"Sulit dipercaya bahwa 9 tahun yang lalu seri ini dimulai dengan sebuah film keluarga yang ditonton banyak anak-anak."”
Siapa pun yang sudah melahap habis tujuh buku Harry Potter pasti tahu bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows memiliki mood paling gelap dibanding enam buku sebelumnya. Sepertinya mood ini berhasil dipertahankan sutradara David Yates dalam adaptasi filmnya. Sepanjang film, nuansa gelap dan muram sangat terasa, mulai dari tone warna, dialog, hingga musik scoring. Sulit dipercaya bahwa sembilan tahun yang lalu seri film ini dimulai dengan sebuah film keluarga yang ditonton banyak anak-anak.
Tentunya film dibuat lebih "gelap" bukan tanpa alasan. Seri sebelumnya (Harry Potter and the Half-Blood Prince) diakhiri dengan kematian Albus Dombledore. Maka The Deathly Hallows dimulai dengan memperlihatkan kekacauan dunia sihir dan dunia muggle sepeninggal Dumbledore. Kementrian Sihir diambil alih Death Eater (alias Pelahap Maut), muggle dan penyihir "berdarah lumpur" ditangkap dan dibunuh, bahkan demi melindungi keluarganya, Hermione sampai harus menghapus dirinya dari ingatan kedua orang tuanya.
Kalau itu masih kurang "muram", di 30 menit pertama sudah ada satu tokoh yang tewas, dan satu lagi yang terluka parah. Bahkan pesta pernikahan Bill Weasley dengan Fleur Delacour pun tak berhasil menciptakan suasana suka cita di kediaman keluarga Weasley.
Dari situ, fokus film berpindah pada petualangan Harry, Ron, dan Hermione mencari dan menghancurkan horcrux. Horcrux adalah jimat berisi potongan jiwa Lord Voldemort -- total berjumlah tujuh buah -- yang jika semuanya berhasil dihancurkan, tamatlah riwayat Sang Pangeran Kegelapan. Tentunya mencari horcrux bukan hal yang mudah, karena tak ada satu pun dari mereka yang tahu apa bentuk horcrux-horcrux tersebut. Dan jika sudah berhasil ditemukan pun, tak ada yang tahu bagaimana cara menghancurkannya.
“"Satu lagi penanda tiga penyihir ini sudah beranjak dewasa adalah adegan ciuman yang semakin berani"”
Situasinya makin rumit karena kali ini tiga sekawan penyihir ini tak mendapat bantuan sama sekali dari pihak luar, bahkan dari keluarga mereka sendiri. Harry dkk terpaksa tinggal di tenda, berpindah-pindah tempat supaya tak mudah terlacak. Maklum saja, wajah Harry sudah tersebar di seluruh penjuru kota dalam selebaran bertuliskan 'Wanted'.
Masalah juga timbul saat Ron -- yang diam-diam jatuh cinta pada Hermione -- merasa cemburu dengan kedekatan Harry dan gadis pujaannya. Beban Ron di perjalanan ini memang tak ringan. Bukan saja merasa tersisih dari Harry dan Hermione yang sering menghabiskan waktu bersama, Ron juga tak pernah melepaskan pendengarannya dari siaran radio gerilya. Radio ini tak memutarkan musik, melainkan memberi informasi tentang siapa saja penyihir yang dinyatakan hilang, dan siapa saja yang terbunuh.
"Aku mendengarkan untuk memastikan nama Ginny, Fred and George, atau ibuku tak disebut," ujar Ron saat Harry memintanya mematikan radio.
Heart-breaking, isn't it?
Tapi jangan khawatir, di tengah segala kesedihan dan ketegangan film, kita masih akan dibuat tertawa dengan humor-humor khas Harry Potter. Pengocok perut paling utama tentu saja adalah Ron, yang dari dulu dikenal suka melontarkan pernyataan-pernyataan konyol. Belum lagi usahanya memikat hati Hermione yang bukan jadi romantis tapi malah mengundang tawa.
http://www.celebrity-mania.com/images/files/00012017.jpg
Lalu jika Anda masih membayangkan Harry dkk sebagai bocah-bocah imut siswa sekolah Hogwarts, hapuskan imej itu dari pikiran Anda. Daniel Radcliffe kini berusia 21 tahun, Rupert Grint -- pemeran Ron -- sudah pernah melakukan adegan sex di film Cherry Bomb (2009), sedangkan Emma Watson... Ah, masih perlukah saya beri tahu seperti apa rupa Emma Watson saat ini?
Satu lagi penanda tiga penyihir ini sudah beranjak dewasa adalah adegan ciuman yang semakin "berani". Bukan lagi sekadar kecupan di bibir, tapi french kiss panjang dan penuh gairah, yang menampilkan Emma Watson topless.
Jadi jelaslah sudah, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I memang bukan film anak-anak. Logikanya sih, anak-anak SD yang dulu menonton Harry Potter and the Sorcerer's Stone di tahun 2001 pun kini telah beranjak remaja.
Oh ya, kenapa ada embel-embel "Part I" pada judul film? Tidak lain karena buku terakhir dari seri Harry Potter ini memang diangkat ke dalam dua film. Mungkin terlalu banyak detail yang tak boleh terlewatkan sehingga jika semuanya dimuat ke satu film bisa-bisa durasinya jadi lima jam. Maka berakhirlah Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I pada sebuah adegan klimaks yang menampilkan Lord Voldemort. Penonton pun dibuat geregetan dan penasaran karena harus menunggu sambungan ceritanya -- Harry Potter and the Deathly Hallows: Part II -- yang baru akan dirilis Juli 2011.
Dan saat saya menyaksikan film ini di pemutaran perdananya di Jakarta, begitu film berakhir, seluruh penonton bertepuk tangan panjang.
sumber http://wahw33d.blogspot.com/2010/11/harry-potter-and-deathly-hallows-part-i.html#ixzz19wPh4F8F
Info Hiburan, Selebritis, TV Production, Jasa, Property, Business, Film, Music, ekonomi, Politik, Kajian Islam
Minggu, 02 Januari 2011
10 Film Indonesia Terbaik 2010
1. SANG PENCERAH
Meski SANG PENCERAH tidak diloloskan Komite Seleksi Festival Film Indonesia, film yang mengangkat kisah kehidupan K.H. Ahmad Dahlan ini mendapat apresiasi bagus dari penonton. Sang sutradara, Hanung Bramantyo menyebut jumlah penontonnya mencapai angka 1,3 juta lebih. Setting film ini digarap maksimal dengan mempersiapkan busana dan rekayasa latar. Pujian datang dari berbagai kalangan.
