REALITAS YANG SEJATI. Inilah kesimpulan atas perjalanan panjang.  Sebuah pemahaman yang membalikan anggapan, maka perjalanan makrifat menuju hakekat menuju muaranya, adalah ke-imanan Islam, sebuah kesadaran dalam meyakini Iman.

Allah SWT (ghaib) nyatanya lebih realitas dari alam semesta dan diri kita sendiri. Dalam kesadaran kita hanya Allah yang nampak nyata (realitas). Bumi dan alam semesta ini nyatanya hanyalah semu (ghaib). Begitulah dalam kesadarannya sekarang.

Sangat jauh dengan pemahaman pada awalnya. Begitu berpilinnya logika pemikiran menyadari hakaket ini. Meski beberapa kajian tentang ini pernah di baca. Namun ketika merasakannya sendiri fakta ini. Menjadi saksi atas hal ini. Tak luput jiwa terhenyak, diam dalam ke-takmengertian atas apa yang telah di dapatkannya. Lantas bagaimana dengan hakekat realitas yang selama ini nampak oleh indra kita, yang selama ini kita kejar dan kita perjuangkan ?. Sungguh seperti perumpamaan,  salju yang  turun kemudian mencair mengalir entah kemana. Begitu keadaannya. Ketika di pegang nyatanya salju itu meleleh hilang di hembuskan angin. Seperti kebun yang kita perjuangkan kemudian hangus terbakar keesokan harinya. Itulah perumpamaan dunia ini.

Masih banyak sekali pemahaman yang seperti di alirkan satu demi satu  seperti :

1.   1.  Malaikat Allah,  dari keghaiban mereka  mengatur dan mengkontrol system jalannya alam semesta dan diri kita.  Maka akan nampak dalam kesadaran kita,  bagaimana sempurnanya pengaturan itu. Apa yang nampak (realitas) nyatanya di atur dari keghaiban. Maka realitas adalah keghaiban itu sendiri.
2.    2.  Kitab-kita Allah, adalah firman Allah yang menjadi petunjuk bagi manusia. Kebenaran setiap petunjuk  hakekatnya adalah ghaib bagi kita. Kita tidak pernah tahu kebenaran sejati atas petunjuk tersebut. Namun aneh sekali, semua itu dipahamkan, seperti di tarok saja. Sehingga petunjuk tersebut menjadi keyakinan kita atas kebenarannya, menjadi realitas diri kita dalam menjalani kehidupan ini. Keghaiban yang menjadi realitas kesadaran kita.
3.    3.  Nabi dan Rosul, kisah perjalanan ruhani mereka sampai kepada kita melalui khabar yang diberitakan Al quran, sejatinya kita tidak pernah mengenal mereka itu. Namun entah sebab apa, jiwa mereka mampu kita rasakan sebagaimana kita rasakan denyut jantung kita sendiri, bagaimana kehalusan jiwa mereka, perjuangan mereka, nampak sekali terpampang nyata dalam kesadaran kita. Mereka ghaib tapi menjadi realitas di badan ini.
4.    4.  Hari Akhir, suatu hari yang sangat jauh dari gambaran kita. Hari yang sangat ghaib, entah ada ataukah tidak. Kesadaran kita hanya ter konsentrasi di hari ini dan esok hari, terus begitu keadaannya. Hari Akhir adalah ghaib. Namun tidak setelah kesadaran di balikkan, nyatanya Hari Akhir adalah suatu realitas hari yang pasti terjadi. Dunia akherat lebih nyata dari dunia ini. Keghaiban lebih nyata dari realitas.
5.   5.   Qodho dan Qodhar,  betapa sulitnya berhadapan dengan kerasnya kehidupan. Miskin dan papa, tanpa ada cinta. Realitas yang nampak adalah seperti itu, hidup bagai dalam neraka. Perlahan tapi pasti kesadaran ini di balikkan. Manusia tidak akan di rugikan, apa yang dia takutkan hanyalah bisikan saja. Manusia sering hanya takut kepada bayangannya sendiri. Semua berada dalam ketetapan dan ketentuan-Nya. Maka persepsi kita yang tadinya nampak sangat realitas ternyata malah ilusi (ghaib) belaka. Akhirnya kehendak Allah yang terjadi. Kehidupan yang sebelumnya terasa neraka,  di jungkir balikkan keadannya, kehidupan sekarang ini layaknya adalah  di surga saja. Aneh sekali.