Hanung juga benar-benar serius dalam pemilihan karakter, pengarahan akting, dan atmosfer musik yang melatari. Dibintangi oleh Lukman Sardi sebagai K.H. Ahmad Dahlan, Ihsan Idol sebagai Ahmad Dahlan Muda, dan Zaskia Adya Mecca sebagai Nyai Ahmad Dahlan dan dukungan pemain lain seperti Sujiwo Tejo, Yati Surahman, Slamet Rahardjo, Giring Nidji, Ikranegara, Dennis Adishwara, dan Agus Kuncoro. Tak heran jika setiap tokoh menjadi menonjol namun tetap tidak tumpang tindih. Hadir saat libur Lebaran, 8 September 2010, film ini menjadi film paling dinanti pada tahun 2010
2. 3 HATI 2 Dunia 1 Cinta
Film produksi pertama PH Mizan ini digarap dengan detail. Naskah yang diangkat dari dua novel karangan Ben Sohib yang berjudul Da Peci Code dan Balada Rosid dan Delia. Merangkai realitas percintaan anak manusia yang terhalang perbedaan agama.
Di Indonesia, kejadian tersebut sudah sering terjadi. Mengangkat tema realitas di masyarakat, film yang dirilis pada 1 Juli 2010 dengan disutradarai oleh Benni Setiawan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Apalagi film yang dibintangi antara lain oleh Reza Rahadian, Laura Basuki, dan Arumi Bachsin yang tayang pada masa libur sekolah
3. ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)
Selain skenario yang bagus, pemilihan pemain juga menjadi penentu bagus tidaknya sebuah film. Gabungan skenario dan pemain-pemain watak yang handal inilah yang membuat film ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) menjadi film drama komedi satire Indonesia yang cantik. Beberapa nama seperti Reza Rahadian, Slamet Rahardjo, Deddy Mizwar, Tio Pakusadewo, dan Rina Hasyim terkenal sebagai pemain watak yang mampu membawa peran dengan baik.
Dirilis pada 15 April 2010 yang disutradarai oleh Deddy Mizwar, film ini memuat pesan kritik sosial. Film ini mencoba mengangkat potret nyata yang ada dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dalam nominasi Festival Film Indonesia 2010, ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) bersanding dengan nominasi lainnya
4. RUMAH DARA
Dikepung oleh film horor nan seksi, dunia perfilman Indonesia laksana menggali kuburan bagi jumlah penonton. Sepanjang tahun 2010, banyak insan film mengakui penurunan jumlah penonton di bioskop salah satunya dikarenakan film horor dan seksi yang mendominasi. Kehadiran film RUMAH DARA menjadi pendobrak bagi pemikiran tersebut.
Film horor murni bisa tampil bagus tanpa harus mengandalkan bagian tubuh wanita seksi. RUMAH DARA disutradarai oleh Mo Brothers dan dibintangi oleh Shareefa Daanish dan Julie Estelle sebagai tokoh utama. Film RUMAH DARA berkisah mengenai sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di rumah milik seorang pembunuh misterius yang bernama 'Dara'. Ketakutan dan mencekam terasa sekali saat menonton film ini. Kualitas gambar patut diacungi jempol, apalagi untuk mendapatkan darah, sang sutradara tidak menggunakan efek melainkan darah dari binatang. Sebelum diputar di Indonesia, film ini telah dibawa keliling dunia untuk beberapa festival.
Dalam Independent Film Awards, film ini menerima delapan nominasi. Memenangkan dua, Best Actress untuk Shareefa Daanish dan Best Supporting Actress untuk Julie Estelle. Setelah itu RUMAH DARA lalu dirilis secara serempak di seluruh Indonesia pada tanggal 21 Januari 2010, prestasi lain dikantongi dengan terjualnya distribusi film ini ke Amerika Utara dan Eropa oleh Overlook Entertainment
5. HARI UNTUK AMANDA
Mencoba merambah layar lebar, group MNC Pictures menghadirkan HARI UNTUK AMANDA. Dirilis pada 7 Januari 2010 dengan disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, film drama ini sebenarnya memiliki cerita yang sederhana. Kisah tentang kebimbangan hati dalam menentukan jodoh, menjadi sentral cerita. Konflik dalam film ini pun tidak rumit. Namun, meskipun sederhana pesan yang disampaikan dalam film ini benar-benar mengena.
Film ini dibintangi oleh Oka Antara, Fanny Fabriana, Reza Rahadian, Kinaryosih, Gary Iskak, Rina Hasyim, Noveleta Dinar, dan Hengky Solaiman. Dipilihnya pemeran utama pria terfavorit IMA: Oka Antara dalam HARI UNTUK AMANDA semakin menegaskan nilai plus film ini
6. TANAH AIR BETA
Kolaborasi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen dalam Alenia Pictures nyaris bisa ditebak, selalu mengangkat tema humanis yang melibatkan anak-anak dan keindahan landscape Indonesia. Dirilis pada 17 Juni 2010 dan disutradarai Ari Sihasale film ini dibintangi antara lain oleh Alexandra Gottardo, Lukman Sardi, Asrul Dahlan, dan lain-lain. Tema utama film ini adalah perpisahan Timor Timur dari Indonesia, yang membuat banyak keluarga yang mendapatkan konflik internal antara tetap berada di Indonesia, yakni di Kupang, atau memutuskan berpindah ke Timor Timur.
Mengambil setting asli di Kupang, seolah penonton diajak 'melongok' perbatasan yang selama ini jarang terekspos. Bagaimana perjuangan seorang anak menemukan keluarganya yang enggan meninggalkan Timor Timur. Kondisi pengungsian yang kurang layak, tak membuat kecintaan pengungsi pada Indonesia. Karena itulah judul TANAH AIR BETA sungguh sangat tepat, rasa nasionalisme yang memudar bangkit oleh film ini
7. MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK
MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK dirilis pada 10 Juni 2010. Butuh waktu hingga dua tahun untuk menyelesaikan produksi film ini. Disutradarai oleh Lola Amaria yang dibintangi antara lain oleh Lola Amaria dan Titi Sjuman, setting film ini lebih banyak di Hongkong. Mengangkat tema tentang suka duka TKW di Hongkong, MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK masuk sebagai salah satu nominasi film terbaik Festifal Film Indonesia 2010.
Meskipun kurang berhasil secara jumlah, namun setiap penonton yang menikmati film ini pasti merasa puas karena banyak hal baru yang mereka dapatkan dalam film ini. Tangan dingin Yadi Sugandi, sebagai sinematrografi, memaksimalkan gambar asli suasana Hongkong namun tetap indah dipandang. Cerita tentang cinta, membuat film yang sebenarnya membawa banyak pesan ini terasa ringan
8. DARAH GARUDA
DARAH GARUDA atau MERAH PUTIH II (Internasional: Blood of Eagles) adalah film drama fiksi historis Indonesia yang dirilis tahun 2010 dan bagian kedua dari rangkaian film 'Trilogi Merdeka' yang merupakan trilogi film perjuangan pertama di Indonesia. Film ini disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Conor Allyn. Film ini dibintangi antara lain oleh Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Aryo Bayu, Teuku Rifnu Wikana, Rahayu Saraswati, Rudy Wowor, Astri Nurdin, Alex Komang, dan Aldy Zulfikar.
Mengantongi penghargaan Bali International Film Festival, Los Angeles Asian Pacific Film Festival, Amsterdam Cinemasia Film Festival, Bandung Film Festival, dan Bangkok World Film Festival, Darah Garuda justru didiskualifikasi oleh Festival Film Indonesia. Meskipun ada beberapa cerita yang kurang logis, namun film ini mampu membuat penonton berdebar dengan efek-efek bagus ala film Hollywood. Kualitas suara film yang membutuhkan modal Rp 10 milliar ini patut diacungi jempol
9. METAMORFORBLUS
Inilah film yang layak menyandang film dokumenter terbaik tahun 2010. Digarap selama dua tahun oleh Dosy Umar, film ini menitikberatkan pada aktivitas para Slanker, sebutan bagi para fans Slank, di Indonesia. Film berdurasi 98 menit itu menceritakan 3 orang Slanker dari 3 daerah yang berbeda. Karena tanpa rekayasa, film ini sangat mudah membuat penonton tersentuh. Kasih lintas generasi dan bangsa membuat Slank begitu manusiawi. Meskipun dengan gambar yang sederhana, kepolosan cerita menggugah penonton. Bagaimana Slanker memandang Slank. Bagaimana personil Slank memandang kehadiran Slanker. Lagu-lagu Slank menjadi kuat dan sarat makna dengan latar belakang cerita yang mendasari film ini.
Kritik pedas lewat seorang polisi yang juga Slanker, menjadikan film ini tidak ada ruang kosong dari awal. Bagaimana Lagu-lagu Slank mempengaruhi hidupnya, dedikasi dalam bertugas. Kisah lain adalah kisah bidadari penyelamat dari Jogja.
Hampir hancur hidup seorang Slanker karena narkoba, surat tulisan tangan dari Bimbim Slank dan Bunda Iffet menyelamatkan hidupnya. Ayahnya, berusaha berterimakasih dengan menerobos jalan masuk konser untuk menemui Bimbim dan Bunda. Kisah terakhir adalah rombongan Slanker dari Kupang dalam mengurus passport untuk menyebrang ke Timor Leste tempat konser Slank. Meskipun sudah memisahkan diri, sambutan Slanker Timor Leste membuat pemisahan bangsa tak berarti
10. I KNOW WHAT YOU DID ON FACEBOOK
I KNOW WHAT YOU DID ON FACEBOOK adalah film drama komedi yang disutradarai dan ditulis oleh Awi Suryadi, sutradara Claudia/Jasmine. Film yang dirilis tanggal 15 Juli 2010 ini menceritakan tentang kisah percintaan yang terjalin lewat situs jejaring sosial Facebook dan imbasnya yang terjadi di dunia nyata. Film ini dibintangi oleh Fanny Fabriana, Edo Borne, Imelda Therinne, Restu Sinaga, Agastia Kandau, dan memperkenalkan Kimi Jayanti sebagai salah satu pemain utama.
Tahun 2010 lebih banyak didominasi film horor seksi dan drama. Jadi, ketika film komedi muncul mampu memberi nilai tambah. Tema yang diangkat sangat populer di masyarakat, sehingga menarik perhatian. Ditambah banyaknya kasus penipuan gara-gara Facebook. Kejelian penulis skenario memilih tema ini patut dipuji. Mempersempit ruang cerita dengan mengerucutkan bagaimana Facebook mempengaruhi hubungan percintaan dan lelucon sepanjang film ini menjadikan film ini menarik dan tidak membosankan.
source: http://infotemplatez.blogspot.com/2010/12/10-film-indonesia-terbaik-2010.html
sumber http://wahw33d.blogspot.com/2010/12/10-film-indonesia-terbaik-2010.html#ixzz19wPCgMu0
Meski SANG PENCERAH tidak diloloskan Komite Seleksi Festival Film Indonesia, film yang mengangkat kisah kehidupan K.H. Ahmad Dahlan ini mendapat apresiasi bagus dari penonton. Sang sutradara, Hanung Bramantyo menyebut jumlah penontonnya mencapai angka 1,3 juta lebih. Setting film ini digarap maksimal dengan mempersiapkan busana dan rekayasa latar. Pujian datang dari berbagai kalangan.
Hanung juga benar-benar serius dalam pemilihan karakter, pengarahan akting, dan atmosfer musik yang melatari. Dibintangi oleh Lukman Sardi sebagai K.H. Ahmad Dahlan, Ihsan Idol sebagai Ahmad Dahlan Muda, dan Zaskia Adya Mecca sebagai Nyai Ahmad Dahlan dan dukungan pemain lain seperti Sujiwo Tejo, Yati Surahman, Slamet Rahardjo, Giring Nidji, Ikranegara, Dennis Adishwara, dan Agus Kuncoro. Tak heran jika setiap tokoh menjadi menonjol namun tetap tidak tumpang tindih. Hadir saat libur Lebaran, 8 September 2010, film ini menjadi film paling dinanti pada tahun 2010
2. 3 HATI 2 Dunia 1 Cinta
Film produksi pertama PH Mizan ini digarap dengan detail. Naskah yang diangkat dari dua novel karangan Ben Sohib yang berjudul Da Peci Code dan Balada Rosid dan Delia. Merangkai realitas percintaan anak manusia yang terhalang perbedaan agama.
Di Indonesia, kejadian tersebut sudah sering terjadi. Mengangkat tema realitas di masyarakat, film yang dirilis pada 1 Juli 2010 dengan disutradarai oleh Benni Setiawan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Apalagi film yang dibintangi antara lain oleh Reza Rahadian, Laura Basuki, dan Arumi Bachsin yang tayang pada masa libur sekolah
3. ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)
Selain skenario yang bagus, pemilihan pemain juga menjadi penentu bagus tidaknya sebuah film. Gabungan skenario dan pemain-pemain watak yang handal inilah yang membuat film ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) menjadi film drama komedi satire Indonesia yang cantik. Beberapa nama seperti Reza Rahadian, Slamet Rahardjo, Deddy Mizwar, Tio Pakusadewo, dan Rina Hasyim terkenal sebagai pemain watak yang mampu membawa peran dengan baik.
Dirilis pada 15 April 2010 yang disutradarai oleh Deddy Mizwar, film ini memuat pesan kritik sosial. Film ini mencoba mengangkat potret nyata yang ada dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dalam nominasi Festival Film Indonesia 2010, ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) bersanding dengan nominasi lainnya
4. RUMAH DARA
Dikepung oleh film horor nan seksi, dunia perfilman Indonesia laksana menggali kuburan bagi jumlah penonton. Sepanjang tahun 2010, banyak insan film mengakui penurunan jumlah penonton di bioskop salah satunya dikarenakan film horor dan seksi yang mendominasi. Kehadiran film RUMAH DARA menjadi pendobrak bagi pemikiran tersebut.