Membalik kesadaran. Seperti hanya merubah arah putaran bumi, merubah posisi masing-masing kutubnya saja. Menempatkan kutub realitas dan ghaib sebagaimana yang dimaksudkan oleh pengajaran Rosululloh. Blaam…!. Kemudian kejadiannya, suasana hati berubah sangat radikal. Mendung hilang perlahan, iklim berubah nyaman, angin sirna, cuaca menjadi sejuk, dan bumi (tubuh) menjadi nyaman untuk di tinggali. Kenapakah bisa begitu ?. Sungguh sampai kini tetap tak mengerti. Cahaya Allah (sungguh) sangat besar bedanya dengan cahaya matahari (selain Allah). Cahaya matahari akan merubah wajah bumi menjadi bermacam-macam wajah (iklim). Sementara cahaya Allah mengembalikan wajah manusia kepada fitrah-Nya.  

Mencari referensi

Awalnya luar biasa sulit sekali. Namun nanti semua seperti di bukakan, hal yang terasa sulit seperti di mudahkan untuk memahaminya, seperti di tarok begitu saja. Tidak saja dalam masalah hakekat dalam realitas pekerjaan pun demikian juga, pikiran juga semakin tenang,. Mampu memahami persoalan melihat dari setiap sudut, dan meletakannya ke dalam posisinya masig-masing, sehingga menjadi jelas bagaimana menyelesaikannya. Persepsi-persepsi tentang banyak hal yang selama ini menjadi ‘binding’ seperti di bongkar, sehingga Nampak jelas jalan mana yang meski dilalui. Maka rasanya tak sia-sia melakoni semua ini. 

Menemukan kesadaran ‘Aku’ yang menjadi landasan ber proses untuk memasuki bagian selanjutnya bagian Silatun (Patrap), menjadi kesulitan tersendiri, mungkin bagian ini hampir menyita 30% waktu tersendiri dalam eksplorasinya. Siapakah ‘Aku’, hakekat sang “Aku’, berpilin-pilin dalam kesadaran yang tak tembus, semua saking-saking terhijabnya diri kita atas kerasnya kehidupan kota. Bagaimana tidak pikiran selalu di kejar kebutuhan sehari-hari, mau makan apa besok ?. Ketakutan jika tidak bisa makan, ketakutan jika tidak mampu kerja, semua bagai benang kusut yang sulit menguraikan dari mana asalnya persepsi ini. Sulit sekali mencari referensi, bahwasanya rejeki sudah diataur oleh-Nya. Sebab faktanya semua harus kita perjuangkan dnegan segenap akal dan fikiran, serta kerja keras kita. Jika tidak mampu bersaing, maka habislah kita di belantara kota ini. Mau dikemanakan anak dan istri kita. Meluruhkan semua persepsi ini, bagai peperangan yang tak berkesudahan.

Memasuki tahapan selanjutnya, bagaimanakah kita datang kepada Allah dengan rahsa cinta dan rindu ? (Patrap 1).  Sungguh sulit sekali mencari referensinya di dalam diri kita. File kesadaran kita menolak hal ini. Apakah yang Tuhan berikan kepada dirnya, hingga kita patut mencintai-Nya ?. Hujatan atas ini sedemikian kuatnya. Semua dikarenakan dirinya tak pernah sedikitpun merasakan adanya kasih-sayang atau cinta dalam kehidupannya. Semua berangkat dari beban hidup dan kesulitan hidup yang mendaparkannya.  Seperti apakah rahsa cinta ?.  Sungguh dia tidak pernah mengenal rahsa itu. Bagaimanakah mengenali rahsa tersebut , jika dia tidak pernah disusupkan rahsa cinta ?.