Film horor murni bisa tampil bagus tanpa harus mengandalkan bagian tubuh wanita seksi. RUMAH DARA disutradarai oleh Mo Brothers dan dibintangi oleh Shareefa Daanish dan Julie Estelle sebagai tokoh utama. Film RUMAH DARA berkisah mengenai sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di rumah milik seorang pembunuh misterius yang bernama 'Dara'. Ketakutan dan mencekam terasa sekali saat menonton film ini. Kualitas gambar patut diacungi jempol, apalagi untuk mendapatkan darah, sang sutradara tidak menggunakan efek melainkan darah dari binatang. Sebelum diputar di Indonesia, film ini telah dibawa keliling dunia untuk beberapa festival.
Dalam Independent Film Awards, film ini menerima delapan nominasi. Memenangkan dua, Best Actress untuk Shareefa Daanish dan Best Supporting Actress untuk Julie Estelle. Setelah itu RUMAH DARA lalu dirilis secara serempak di seluruh Indonesia pada tanggal 21 Januari 2010, prestasi lain dikantongi dengan terjualnya distribusi film ini ke Amerika Utara dan Eropa oleh Overlook Entertainment
5. HARI UNTUK AMANDA
Mencoba merambah layar lebar, group MNC Pictures menghadirkan HARI UNTUK AMANDA. Dirilis pada 7 Januari 2010 dengan disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, film drama ini sebenarnya memiliki cerita yang sederhana. Kisah tentang kebimbangan hati dalam menentukan jodoh, menjadi sentral cerita. Konflik dalam film ini pun tidak rumit. Namun, meskipun sederhana pesan yang disampaikan dalam film ini benar-benar mengena.
Film ini dibintangi oleh Oka Antara, Fanny Fabriana, Reza Rahadian, Kinaryosih, Gary Iskak, Rina Hasyim, Noveleta Dinar, dan Hengky Solaiman. Dipilihnya pemeran utama pria terfavorit IMA: Oka Antara dalam HARI UNTUK AMANDA semakin menegaskan nilai plus film ini
6. TANAH AIR BETA
Kolaborasi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen dalam Alenia Pictures nyaris bisa ditebak, selalu mengangkat tema humanis yang melibatkan anak-anak dan keindahan landscape Indonesia. Dirilis pada 17 Juni 2010 dan disutradarai Ari Sihasale film ini dibintangi antara lain oleh Alexandra Gottardo, Lukman Sardi, Asrul Dahlan, dan lain-lain. Tema utama film ini adalah perpisahan Timor Timur dari Indonesia, yang membuat banyak keluarga yang mendapatkan konflik internal antara tetap berada di Indonesia, yakni di Kupang, atau memutuskan berpindah ke Timor Timur.
Mengambil setting asli di Kupang, seolah penonton diajak 'melongok' perbatasan yang selama ini jarang terekspos. Bagaimana perjuangan seorang anak menemukan keluarganya yang enggan meninggalkan Timor Timur. Kondisi pengungsian yang kurang layak, tak membuat kecintaan pengungsi pada Indonesia. Karena itulah judul TANAH AIR BETA sungguh sangat tepat, rasa nasionalisme yang memudar bangkit oleh film ini
7. MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK
MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK dirilis pada 10 Juni 2010. Butuh waktu hingga dua tahun untuk menyelesaikan produksi film ini. Disutradarai oleh Lola Amaria yang dibintangi antara lain oleh Lola Amaria dan Titi Sjuman, setting film ini lebih banyak di Hongkong. Mengangkat tema tentang suka duka TKW di Hongkong, MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK masuk sebagai salah satu nominasi film terbaik Festifal Film Indonesia 2010.
Meskipun kurang berhasil secara jumlah, namun setiap penonton yang menikmati film ini pasti merasa puas karena banyak hal baru yang mereka dapatkan dalam film ini. Tangan dingin Yadi Sugandi, sebagai sinematrografi, memaksimalkan gambar asli suasana Hongkong namun tetap indah dipandang. Cerita tentang cinta, membuat film yang sebenarnya membawa banyak pesan ini terasa ringan
8. DARAH GARUDA
DARAH GARUDA atau MERAH PUTIH II (Internasional: Blood of Eagles) adalah film drama fiksi historis Indonesia yang dirilis tahun 2010 dan bagian kedua dari rangkaian film 'Trilogi Merdeka' yang merupakan trilogi film perjuangan pertama di Indonesia. Film ini disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Conor Allyn. Film ini dibintangi antara lain oleh Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Aryo Bayu, Teuku Rifnu Wikana, Rahayu Saraswati, Rudy Wowor, Astri Nurdin, Alex Komang, dan Aldy Zulfikar.
Mengantongi penghargaan Bali International Film Festival, Los Angeles Asian Pacific Film Festival, Amsterdam Cinemasia Film Festival, Bandung Film Festival, dan Bangkok World Film Festival, Darah Garuda justru didiskualifikasi oleh Festival Film Indonesia. Meskipun ada beberapa cerita yang kurang logis, namun film ini mampu membuat penonton berdebar dengan efek-efek bagus ala film Hollywood. Kualitas suara film yang membutuhkan modal Rp 10 milliar ini patut diacungi jempol
9. METAMORFORBLUS
Inilah film yang layak menyandang film dokumenter terbaik tahun 2010. Digarap selama dua tahun oleh Dosy Umar, film ini menitikberatkan pada aktivitas para Slanker, sebutan bagi para fans Slank, di Indonesia. Film berdurasi 98 menit itu menceritakan 3 orang Slanker dari 3 daerah yang berbeda. Karena tanpa rekayasa, film ini sangat mudah membuat penonton tersentuh. Kasih lintas generasi dan bangsa membuat Slank begitu manusiawi. Meskipun dengan gambar yang sederhana, kepolosan cerita menggugah penonton. Bagaimana Slanker memandang Slank. Bagaimana personil Slank memandang kehadiran Slanker. Lagu-lagu Slank menjadi kuat dan sarat makna dengan latar belakang cerita yang mendasari film ini.
Kritik pedas lewat seorang polisi yang juga Slanker, menjadikan film ini tidak ada ruang kosong dari awal. Bagaimana Lagu-lagu Slank mempengaruhi hidupnya, dedikasi dalam bertugas. Kisah lain adalah kisah bidadari penyelamat dari Jogja.
Hampir hancur hidup seorang Slanker karena narkoba, surat tulisan tangan dari Bimbim Slank dan Bunda Iffet menyelamatkan hidupnya. Ayahnya, berusaha berterimakasih dengan menerobos jalan masuk konser untuk menemui Bimbim dan Bunda. Kisah terakhir adalah rombongan Slanker dari Kupang dalam mengurus passport untuk menyebrang ke Timor Leste tempat konser Slank. Meskipun sudah memisahkan diri, sambutan Slanker Timor Leste membuat pemisahan bangsa tak berarti
10. I KNOW WHAT YOU DID ON FACEBOOK
I KNOW WHAT YOU DID ON FACEBOOK adalah film drama komedi yang disutradarai dan ditulis oleh Awi Suryadi, sutradara Claudia/Jasmine. Film yang dirilis tanggal 15 Juli 2010 ini menceritakan tentang kisah percintaan yang terjalin lewat situs jejaring sosial Facebook dan imbasnya yang terjadi di dunia nyata. Film ini dibintangi oleh Fanny Fabriana, Edo Borne, Imelda Therinne, Restu Sinaga, Agastia Kandau, dan memperkenalkan Kimi Jayanti sebagai salah satu pemain utama.
Tahun 2010 lebih banyak didominasi film horor seksi dan drama. Jadi, ketika film komedi muncul mampu memberi nilai tambah. Tema yang diangkat sangat populer di masyarakat, sehingga menarik perhatian. Ditambah banyaknya kasus penipuan gara-gara Facebook. Kejelian penulis skenario memilih tema ini patut dipuji. Mempersempit ruang cerita dengan mengerucutkan bagaimana Facebook mempengaruhi hubungan percintaan dan lelucon sepanjang film ini menjadikan film ini menarik dan tidak membosankan.
source: http://infotemplatez.blogspot.com/2010/12/10-film-indonesia-terbaik-2010.html
sumber http://wahw33d.blogspot.com/2010/12/10-film-indonesia-terbaik-2010.html#ixzz19wPCgMu0
Wajah TV Indonesia 2011
Biasanya, di hari-hari akhir dipenghujung tahun, ada semangat untuk mengkaji
"flash back" acara2x televisi tahun itu ditambah dengan prediksi acara televisi
yang bakal mendominasi mata pemirsa ditahun berikutnya. Tapi entah kenapa,
dipenghujung 2010 ini, rasanya otak tua ini tidak mau lagi diajak berpikir,
ber-analisa, ber-cengkerama dengan angka2x Rating Nielsen Televisi. Apalagi
mencari jawaban: "kira2x acara televisi apa yang bakal sukses di 2011?", kok
tidak mampu ya. Menebak saja tidak berani. Ada apa ini?
Tepat pas 12 malam 2010, tepat pas "drop ball" di kota New York menyentuh
lantai, tiba2x mata ini lagi2x sontak, "ada apa dengan televisi Indonesia?".
ANTV tampil dengan regular program, Trans TV dan RCTI memutar film
Hollywood,
Trans 7 ada ramalan ala Dedy dan Ki Joko, MNC dan Global TV hampir seragam.
Hanya SCTV, Metro TV dan TV One yang masih mempunyai semangat memberikan acara
dan liputan tahun baru dengan meriah. Dan sontak pula, tangan ini memencet
remote control: MTV ada special show dgn setting clubbing, sementara CNN, ABC
dan NBC heboh "live show" dari New York dan kota2x dunia lain. FOX TV,
melenggang sendirian, "live show" dari Las Vegas. Walau kali ini hanya duduk
berpesta keluarga depan televisi, nafas dan dentuman tahun baru merasuk lewat
speaker layar televisi. Satu jam kemudian, mata iseng ini kembali melirik
acara2x televisi Indonesia, mmmm... kurang menarik. Hanya Metro TV saja yang
berhasil mencuri perhatian, memutar film "Help" The Beatles. Lalu, kalau begini,
"kira2x format acara televisi apa yang bakal sukses di 2011?"...
Kalau kita menengok sebentar ke 2010, tanpa berhitung pada akurasi
peringkat
Rating Nielsen, format acara televisi kita kembali menampilkan format "Serupa
Tapi Tak Sama". Dari sisi inovasi format dan kreatifitas desain produksi, Trans
TV dan Trans 7 cukup berhasil mempertahankan posisi sebagai trend-setter
televisi Indonesia yang dulu dimiliki oleh Indosiar. Lepas dari menurunnya
Extravaganza, dua stasiun bersaudara ini justru tampil dengan Reality, Game dan
Variety Show yang semakin mendominasi penampilan. Bahkan dua program "Jika Aku
Menjadi" dan "Opera Van Java" bisa disebut sebagai "out of the box" format
televisi 2010. Walau, muncul kekhawatiran, bila dikocok terus setiap hari maka
penonton bisa bosan dan pergi tanpa kesan. Tapi disinilah tantangan mereka, toh
kreatifitas itu harus dibangun dari kejemuan dan pelanggaran batas. Satu catatan
lagi, ditengah arus Soap Opera yang menjadi bintang di tv2x lain, Trans TV
justru tampil dengan Bioskop Trans TV yang memutar film2x papan
atas Hollywood.
Teknik programming "stealing the remote" berhasil diterapkan dan merobek tatanan
monoestik sinetronisme Indonesia.
Tapi Trans Grup harus terus berjibaku dengan pesaing utama, RCTI. Goyangan
Dahsyat Olga dan Rafi dipagi hari, walau terasa agak kedodoran tetapi masih
tetap mendominasi ibu2x dan mahasiswi bangun pagi. Di sore hari, Kabar-Kabari
dan Cek-Ricek punya penonton tetap dan setia pada ke-Gosipan Artis. Dan yang
menarik, ditengah perjalanan tahun 2010, tiba2x RCTI sempat terasa hambar, tidak
ada tenaga bahkan cenderung "loss of translation". Sinetron kurang menggigigit,
Indonesia Idol menjadi rutin show biasa dan kurang program komedi.Mungkin ini
adalah dampak dari berpindahnya para Punggawa dan Sosok RCTI ke Kerajaan lain.
Tapi, tiga bulan sebelum layar 2010 ditutup, tiba2x RCTI kembali menggebrak dan
menjadi juara peringkat Rating Nielsen. Awalnya adalah stripping "Si Doel Anak
Sekolahan"
dipagi hari! Kekuatan betawi saba kota dan adu mulut Mandra versus
(alm) Basuki berhasil merobek rutinitas tontonan televisi pagi hari. Lalu muncul
"Mama Udah Bobo" dan terakhir Semi Final dan Final Sepak Bola Piala AFF Suzuki
Cup 2010. RCTIpun kembali menjadi Oke di bulan Desember 2010. Thanks to Gonzales
dan Irfan...
Tapi gemerlap RCTI tidak diikuti oleh dua sanak keluarganya yaitu MNC dan Global
TV. Sebagai pengganti raja dangdut TPI, MNC masih terus mencari bentuk terbaik
untuk menunjukkan "positioning"nya. Belting program anak2x dari Disney Club
hingga Upin-Ipin memang strategi jitu untuk meraup perhatian produk2x anak2x
tetapi disisi lain, program2x ini justru harus bersaing dengan saudara sendiri
Global TV. Upin-Ipin berhadapan dengan Penguins of Madagaskar, sementara Tom and
Jerry bersaing dengan Sponge Bob. Agak heran juga, bagaimana strategi keluarga
bila justru bersaing sesama mereka? Atau bisa jadi ini
adalah strategi mengepung
target penonton anak2x untuk penjualan paket marketing bersama. Walau secara
tema, Global TV lebih punya posisi yang selalu setia, meraup anak2x muda lewat
MTV dan serial Glee. Global berhasil bersaing dengan lawan utama mereka yaitu
ANTV yang belakangan justru masuk ke pasar keluarga dan melebarkan pasar anak
muda ke profesional. ANTV, justru menarik, tampil dengan warna-warni baru, live
Show, game show dan program andalan Penghuni Terakhir. ANTV bisa dibilang stabil
dan bisa bertahan diposisi rating ke 6 atau 7. Pesaing ANTV bukan Global atau
MNC, tapi Trans 7. Dan inilah yang memacu ANTV untuk terus berkreatifitas karena
Trans 7 mampu mempersembahkan karya2x yang lagi2x "out of the box". Kekuatan
ANTV masih pada tayangan Liga Sepakbola lokal, Seleb Ngamen dan program klasik,
Lensor atau Lensa Olah Raga.