Begitu sulitnya memasuki Silatun (Patrap 1). Bagaimanakah menghadirkan rahsa cinta dalam menyebut nama Allah. Sementara diri tidak mengenal kata itu, tidak pernah merasakan rahsa cinta itu seumur hidupnya. Berulang kali ini ditanyakan dalam dirinya. Diri tetap ternganga tak mengerti. Tak paham apakah yang dimaksudkan.

Sungguh Allah Maha Besar, Maha Suci Allah, secara perlahan diajarkan-Nya, ditunjukkan-Nya seperti apakah rahsa itu, melalui cara-Nya yang sangat ajaib. Diajarkan-Nya kita agar mampu membedakan manakah cinta yang realitas dan manakah yang semu, agar jiwa mengenali hakekat cinta itu sendiri. Begitu dahsyat pengajaran ini. Hampir-hampir saja mencabut nyawanya.    

Fase pengajaran terus berjalan lambat, diperjalankan dirinya memasuki keghaiban. Berjalan memasuki dimensi alam ghaib. Di kenalkan dengan berbagai macam kesadaran yang beredar di masyarakat. Bercengkrama dengan kesadaran para Raja-raja Jawa, mulai dari Ken Arok, Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan banyak lagi,  entah sudah berapa banyak mereka-mereka yang hadir dalam kesadaran dirinya. Mereka hadir untuk dikenali (dalam) kesadaran kita.

Kesadaran masih berkelana, dipertemukan dengan kesadaran Ratu Pantai selatan, Ratu Pantai Utara, Prabu Siliwangi, dan lain-lainnya. Berhadapan perang dengan Nimas Pandansari (Nyi Blorong) dalam sebuah pertarungan. Cerita tidak sampai disitu, dalam kesadarannya mampu merasakan sesuatu yang lebih jauh, para penguasa gunung dan lembah, para danyang dan lelembut. Semua seperti bertabrakan dalam dirinya. Setiap memasuki daerah ada saja kejadian yang terjadi, seperti mampu merasa kehadiran. Sungguh dimensi kesaktian yang melenakan. Sebab sangat terasa sekali efek di badan. Namun semua harus di tinggalkan dan ditanggalkan. Sebagaimana pesan-pesan Pak Slamet Utomo yang sempat terbaca. Bukan itu yang di cari. Perlahan diri meluruh, kembali kepada realitas kehidupan manusia.    

Kembali sebagai manusia biasa, diajarkan apa itu rahsa takut. Ketakutan yang mendera jiwa dan raga. Hingga tubuh meringkuh tak mampu beranjak dari tempat tidur. Ketakutan yang di buat oleh persepsinya. Dikenalinya rahsa takut. Di bandingkannya rahsa takut tersebut. Seberapa kuatkah rahsa takutnya dengan Allah di bandingkan kepada selain Allah. Nyatanya dirinya masih lebih takut kepada selain Allah. Kenyataan itu tak bisa ditutupi, ketika kebutuhan sehari-hari, harus di penuhi, kewajiban hutang harus di bayar, ternyata level rahsa takut lebih tinggi daripada level rahsa takut kepada Allah. Masih ditinggalkan sholat dengan seenaknya. Dimanakah rahsa takutnya kepada Allah ?. Kesadaran di gedor atas hal ini. Kenapakah bisa tertipu ?. Sungguh diri juga tidak mengerti mengingat kejadian itu.