Bagaimana dengan SCTV? Stasiun televisi yang gemar memberikan Award
pada
acara2xnya sendiri ini (SCTV AWARD), tahun 2010 adalah tahun SCTV dilanda Cinta.
Dan Cinta memang ada dimana-mana, lihat saja, ada "Cinta Fitri", ada "Cinta
Kita", "Cinta Gang", "Cinta Milik Siapa" dan yang paling heboh "Atas Nama
Cinta". Lewat nada-nada Cinta inilah SCTV masih terus merajai Soap Opera
Indonesia. Kalaupun berjudul lain seperti "Juragan Jengkol", "Islam KTP" atau
"Janji Juki", tetap saja ada Cinta didalam hati. Tema Cinta ini pula yang
dipakai SCTV untuk mengangkat "Uya memang Kuya" dan "Cinta Juga Kuya". Dengan
modal sulap dan teknik Ilusi, Uya berhasil memberikan pilihan bagi penonton yang
bosan dengan politik dan gosip artis. Sementara, Liputan 6 masih tetap solid dan
diminati, walau sudah ada Metro TV dan TV One. Ini menarik, artinya,
kredibilitas Liputan 6 sangat kuat dan hanya bisa disaingi oleh program berita
klasik di RCTI, Seputar Indonesia.
TV One VS Metro TV? belum ada
pemenangnya. TV One memang terus menghadirkan
program2x ter-aktual dengan berita2x Gress lewat Apa Kabar Indonesia yang mampu
menghadirkan narasumber2x dari topik2x yang sedang hangat. TV One juga mempunyai
koresponden yang kuat dilapangan, yang siap menyajikan berita secara faktual dan
aktual. Tapi, Metro TV justru menghadirkan gaya berita yang berbeda. Hadirnya
"8Eleven", program majalah berita yang disajikan dengan santai dan mempunyai
rubrikasi rutin justru menjadi alternatif bagi penonton yang bosan dengan
aktualisasi, gosip dan program anak2x. Metro juga banyak mengandalkan Talk-Show
modern lewat Oprah Winfrey Show, Just Alvin dan Kick Andy. Metro menjadi lebih
personal, sementara TV One menjadi lebih "hard news" tv.
Dan di tahun 2010, televisi yang kehilangan daya cengkram kreatifitas adalah
Indosiar. Walau masih berada diantara lima peringkat utama televisi, Indosiar
terlihat goyah dan ter-antuk-antuk.
Hampir semua format televisi yang digelar,
cenderung menjadi "serupa tapi tak sama" dengan stasiun tv lain. Dilayar
sinetron, Indosiar seperti kehilangan arah, apalagi sempat menampilkan sinetron
Superboy yang jauh diluar logika manusia. Tapi, Indosiar ini pemain senior,
gebrakan pertama yang dilakukan di tahun 2011? Cinta Fitri sesi 7 ada di
Indosiar. Sementara kuis 1 lawan 100 yang sukses di Amerika, pasti akan
menaikkan kembali pamor Indosiar.
Wah... tidak terasam panjang juga menulis diatas, tapi itu semua adalah
Flashback di 2010. Saat otak tua ini kembali berpikir analisa televisi di 2011?
tiba2x "blank"! Bablas! Kenapa begitu sulit? ternyata jawabannya cuma satu.
Tahun 2011 ini kelihatannya acara2x televisi masih saja "serupa tapi tak sama".
Apalagi, para bintang, host, musisi, artis, selebriti yang tampil ya itu2x saja.
Sulit untuk mencari diferensiasi dalam "Brand", karena pembawa dan pengisi acara
ya
dari itu ke itu saja. Dan ini yang membedakan ratusan channel televisi di
Amerika, walau format "serupa tapi tak sama", namun Brand acara dibangun lewat
personality dari bintang pembawa acaranya. Itulah mengapa nama2x seperti Oprah
Winfrey, David Letterman, Jay Leno, Larry King, Barbara Walters, Howie Mandel
dan Ryan Seacrest tetap menjadi idola sepanjang masa (bukan musiman). Itulah
mengapa Bob Baker bisa menjadi Host acara "The Price is Right" selama lebih dari
30 tahun, karena Bob hanya menjadi Host diacara ini. Bila ada acara lain, Bob
hanya menjadi bintang tamu atau special Host. Inilah yang dilakukan oleh Dirk
Clark yang selalu menjadi host di acara New Year Eve special. Belakangan Dirk
kenal Stroke dan posisinya digantikan oleh Ryan Seacrest. Ryan sendiri hanya
menjadi host di American Idol dan E Entertainment....
Jadi 2011? Wajah acara televisi kita masih getuk tular. Masih "serupa tapi tak
sama". Hanya
saja ada televisi yang serupa tapi berwajah rupawan dan cantik,
yang lain serupa tapi berwajah lucu dan menyeramkan... ah tinggal pilih saja,
wajah mana yang suka...
dari bung naratama
"flash back" acara2x televisi tahun itu ditambah dengan prediksi acara televisi
yang bakal mendominasi mata pemirsa ditahun berikutnya. Tapi entah kenapa,
dipenghujung 2010 ini, rasanya otak tua ini tidak mau lagi diajak berpikir,
ber-analisa, ber-cengkerama dengan angka2x Rating Nielsen Televisi. Apalagi
mencari jawaban: "kira2x acara televisi apa yang bakal sukses di 2011?", kok
tidak mampu ya. Menebak saja tidak berani. Ada apa ini?
Tepat pas 12 malam 2010, tepat pas "drop ball" di kota New York menyentuh
lantai, tiba2x mata ini lagi2x sontak, "ada apa dengan televisi Indonesia?".
ANTV tampil dengan regular program, Trans TV dan RCTI memutar film
Hollywood,
Trans 7 ada ramalan ala Dedy dan Ki Joko, MNC dan Global TV hampir seragam.
Hanya SCTV, Metro TV dan TV One yang masih mempunyai semangat memberikan acara
dan liputan tahun baru dengan meriah. Dan sontak pula, tangan ini memencet
remote control: MTV ada special show dgn setting clubbing, sementara CNN, ABC
dan NBC heboh "live show" dari New York dan kota2x dunia lain. FOX TV,
melenggang sendirian, "live show" dari Las Vegas. Walau kali ini hanya duduk
berpesta keluarga depan televisi, nafas dan dentuman tahun baru merasuk lewat
speaker layar televisi. Satu jam kemudian, mata iseng ini kembali melirik
acara2x televisi Indonesia, mmmm... kurang menarik. Hanya Metro TV saja yang
berhasil mencuri perhatian, memutar film "Help" The Beatles. Lalu, kalau begini,
"kira2x format acara televisi apa yang bakal sukses di 2011?"...
Kalau kita menengok sebentar ke 2010, tanpa berhitung pada akurasi
peringkat
Rating Nielsen, format acara televisi kita kembali menampilkan format "Serupa
Tapi Tak Sama". Dari sisi inovasi format dan kreatifitas desain produksi, Trans
TV dan Trans 7 cukup berhasil mempertahankan posisi sebagai trend-setter
televisi Indonesia yang dulu dimiliki oleh Indosiar. Lepas dari menurunnya
Extravaganza, dua stasiun bersaudara ini justru tampil dengan Reality, Game dan
Variety Show yang semakin mendominasi penampilan. Bahkan dua program "Jika Aku
Menjadi" dan "Opera Van Java" bisa disebut sebagai "out of the box" format
televisi 2010. Walau, muncul kekhawatiran, bila dikocok terus setiap hari maka
penonton bisa bosan dan pergi tanpa kesan. Tapi disinilah tantangan mereka, toh
kreatifitas itu harus dibangun dari kejemuan dan pelanggaran batas. Satu catatan
lagi, ditengah arus Soap Opera yang menjadi bintang di tv2x lain, Trans TV
justru tampil dengan Bioskop Trans TV yang memutar film2x papan
atas Hollywood.
Teknik programming "stealing the remote" berhasil diterapkan dan merobek tatanan
monoestik sinetronisme Indonesia.
Tapi Trans Grup harus terus berjibaku dengan pesaing utama, RCTI. Goyangan
Dahsyat Olga dan Rafi dipagi hari, walau terasa agak kedodoran tetapi masih
tetap mendominasi ibu2x dan mahasiswi bangun pagi. Di sore hari, Kabar-Kabari
dan Cek-Ricek punya penonton tetap dan setia pada ke-Gosipan Artis. Dan yang
menarik, ditengah perjalanan tahun 2010, tiba2x RCTI sempat terasa hambar, tidak
ada tenaga bahkan cenderung "loss of translation". Sinetron kurang menggigigit,
Indonesia Idol menjadi rutin show biasa dan kurang program komedi.Mungkin ini
adalah dampak dari berpindahnya para Punggawa dan Sosok RCTI ke Kerajaan lain.
Tapi, tiga bulan sebelum layar 2010 ditutup, tiba2x RCTI kembali menggebrak dan
menjadi juara peringkat Rating Nielsen. Awalnya adalah stripping "Si Doel Anak
Sekolahan"
dipagi hari! Kekuatan betawi saba kota dan adu mulut Mandra versus
(alm) Basuki berhasil merobek rutinitas tontonan televisi pagi hari. Lalu muncul
"Mama Udah Bobo" dan terakhir Semi Final dan Final Sepak Bola Piala AFF Suzuki
Cup 2010. RCTIpun kembali menjadi Oke di bulan Desember 2010. Thanks to Gonzales
dan Irfan...
Tapi gemerlap RCTI tidak diikuti oleh dua sanak keluarganya yaitu MNC dan Global
TV. Sebagai pengganti raja dangdut TPI, MNC masih terus mencari bentuk terbaik
untuk menunjukkan "positioning"nya. Belting program anak2x dari Disney Club
hingga Upin-Ipin memang strategi jitu untuk meraup perhatian produk2x anak2x
tetapi disisi lain, program2x ini justru harus bersaing dengan saudara sendiri
Global TV. Upin-Ipin berhadapan dengan Penguins of Madagaskar, sementara Tom and
Jerry bersaing dengan Sponge Bob. Agak heran juga, bagaimana strategi keluarga
bila justru bersaing sesama mereka? Atau bisa jadi ini
adalah strategi mengepung
target penonton anak2x untuk penjualan paket marketing bersama. Walau secara
tema, Global TV lebih punya posisi yang selalu setia, meraup anak2x muda lewat
MTV dan serial Glee. Global berhasil bersaing dengan lawan utama mereka yaitu
ANTV yang belakangan justru masuk ke pasar keluarga dan melebarkan pasar anak
muda ke profesional. ANTV, justru menarik, tampil dengan warna-warni baru, live
Show, game show dan program andalan Penghuni Terakhir. ANTV bisa dibilang stabil
dan bisa bertahan diposisi rating ke 6 atau 7. Pesaing ANTV bukan Global atau
MNC, tapi Trans 7. Dan inilah yang memacu ANTV untuk terus berkreatifitas karena
Trans 7 mampu mempersembahkan karya2x yang lagi2x "out of the box". Kekuatan
ANTV masih pada tayangan Liga Sepakbola lokal, Seleb Ngamen dan program klasik,
Lensor atau Lensa Olah Raga.
Bagaimana dengan SCTV? Stasiun televisi yang gemar memberikan Award
pada
acara2xnya sendiri ini (SCTV AWARD), tahun 2010 adalah tahun SCTV dilanda Cinta.
Dan Cinta memang ada dimana-mana, lihat saja, ada "Cinta Fitri", ada "Cinta
Kita", "Cinta Gang", "Cinta Milik Siapa" dan yang paling heboh "Atas Nama
Cinta". Lewat nada-nada Cinta inilah SCTV masih terus merajai Soap Opera
Indonesia. Kalaupun berjudul lain seperti "Juragan Jengkol", "Islam KTP" atau
"Janji Juki", tetap saja ada Cinta didalam hati. Tema Cinta ini pula yang
dipakai SCTV untuk mengangkat "Uya memang Kuya" dan "Cinta Juga Kuya". Dengan
modal sulap dan teknik Ilusi, Uya berhasil memberikan pilihan bagi penonton yang
bosan dengan politik dan gosip artis. Sementara, Liputan 6 masih tetap solid dan
diminati, walau sudah ada Metro TV dan TV One. Ini menarik, artinya,
kredibilitas Liputan 6 sangat kuat dan hanya bisa disaingi oleh program berita
klasik di RCTI, Seputar Indonesia.
TV One VS Metro TV? belum ada
pemenangnya. TV One memang terus menghadirkan
program2x ter-aktual dengan berita2x Gress lewat Apa Kabar Indonesia yang mampu
menghadirkan narasumber2x dari topik2x yang sedang hangat. TV One juga mempunyai
koresponden yang kuat dilapangan, yang siap menyajikan berita secara faktual dan
aktual. Tapi, Metro TV justru menghadirkan gaya berita yang berbeda. Hadirnya
"8Eleven", program majalah berita yang disajikan dengan santai dan mempunyai
rubrikasi rutin justru menjadi alternatif bagi penonton yang bosan dengan
aktualisasi, gosip dan program anak2x. Metro juga banyak mengandalkan Talk-Show
modern lewat Oprah Winfrey Show, Just Alvin dan Kick Andy. Metro menjadi lebih
personal, sementara TV One menjadi lebih "hard news" tv.