Allah belum menjadi realitas bagi dirinya, maka dirinya tidak takut kepada Allah.  Itulah penyebabnya. Maka pemahaman selanjutnya  kembali diuji lagi. Di pahamkan lagi atas hakekat ini. Di datangkan begitu banyak rahsa takut oleh Allah, begitu banyak masalah yang di munculkan. Dibenturkan pada hakekat keadaan. Nyatanya apa saja yang dia takutkan tidak ada, tidak pernah terjadi, sehingga karenanya diri menyadari ada yang mengatur semua itu. Ada ketentuan dan ketetapan Allah dalam setiap kejadian. Maka takutlah hanya kepada Allah.  Maha Besar Allah. Itulah inti dari pengajaran-Nya.

Masih banyak lagi sebenarnya rahsa yang diajarkan. marah, was-was, dan lain-lainnya, serta bagaimanakah mengenali serta meniadakannya, namun pada hakekatnya sama saja, kembali hanya kepada Allah dan Allah. Berat pada awalnya namun nikmat pada akhirnya.  Begitukah pembelajaran seorang yang awam dengan Islam ?. Jalan tak semanis seperti yang dia dengar. Namun semua terbalaskan, kini hasilnya nyaman di badan. Maka mulai saat itu, semakin dimantapkannya hati untuk terus BERGURU KEPADA ALLAH. Membuat catatan-catatan untuk dibaca di kemudian hari. Mencari dan menyandingkan dengan catatan-catatan Rosululoloh (hadist) yang berkaitan dengan itu, bertanya sudahkah hasil yang di dapat dalam pengajaran kali ini sudah sama dengan hasil yang seharusnya, yaitu sebagaimana catatan yang dibuat Rosululloh untuk hal tersebut. Terus berjalan lagi, dalam diam dalam kontemplasi. Menata hati, agar tubuh ini nyaman ditinggali. Sebab diri bukanlah wali. Manusia biasa dan sangat biasa dalam kelemahan dirinya. Mencoba tegak di jalan ilahi. Wolauhulam


Salam
arif

Huruf tanpa kata Alif lam mim

Huruf tanpa kata. Siapakah yang mampu memaknainya (?).Kata adalah susunan huruf yang dirangkai menjadi bermakna. Kata tanpa huruf siapakah juga yang dapat membacanya (?). Bagaimanakah kata bisa saling mengungkapkan rahsa jikalau tiada makna. Jika manusia kehabisan kata-kata  apakah yang dapat mewakili sebagai pengungkap rahsa (?). Sungguh tidak mungkin, maka manusia tidak pernah kehabisan kata-kata. Berbilyun kata sudah di gunakan manusia setiap harinya. Bayangkan betapa semrawutnya udara di bumi ini, bersliweran kata-kata manusia yang berbicara melalui HP, belum lagi yang diungkapkan melalui SMS.  Kata menjadi energy menjalar di udara kemudian berubah menjadi kata lagi, nampak di layar  penerimaan HP kita. Apakah energy kata sudah berhenti sampai disini ?.

Tidak !. Sekali lagi tidak ?. Hukum kekekalan energy menyatakan bahwa energy tidak dapat dimusnahkan atau di ciptakan. Energy selalu akan mengalami perubahan bentuknya. Maka setelah enrgy menajdi tampilan sebuah kata di layar monitor HP, energy tersebut tidak akan berhenti begitu saja. Seandainya (bayangkan) jika   kata yang ditampilkan adalah berita buruk. Berita kematian misalnya. Kata ini akan berubah menjadi energy lagi akan memporak porandakan jiwa kita. Sebuah kata mampu menjungkir balikan logika kita semua. Bagai palu godam menghantam dada kita, bahkan tidak sedikit kemudian yang pingsan karenanya. Begitu hebatnya energy sebuah kata (?).