Dan di tahun 2010, televisi yang kehilangan daya cengkram kreatifitas adalah
Indosiar. Walau masih berada diantara lima peringkat utama televisi, Indosiar
terlihat goyah dan ter-antuk-antuk.
Hampir semua format televisi yang digelar,
cenderung menjadi "serupa tapi tak sama" dengan stasiun tv lain. Dilayar
sinetron, Indosiar seperti kehilangan arah, apalagi sempat menampilkan sinetron
Superboy yang jauh diluar logika manusia. Tapi, Indosiar ini pemain senior,
gebrakan pertama yang dilakukan di tahun 2011? Cinta Fitri sesi 7 ada di
Indosiar. Sementara kuis 1 lawan 100 yang sukses di Amerika, pasti akan
menaikkan kembali pamor Indosiar.
Wah... tidak terasam panjang juga menulis diatas, tapi itu semua adalah
Flashback di 2010. Saat otak tua ini kembali berpikir analisa televisi di 2011?
tiba2x "blank"! Bablas! Kenapa begitu sulit? ternyata jawabannya cuma satu.
Tahun 2011 ini kelihatannya acara2x televisi masih saja "serupa tapi tak sama".
Apalagi, para bintang, host, musisi, artis, selebriti yang tampil ya itu2x saja.
Sulit untuk mencari diferensiasi dalam "Brand", karena pembawa dan pengisi acara
ya
dari itu ke itu saja. Dan ini yang membedakan ratusan channel televisi di
Amerika, walau format "serupa tapi tak sama", namun Brand acara dibangun lewat
personality dari bintang pembawa acaranya. Itulah mengapa nama2x seperti Oprah
Winfrey, David Letterman, Jay Leno, Larry King, Barbara Walters, Howie Mandel
dan Ryan Seacrest tetap menjadi idola sepanjang masa (bukan musiman). Itulah
mengapa Bob Baker bisa menjadi Host acara "The Price is Right" selama lebih dari
30 tahun, karena Bob hanya menjadi Host diacara ini. Bila ada acara lain, Bob
hanya menjadi bintang tamu atau special Host. Inilah yang dilakukan oleh Dirk
Clark yang selalu menjadi host di acara New Year Eve special. Belakangan Dirk
kenal Stroke dan posisinya digantikan oleh Ryan Seacrest. Ryan sendiri hanya
menjadi host di American Idol dan E Entertainment....
Jadi 2011? Wajah acara televisi kita masih getuk tular. Masih "serupa tapi tak
sama". Hanya
saja ada televisi yang serupa tapi berwajah rupawan dan cantik,
yang lain serupa tapi berwajah lucu dan menyeramkan... ah tinggal pilih saja,
wajah mana yang suka...
dari bung naratama
Aksi Limbad menarik Truk 10 ton
Selain keinginan yang kuat dan latihan, Limbad memang melakukan persiapan khusus, termasuk menghimpun kekuatan fisik.
Di penghujung tahun 2011, Limbad mewujudkan keinginannya untuk menarik truk berbobot 10 ton. Aksi tersebut dilakukan secara marathon dari Senayan, menuju Bundaran HI, lalu dilanjutkan ke Museum Nasional, dan berakhir di RCTI Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Menurut sang istri, Susi, Master Limbad memang melakukan persiapan khusus untuk atraksi Mahakarya Publicity Stunt 'Truck-A-Thon' tersebut.
"Biasanya, Mas Limbad tidur jam 2 malam. Tapi untuk atraksi tahun baru ini, selama sepekan Mas Limbad tidur jam 10 malam dan sebelum tidur Mas Limbad makan telur ayam kampung mentah empat butir," papar Susi ditemui di RCTI, Jumat (31/12/2010) malam.
Oh, ternyata rahasia Limbad makan telur ayam kampung mentah empat butir. Selain itu, makanan Limbad juga dijaga.
"Saya menyiapkan makanan tidak pedas. Takutnya saat perform mules. Ini kan tantangan sangat besar," tambahnya.
Kata Susi, Limbad juga tidak merokok. Menarik truk di jalan raya langsung dan di tempat umum, memang butuh tenaga ekstra.
"Latihan untuk adaptasi tiga kali saja sebelum perform hari ini. Latihan sekali untuk evaluasi itu di Tangerang, di daerah Tiga Raksa," paparnya.
Susi bersyukur kondisi Limbad tetap sehat usai melakukan aksi tarik truk 10 ton. Limbad juga terus mengonsumsi vitamin yang dipersiapkan demi performanya.
"Kepalanya baik-baik saja, masih fit. Mungkin terasa capek setelah di rumah nanti. Sekarang beban saya sedikit tenang, setelah Mas Limbad sampai di RCTI," tandasnya.
Limbad tiba di RCTI sekira pukul 18.45 WIB. Acara tersebut pun disiarkan langsung oleh RCTI tadi malam, dalam rangkaian acara tutup tahun 2010.
Di penghujung tahun 2011, Limbad mewujudkan keinginannya untuk menarik truk berbobot 10 ton. Aksi tersebut dilakukan secara marathon dari Senayan, menuju Bundaran HI, lalu dilanjutkan ke Museum Nasional, dan berakhir di RCTI Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Menurut sang istri, Susi, Master Limbad memang melakukan persiapan khusus untuk atraksi Mahakarya Publicity Stunt 'Truck-A-Thon' tersebut.
"Biasanya, Mas Limbad tidur jam 2 malam. Tapi untuk atraksi tahun baru ini, selama sepekan Mas Limbad tidur jam 10 malam dan sebelum tidur Mas Limbad makan telur ayam kampung mentah empat butir," papar Susi ditemui di RCTI, Jumat (31/12/2010) malam.
Oh, ternyata rahasia Limbad makan telur ayam kampung mentah empat butir. Selain itu, makanan Limbad juga dijaga.
"Saya menyiapkan makanan tidak pedas. Takutnya saat perform mules. Ini kan tantangan sangat besar," tambahnya.
Kata Susi, Limbad juga tidak merokok. Menarik truk di jalan raya langsung dan di tempat umum, memang butuh tenaga ekstra.
"Latihan untuk adaptasi tiga kali saja sebelum perform hari ini. Latihan sekali untuk evaluasi itu di Tangerang, di daerah Tiga Raksa," paparnya.
Susi bersyukur kondisi Limbad tetap sehat usai melakukan aksi tarik truk 10 ton. Limbad juga terus mengonsumsi vitamin yang dipersiapkan demi performanya.
"Kepalanya baik-baik saja, masih fit. Mungkin terasa capek setelah di rumah nanti. Sekarang beban saya sedikit tenang, setelah Mas Limbad sampai di RCTI," tandasnya.
Limbad tiba di RCTI sekira pukul 18.45 WIB. Acara tersebut pun disiarkan langsung oleh RCTI tadi malam, dalam rangkaian acara tutup tahun 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)