Namun anehnya, energy kata tidak akan bekerja jika kata yang di tampilkan tidak memiliki makna apa-apa, (jika) si penerima tidak memiliki referensi apapun atas kata tersebut. Misalnya; Huruf yang tersusun acak tak membentuk kata yang bermakna maka kata ini tak akan menimbulkan sensasi apa-apa di badan. Atau misalnya meskipun itu adalah berita kematian, namun berita tersebut juga  tidak akan menimbulkan energy (efek) apa-apa terhadap si penerima yang tidak mengenal orang yang mati tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa energy kata hanyalah sebuah ENERGY POTENSIAL saja. Seberapakah besarnya energy tersebut, maka hal ini sangat individual sekali sifatnya. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah persepsi orang tersebut.  Maka saya beranikan diri untuk mengusung pemahaman bahwasannya persepsi manusia menyimpan potensial energy yang dahsyat.  Tinggal menunggu saja momentumnya (yaitu) sesuatu  yang akan menggerakkan potensial energy ini menjadi sebuah energy gerak (kinetik energy). Jika saya coba analogy-kan besarnya energy tersebut maka saya akan dapat permasaan analogy sebagai berikut :

Epk = m.g.h
Epk = Energy potensial kata
m = massa muatan kata (makna)
g = gaya grafitasi yang disebabkan medan matery yang melingkupi dirinya sebagai akibat menuhankan selain Allah.
h = jarak persepsidan  atas realitas sejati

catatan : Persamaan ini bersifat teoritis belaka. Silahkan eksplorasi pemahaman ini di kajian-kajian sebelumnya atas istilah yang di gunakan.

Setiap  manusia memiliki energy potensial dalam dirinya sendiri atas sebuah kata, sungguh sangat menarik. Semakin jauh jarak antara persepsi dan realitas maka semakin besar energy potensial kata bagi orang tersebut. Maka orang ini akan terlihat sangat pemarah, dan mudah tersinggung. Sebab energynya mudah sekali meledak-ledak. Sebuah kata bagi seseorang bisa mampu membangkit gejolak jiwanya, namun bagi lainnya hanya sekedar menjadi guyonan saja. Setiap daerah juga memiliki karakteristik yang sama. Sebuah kata bisa menjadi sangat sensitif bagi suatu daerah namun tidak bagi daerah lainnya. Nah, bagaimana jika hal ini menyentuh wilayah agama, pasti energy kata akan menjadi sangat ramai sekali. Pada wilayah ini energy potensial kata akan semakin dahsyat pula. Maka perhatikanlah sudah jutaaan nyawa manusia melayang sia-sia akibat meledaknya energy potensial di dalam dirinya atas sebuah kata. Mengapakah dalam wilayah ini, energy potensial kata menjadi besar sekali. Sehingga jika meledak akan mampu menghancurkan dunia ?. Bukankah seharusnya sebagai umat beragama kita sudah tidak memiliki energy potensial kata seperti ini. Selayaknya kita menjadi pemaaf, kita menjadi santun,kita menjadi rahmat semesta alam. Pertanyaannya mengapakah setiap manusia menyimpan Energy Potensial kata ini, sehingga bila kata ini di ucapkan orang lain atas dirinya, energy ini seperti mendapat momentumnya ?. Heh…

Kata adalah sebuah energy

Sebaiknya huruf memang tak perlu kata, hingga hanya hati yang mampu mengurai maknanya. Sebagaimana Al qur an juga berbicara kepada kita, melalui huruf-huruf tanpa kata.

“Alif lam mim. Alif lam mim shad.
Alif lam ra. Alif lam mim ra. Kaf ha ya ‘ain shad.
Tho ha.Tha sin mim. Tha sin. Shad. Qaf. Yaa sin. Haa mim.”.

Bilakah huruf tanpa kata (?). Pertanyaan kembali diulang.  Jika huruf berjajar tanpa aturan baku, bagaimana mengungkap makna (?). Para musafir juga mengalami keraguan ketika mencoba menguraikan makna huruf-huruf  yang menjadi pembuka surah tersebut. Tidak ada konsesus yang pasti atas makna Alif lam mim. Apakah huruf memang tak perlu di maknai apa-apa (?). Rangkaian huruf tersebut beberapa kali di ulang dalam pembuka (awal) surah di dalam Al quran, bagaimanakah menjelaskan kejadian ini. Tentunya bukan suatu yang kebetulan semata.

Apakah makna huruf yang di jajarkan buat kita. Huruf  yang disusun dalam  aturan yang baku akan menjadi kata yang mampu kita maknai. Bagaimana jika huruf-huruf kita susun seenaknya saja, adakah yang bisa menangkap apa yang saya maksudkan kalau saya begitu ?.  Bilakah memang huruf tak perlu kita maknai apa-apa ?. Jikapun nanti menjadi sebuah kata, ya baik-nya  tak perlu kita maknai saja, agar kata tidak berubah menjadi energy lagi. Bisakah kita begitu ?.

Kajian ini di tuliskan dalam keberaturan susunan huruf. Huruf-huruf disusun dalam bentuk baku yang sudah menjadi konsensus manusia. Jika saya tidak mengikuti aturan yang baku, maka apa yang saya maksudkan tentunya tidak akan sampai kepada pembaca. Pembaca hanya akan menerima rangkaian susunan huruf yang sudah di pahami, yang memang sudah berada dalam file referensinya. Jika tidak maka  tidak akan dikenalinya. Sehingga  makna menjadi kosong. Pembaca tidak akan mendapatkan sensasi apapun dari huruf yang tersusun tersebut.  Energy potensial kata menjadi nol. Manusia tidak menyimpan energy atas kata tersebut. Lho…

Kata yang bermakna adalah hasil konsensus manusia. Bilakah kata menjadi bermakna tanpa konsensus terlebih dahulu ?. Bisa dan sangat bisa. Buktinya Al quran sudah menyampaikannya kepada kita. “Alif lam mim. Alif lam mim shad. Alif lam ra. Alif lam mim ra. Kaf ha ya ‘ain shad.Tho ha.Tha sin mim. Tha sin. Shad. Qaf. Yaa sin. Haa mim.”. Lha bagaimana mengartikannya ?. Pertanyaannya bukan begitu. Tapi kita mau mengartikan apa atas kata tersebut ?. Silahkan ber kontemplasi kepada hati (jiwa) masing-masing. Kata tersebut masih benar-benar murni. Susunan hurufnya di luar konsesus manusia. Tidak ada batasan buat kita manusia untuk memaknainya. Sanggupkah jiwa kita berdialog dengan penyusun kata tersebut ?. Beranikah kita berdialog kepada Tuhan (Allah) mohon dipahamkan susunan huruf yang tidak ada dalam referensi manusia tersebut (?).

Allah ingin berdialog dengan jiwa kita dengan susunan huruf yang tak biasa. Ingin menyampaikan sesuatu kepada jiwa-jiwa yang mau berkomunikasi langsung kepada-Nya. Allah ingin memberikan informasi langsung atas wilayah KUN. Wilayah kehendak Allah. Sesuatu yang sangat besar. Maka Allah memilih susunan huruf tanpa kata. Apakah susunan itu memiliki makna ?. Lha pasti memiliki makna. Jika tidak memiliki makna untuk apa di tuliskan. Ingat saat kita pramuka dahulu, kita banyak di ajarkan bahasa sandi. Bahasa yang super khusus di buat untuk kalangan yang tak biasa. Dahulu waktu ikut Pramuka, kita kenal ada sandi morse, sandi rumput, dan mungkin lain-lainnya lagi. Apakah itu tidak ada maknanya (?). Ya, hanya orang-orang yang mau belajar bahasa sandi tersebut yang pastinya mengerti.

Huruf yang tersusun adalah sebuah kode rangkaian energy potensial yang tersembunyi. Energy ini  akan menjadi daya dorong luar biasa saat jiwa akan mengekslorasi dimensi-dimensi kesadaran yang memang membutuhkan energy besar. Maka siapa-siapa yang diberikan anugrah atas hikmah ini, adalah manusia yang beruntung. Walouhualam

Salam
arif